Another You

652 90 6
                                        

Kejeniusan dan prestasi tidak bisa membeli kebahagiaan, tidak bisa menjamin semangat, dan yang paling penting ... tidak bisa menentukan alasan hidup seseorang.

Saat mengenalnya, aku mempelajari hal itu.

❄️

Malam.

Aku menatap langit sambil mencuri pandang ke arah pemuda yang melakukan hal sama. Sebelah iris cokelat kemerahan menatap lekat pada rasi bintang yang berserakan di atas kanvas hitam yang menaungi Yokohama.

Jangan tanyakan apa yang terjadi pada mata kanannya, hingga harus terus dibalut dengan perban, tetapi dengan pekerjaan seperti ini, wajar baginya untuk mendapatkan banyak luka.

Ya, begitu banyak luka.

Mataku sekali lagi terpaku pada kasa putih yang membalut lengan dan menyembul dari kerah kemeja. Sebanyak itu luka yang dia dapatkan? Inikah imbalan dari pekerjaan hebatnya yang masih membuatku tercengang?

Setengah dari keuntungan Port Mafia, organisasi yang menguasai dunia bawah Yokohama, bisa dikaitkan dengan orang ini. Eksekutif termuda dalam sejarah Port Mafia, si tangan kanan Bos, Dazai Osamu. Orang yang---sejujurnya---hampir tidak terlihat seperti seorang mafia, kecuali pakaiannya.

Mata ini beralih pada jas hitam panjang yang Dazai-dono letakkan dengan asal di tanah. Kami sedang duduk di tepi pelabuhan, menikmati debur ombak dan aroma asin yang terbawa angin.

Dazai-dono tidak mengatakan apapun sejak menarikku ke sini, irisnya terpaku pada lautan, mungkin sedang merencanakan plot bunuh diri yang bisa segera mengakhiri nyawanya tanpa rasa sakit.

Itulah yang selalu ada dalam benakku. Kenapa orang ini, orang yang sudah mendapat kesuksesan sejak masa remajanya, bersikeras untuk mengakhiri hidup? Apakah hidup ini sangat membosankan, sampai dia tidak tahan?

Dazai-dono bisa saja menembak kepalanya sendiri, atau meminta salah satu bawahan untuk melakukannya. Namun, dia tidak pernah. Kenapa? Bukankah dia ingin mati?

Saat pertanyaan-pertanyaan itu terus mendesak, profil sampingnya yang memandang kosong pada lautan membuatku terpaku.

Apa yang tengah dia pikirkan?

"Misi berikutnya, kalau bisa aku serahkan padamu saja," gumam Dazai-dono.

Kenapa hidup bisa tidak berarti baginya?

"Jangan bercanda denganku, Dazai-dono. Misi selanjutnya adalah hal yang penting. Hanya Anda yang bisa menyelesaikannya." Aku tersenyum masam saat melihat ekspresi jahil Dazai-dono mengendap di permukaan.

Itu rahasia umum, tetapi pemuda ini bisa terlihat seperti dua orang yang berbeda, bahkan dalam satu waktu. Kadang aku berpikir apa dia memiliki saudara kembar. Namun, saat ini dapat dipastikan bahwa itu tidak benar. Karena ....

"Heh~? Padahal itu hanya memeriksa musuh!" Dia mendengkus, menghela napas dengan kasar, dan melihat jauh pada lautan biru gelap. Ekspresinya segera berubah. "Aku penasaran apa mereka bisa membunuhku," gumamnya dengan nada gelap.

Orang inilah yang membuatku merinding tiap kali membicarakan sesuatu dengan serius. Seolah ada pemikiran mendalam dalam tiap langkah yang dibuatnya. Plot besar yang selalu dia susun secara tenang---dari balik bayangan.

Apa itu? Aku bertanya-tanya.

"Ha-hal seperti itu ...." Aku mencicit tanpa sadar.

"Aku hanya mengatur agar mereka bisa membunuhku sebagai prioritas keberhasilan misi kali ini! Lagi." Dazai-dono berkata seolah membaca pikiranku. "Setidaknya mereka bisa membawaku menuju kematian yang indah. Kehidupan ini begitu membosankan," ujarnya tanpa intonasi.

BSD (Bungou Sengklek Dogs)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang