Shin Soukoku - A fight

457 59 8
                                        

"Jinko."

Sudah berapa kali mereka bertemu? Entahlah.

Takdir memang tidak bisa diprediksi dan kadang membuat depresi. Bahkan, terkadang kau bisa melihat ekspresi kaget tergambar di wajah Dazai Osamu. Sungguh langka, bukan?

"Akutagawa."

Mereka berdua saling menggeram. Dua 'anjing liar' yang kembali dipertemukan dalam sebuah tempat kotor.

Jubah hitam milik sang mafia mulai terdistorsi warna merah. Menari, membentuk pedang seekor binatang buas yang sanggup memangsa segalanya. Sementara itu, cahaya kebiruan mengelilingi lengan dan kaki si anggota detektif.

"Tak kusangka akan bertemu denganmu di sini ...." Atsushi menggunakan nada dingin yang tak biasa.

"Ah. Aku pun tidak pernah menyangka pertemuan kita selanjutnya begitu dekat." Suara batuk yang menyakitkan mengiri pernyataan barusan. Mereka sudah saling bertatapan.

Akutagawa memicing. Kenapa Dazai-san lebih memilih dan mengakui bocah lemah ini dibanding dirinya? Apa kelebihan Atsushi yang tidak dia miliki?

Pertanyaan itu tidak pernah mampu ia suarakan. Mungkin belum. Yang jelas ... ia tidak akan menyerah agar suatu hari orang itu mengakuinya ....

Benar juga. Bahkan orang itu yang sudah lama mengkhianati mafia, kenapa ia masih saja mengejar pengakuan dari Dazai?

"RASHOUMON!" Menolak ribuan pertanyaan yang bergolak dalam hatinya, si Anak Naga melancarkan serangan mematikan yang sanggup dihindari oleh Atsushi.

Memangnya sudah berapa kali mereka saling bunuh? Serangan mudah seperti tadi, takkan sanggup melukai sang lawan. Itu hanyalah sapaan antara satu sama lain.

"Gekka-ju!" Lengan dan kaki Atsushi bertransformasi menjadi bentuk harimau putih yang dikelilingi cahaya indah kebiruan.

Memangnya kenapa kalau dia ingin menjadi lebih berguna? Tidak ada yang bisa melarangnya ... bahkan pengurus panti sekalipun.

Lagilula, apa alasan Akutagawa menaruh dendam kesumat padanya? Kenapa tatapan minim alis itu selalu diwarnai kebencian?

"JINKO!"

"AAKUUTAAAGAAWAAA!"

🍁

"Oi, Jinko."

Entah di mana mereka saat itu. Sebuah tempat serba putih yang dikelilingi lily laba-laba. Bunga yang melambangkan kematian.

Apa ini adalah alam lain?

"Setelah ini aku akan membunuhmu." Akutagawa masih terduduk dengan tatapan tajam memicing.

"Ah. Setelah tenagaku pulih ...." Atsushi membalasnya sengit.

Sayangnya dua tubuh itu terlalu lemah untuk bergerak. Kalau saja mereka punya sedikit kekuatan, entah apalagi yang akan terjadi.

"Kenapa kau begitu membenciku?" Tertunduk, tanpa sadar Atsushi berucap seperti itu.

Akutagawa tertegun. Apa yang harus ia katakan?

"... karena aku lemah?"

"Karena orang itu mengakuimu dengan mudahnya." Detik berikutnya, Akutagawa berdecih. Kenapa lidahnya jadi lebih jujur?

" 'Orang itu'?" Atsushi segera mengalihkan seluruh atensi pada sang rival yang terduduk tidak jauh darinya.

Akutagawa yang sudah sekuat ini ... apalagi yang ia cari? Apa yang ingin ia capai? Siapa ... orang yang membuatnya membenci Atsushi?

"Ah." Surai berbeda warna milik Akutagawa perlahan diterbangkan angin, "orang itu, yang sudah seenaknya mengkhianati Mafia. Dia yang meninggalkan misinya dan menghilang, lalu muncul sebagai musuh kami."

Bohong kalau Atsushi tidak mendengar kemarahan yang dalam dari ucapan itu. Namun, di saat yang sama, si Bocah Harimau juga mendengar hal lain. Sebuah kepedulian.

"Orang itu ... Dazai-san, mengatakan bahwa kau jauh lebih baik dariku."

"Dazai-san?" Atsushi membeo, kaget. Kenapa Akutagawa menyebut Dazai-san ... seniornya di tempat kerja, sekaligus orang yang sudah menyelamatkannya seolah mereka sudah lama saling mengenal?

"Ah."

Memaksa sel otaknya bekerja, pada akhirnya Atsushi kembali menghela napas. Entah apa yang dikatakan Anjing Hitam dari Mafia itu, fakta bahwa Akutagawa lebih kuat darinya takkan terbantahkan dengan mudah.

Kenapa orang sekuat Akutagawa rela mati demi mengejar sosok seperti Dazai?

"Kau sendiri, apa yang membuatmu melawanku?" Mata gelap itu memicing. "Apa yang membuatmu spesial di matanya?"

Apa? Atsushi bahkan tidak tahu. Selama ini, ia terus menganggap dirinya lemah. Sangat lemah sampai tidak bisa melindungi orang di sekitarnya.

"Apa kau pernah bertanya pada Dazai-san, apa yang ingin dia lihat darimu?" Atsushi bangkit. Tenaganya mulai pulih kembali.

Akutagawa terdiam. Apa yang kurang?! Selama ini ... ia selalu berhasil menjalankan misinya. Selalu--

Atsushi berbalik begitu melihat lawan bicaranya tersentak.

"Kalau Odasaku yang merawatmu, dia pasti takkan menyerah begitu saja padamu."

Kata-kata Dazai kembali memenuhi benaknya.

"Bawahan kami di mafia menganggap bahwa membunuh adalah satu-satunya jalan. Dasar! Kalau begini terus, Odasaku pasti akan mempunyai jalannya sendiri untuk menyelesaikan kasus ini."

Kata-kata yang begitu membakarnya.

"Akutagawa-kun, bahkan dalam seratus tahun, kau tidak akan bisa mengalahkannya."

Tubuh ringkih itu tersentak bangun. Tangannya terkepal. Memori itu kembali terputar.

"Kau pasti menungguku berkata, 'apa alasannya', kan? Maaf mengecewakanmu."

Dazai-san ... yang waktu itu masih terbalut kegelapan. Sebelah manik hazelnya memicing---mengintimidasi.

"Bawahan yang tidak berguna harus dibeginikan."

Tiga tembakan nyaring terdengar dalam kepalanya. Ia tidak mungkin melupakan tatapan dingin seniornya waktu itu.

"Jika melakukan kesalahan lagi, kupukul dua kali dan lima tembak. Mengerti?"

Apa? Apa kesalahannya waktu itu? Ia hanya ... membunuh.

"Akutagawa. Aku tidak yakin ini jawaban yang kau cari, tapi cobalah untuk menahan diri dari membunuh." Ucapan Atsushi membuatnya kembali pada dunia nyata---atau sebut saja begitu.

Sejak awal ....

"Kupikir ... sejak awal Dazai-san sudah mengakuimu."

"Jinko." Suara serak nan dalam itu membuat Atsushi menoleh. Akutagawa bangkit, mereka bertukar tatap.

"Ayo lanjutkan pertarungan kita," ujarnya penuh keyakinan.

"Baiklah."

Apakah ... jika ia membunuh si Manusia Harimau, Dazai-san akan mengakuinya? Masalah itu bisa dipikirkan nanti. Kini yang perlu ia lakukan adalah membuktikan bahwa kekuatan yang telah dilatih dengan susah payah ini lebih kuat dari milik Nakajima Atsushi.

Dua serangan ganas beradu, masing-masing mengingat ucapan lawannya pada percakapan damai barusan karena saat bangun dari mimpi, mereka takkan mengingat percakapan tadi.

Pasti.

[]

BSD (Bungou Sengklek Dogs)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang