Langkah kaki yang beradu dengan lantai beton terdengar seantero ruang bawah tanah. Pemuda itu menaiki tangga, berjalan dalam hening, tak memedulikan beberapa orang bawahan yang memberinya salam hormat.
Dazai. Dazai Osamu, remaja belasan tahun yang baru diangkat menjadi seorang eksekutif. Memimpin sebuah pasukan khusus di bawah perintah langsung bos, kini dia bagaikan legenda berjalan. Julukan 'eksekutif termuda dalam sejarah' pun tersemat tanpa persetujuan dari si empunya nama, mulai menggantikan 'Revenant Gelap dari Port Mafia' yang sebelumnya juga terpatri di belakang nama Dazai.
"Oi, kuso Dazai! Kau sebaiknya benar-benar mendengarkanku atau aku akan membunuhmu saat ini juga!"
Remaja itu mengembuskan napas kasar, mendengkus. Dia sama sekali tidak tertarik pada gelar atau jabatan, tidak juga pada prestasinya yang luar biasa. Dazai belum mendapatkan apa yang paling dia inginkan---alasan untuk hidup, sebuah alasan yang mungkin akan membuatnya mengerti arti dari bertahan hidup. Membuatnya paham akan sifat manusia. Mengisi kegelapan total dalam hatinya.
"Chuuya, kamu berisik."
Dazai menatap dunia bagai lautan mimpi buruk. Membosankan, tidak berwarna, dan mengerikan. Namun, dia terus berusaha memahami apa arti dari hidup sebagai seorang manusia. Bagaimana cara yang benar untuk menjadi bagian dari mereka?
"TEME!"
Kemanusiaan ... hal yang seharusnya tidak dimiliki oleh rekan menyebalkannya yang satu itu.
"Jangan berteriak terus, telingaku sakit!"
Hal paling menjijikkan yang telah dia sadari adalah ... Chuuya bahkan jauh lebih manusiawi daripada dirinya sendiri.
"Itu karena kau terus mengabaikanku, dasar bajingan sialan!"
Monster, objek percobaan. Harusnya ... Chuuya itu bukan manusia. Bukan manusia seutuhnya.
"Ocehanmu itu membosankan!"
"Siapa yang kau sebut membosankan, hah?! Justru bajingan tengik seperti kau yang hanya memikirkan cara untuk mati adalah orang paling busuk! Kenapa kau tidak menembakkan pistol itu ke kepalamu jika ingin mati, hah?!" Chuuya berteriak geram sambil menunjuk pistol dalam genggaman Dazai.
Mengikuti arah telunjuk mafioso mungil berbaju hitam itu, Dazai menggumamkan 'ah, benar juga!' seakan baru mengingat bahwa sejak tadi dia memegang sebuah pistol. .
"Terima kasih sarannya," ujar pemuda berambut cokelat itu, lantas mengarahkan moncong pistol ke kepalanya sendiri.
Tingkah Dazai membuat Chuuya menyadari kesalahannya. Detik berikutnya pistol hitam itu telah terbang dan mendarat beberapa meter dari mereka. Chuuya mengembuskan napas lega. Dia menatap Dazai dengan murka.
"Siapa yang menyuruhmu mati di sini?! Kita punya misi penting setelah ini! Setidaknya tahanlah dirimu untuk tidak mati sebelum misi selesai!" Remaja bersurai senja itu memelototi Dazai.
"Tadi Chuuya yang menyuruhku!" Dazai mendengkus. Dia berbalik, meninggalkan lorong dengan langkah gontai, seolah tak lagi tertarik pada opsi bunuh diri menggunakan pistol, juga pada rekannya, si remaja bersurai api yang kini berteriak setengah frustrasi.
[]
KAMU SEDANG MEMBACA
BSD (Bungou Sengklek Dogs)
FanficOneshots Berisi cerita angst; misteri; comedy; romance; chara x OC, random ship---pokoknya tergantung mood author-nya yang agak absurd. Masing-masing chapter berdiri sendiri. ______________ Bungou Stray Dogs © Asagiri Kafka & Harukawa_35
