The Last Moment

289 43 17
                                        

Pertarungan telah berakhir. Tersisa hanya cahaya dari mentari pagi, dan ulasan yang bukanlah sebuah senyuman di wajah ketiga orang berbeda tinggi badan. Sementara itu, sebuah sunggingan lembut justru terukir dari pria yang kini tengah terbaring lemas.

Mereka semua babak belur. Akan tetapi ... pria kurus yang kini hanya terbaring dengan tubuh bersimbah darah ... pria paling lemah di antara mereka yang seharusnya hanya menjadi 'otak' dari pertarungan, justru mengalami luka yang paling serius.

"Sepertinya ... ini saat yang bagus, bukan?" Sepasang manik sewarna tanah menatap kedua orang anak yatim yang telah dan pernah dirawatnya.

Akutagawa Ryuunosuke dan Nakajima Atsushi menahan tangis. Tidak! Mereka tidak boleh meneteskan air mata ... saat orang yang hendak mereka tangisi justru menyunggingkan sebuah senyuman lembut, bukan?

Senyum lembut yang amat sangat tulus. Senyuman yang sama sekali tidak sesuai dengan citra seorang Dazai Osamu.

"Kalian benar-benar telah menjadi semakin kuat ... Atsushi-kun," ujar Dazai dengan suara lemah, menatap si pemuda berambut perak yang kini terlihat hampir menangis. Kemudian, ia mengalihkan pandangan pada Akutagawa, masih dengan senyuman tulus yang sama indahnya. "Kamu juga ... Akutagawa-kun. Selamat, ya."

"Dazai-san ...."

Kedua pemuda itu terkesiap, tak tahu harus berkata apa. Pasalnya, orang yang paling mereka hormati, kini terlihat sangat payah. Darah mengaliri sisi-sisi bibir pucat sang detektif, selain luka gores yang ada di sekujur tubuh. Belum lagi luka di bagian perut dan kakinya ....

Lantas, sang maniak bunuh diri mengalihkan tatap pada mantan partnernya yang kini berdiri sambil menoleh ke samping. Terlihat jelas bahwa pria chibi itu tengah menyembunyikan perasaannya.

"Chuuya," panggil Dazai, lirih.

"Diam kau, Dazai sialan!"

Dazai terkekeh. Bahkan, dalam situasi seperti ini pun, Chuuya masih saja memanggilnya 'sialan'. Chuuya tetaplah Chuuya, bukan? Tsundere tingkat akut.

"Tapi aku mau--"

"Kubilang diam! Diam dan biarkan dirimu yang sialan itu beristirahat! Jemputan akan segera datang, pastikan kau masih bertahan sampai saat itu karena kami bertiga tidak sanggup lagi harus menggendonmu seperti bayi, Detektif bodoh!"

Sekali lagi, ucapan Chuuya berhasil membuat Dazai terkekeh. Dibantu Atsushi, dia duduk lebih tegak, memandang bagian bawah tubuhnya ... yang dipenuhi warna merah.

Kaki kanannya, ia yakin itu hancur. Entah apalagi yang terjadi karena tubuhnya telah mati rasa. Bahkan, ujung-ujung jemari sang detektif pun mulai terasa dingin. Dadanya terasa sakit ....

Apakah akhirnya, Dewa Kematian bersedia menjemput nyawanya?

"Dazai-san! Kumohon bertahanlah!" pekik Atsushi.

Dazai memandang wajah kedua anak asuhnya, mereka tampak menahan tangis. Seperti wajah anak kecil yang sedang berusaha keras untuk tidak menangis. Entah kenapa ... itu mengingatkannya pada dirinya sendiri.

"Jangan menangisiku seperti itu ...," bisiknya. "Lihatlah, Chibikko-kun yang di sana itu saja masih terlihat ingin memukuliku."

"Suara menyedihkanmu membuatku ingin muntah, jadi diamlah, sialan!" sahut Chuuya.

Sang mafia sudah tak peduli lagi pada panggilan yang Dazai berikan kepadanya. Perhatiannya ... kini teralih pada luka fatal yang Dazai derita ... karena kelalaiannya. 

Dazai sekali lagi terkekeh. Dia sudah tidak bisa ... tubuhnya benar-benar menyuruhnya untuk menyerah. Ini berbeda dari saat pisau milik Shibusawa merobek punggungnya dua tahun lalu. Ini berbeda dari rasa racun waktu itu ....

"Sial ... sayang sekali pada akhirnya aku tidak bisa mati bersama seorang wanita cantik ...," kekehnya dengan senyum yang menyedihkan.

Tidak ada satu pun yang membalas, masing-masing tengah sibuk dengan pikiran mereka sendiri, bergumul dengan ego yang mengatakan bahwa mereka harus menyelamatkan Dazai Osamu apa pun yang terjadi. Namun, wajah tenang dan senyum lembut pria itu menghalangi mereka bertiga.

"Kurasa ini 'selamat tinggal', bukan?" Dazai tersenyum, memandang ketiga orang 'rekan kerjanya'.

"Bodoh! Kau akan hidup, sialan! Tunggu sampai aku menyelamatkan nyawa sialanmu itu seperti yang selalu aku lakukan selama ini!" Chuuya menyalak, melotot pada Dazai. Namun, ekspresi sang mantan partner membuatnya benar-benar bungkam.

Karena saat itu juga ia sadar ... bahwa Dazai ... sudah 'tidak bisa diselamatkan'.

"Ah, aku mengerti." Chuuya berbisik. Mengangguk meskipun tak rela. Tubuhnya sendiri pun babak belur sampai rasanya tak sanggup berjalan.

"Dazai-san ...." Atsushi mulai terisak. Lagi. Sekali lagi dirinya merasakan kehilangan sosok seorang ... ayah. Sosok yang sangat berarti, yang telah menyelamatkan hidupnya.

Bukan. Bukan hanya Atsushi yang menduka. Bahkan, sang anjing hitam Port Mafia yang biasanya kejam tanpa emosi pun diam-diam meneteskan air mata.

"Dazai-san! Aku tidak akan mengizinkanmu--"

Hilang.

Suara, pemandangan, semuanya mulai memudar. Ia hanya bisa merasakan sakit kala kematian yang selama ini selalu dicarinya merogoh ke dalam jiwanya ... merenggut paksa apa yang selama ini bersemayam dalam raga berbalut kasa putih tersebut.

"Apakah aku berhasil ... Odasaku? Apakah ... aku ... sudah membuatmu bangga ...?" Pertanyaan itu bahkan tidak didengar oleh angin. Suaranya hilang bersamaan dengan embusan napas terakhir. Sakit yang mencekiknya perlahan ikut memudar. Bersama kesadaran, yang dibawa terbang ke alam lain. Pergi untuk selama-lamanya.

[]

Nyesek? Apalagi saya yang nulis ... dan MIMPIIN ADEGAN INI JELAS BANGET! ಥ‿ಥ

Iya, aku juga bingung kenapa ... padahal sebelum tidur gak mikirin apa-apa. Dan kau tau perasaanku pas bangun tidur? Hancur. ಥ‿ಥ

Well, jadi aku gak mau nge-galau sendirian ... dan sayang soalnya ceritanya bagus ... walau merasa agak jahat .... Hihii~

Ja ne~

BSD (Bungou Sengklek Dogs)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang