Hantu

134 23 1
                                        

Katanya, hantu itu tidak ada. Dan sebagai orang yang sering keluar malam tapi tak pernah mengalami kejadian dengan para makhluk halus, Dazai sendiri tidak terlalu mempercayainya. Namun, yang dia lihat sekarang membuat semua indranya lumpuh total. Dazai tak bisa bergerak; tak bisa merasakan realitas lagi.

Apakah dia sedang bermimpi? Namun mimpi pun rasanya tak pernah senyata ini.

Di depannya ada sesosok hantu; pria berambut putih yang mengenakan jubah usang dan membawa sebuah senapan model lama.

"Komandan Mimic, Gide?" Dazai bertanya.

Dia mati rasa. Dari sekian banyak orang mati, kenapa harus sosok ini? Rasanya akan jauh lebih baik kalau dia dihantui oleh orang-orang yang pernah dia bunuh tanpa dia ingat muka maupun namanya. Mereka bisa saja menghantuinya. Namun kenapa harus orang ini sekarang? Apa salah Dazai padanya?

Ah, kalau ada ... justru Gide-lah yang berdosa karena sudah merebut satu-satunya teman paling berharga yang Dazai miliki.

"Ah, apa di momen ini, aku harus balas dendam?" Dazai menggenggam sebuah pistol sekarang.

Namun dia tidak merasa memiliki dendam; dia bahkan tidak memiliki keinginan untuk membunuhnya Gide. Tidak, tidak ada lagi. Semua sudah habis; sudah larut bersama gelap malam yang datang setelah petang berdarah itu. Dazai benar-benar mati rasa sekarang. Walau lukanya dikorek kembali, satu-satunya hal yang akan orang dapati di dalam hatinya sekarang adalah ... sesosok anak kecil tak berdaya yang sedang menangis, menjerit sambil memeluk sebuah jaket berwarna krem.

Kalau ditanya apa yang mau dia lakukan kalau bertemu dengan Gide ....

"Hei."

Dazai menghampiri pria itu, ujung mantel cokelat pasirnya menari diterpa angin. Gide mendongak; dan Dazai tersenyum sambil mengulurkan pistol yang dia bawa.

"Bunuh aku ... seperti kau membunuhnya. Tolong."

BSD (Bungou Sengklek Dogs)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang