Dimaafkan

178 30 6
                                        

Sakaguchi Ango pernah bermimpi ....

Beberapa tahun setelah peristiwa itu, ia berjalan tanpa tujuan sekadar menikmati suasana malam di kota. Namun, tanpa sadar langkahnya telah menuju sebuah gang yang amat familiar. Papan nama bertuliskan 'Lupin' dengan lampu retro redup menjadi satu-satunya tujuan si kacamata.

Ango menarik napasnya dalam-dalam, ia melangkah masuk menuruni undakan tangga. Bel pintu berbunyi dan memecah keheningan yang hanya berteman sebuah musik klasik. Langkahnya terhenti di depan kursi paling pinggir.

Seorang pria muda lainnya menoleh begitu suara bel tadi mencemari musik yang ia dengarkan saksama. Senyum tipisnya terukir saat mendapati siapa yang telah berani mengusik ketenangan tempat itu dengan langkah kaki gusar dan dua helaan napas.

"Oya, oya. Tidak kusangka agen pemerintah yang sangat sibuk sudi datang ke tempat ini," ujarnya. Pria muda bersurai cokelat itu menyapa tanpa beban seolah-olah mereka adalah sepasang orang asing.

Ango tidak menanggapi lebih jauh selain mengendik, lalu mengambil tempat duduk berjarak satu kursi dari si jangkung berambut gelap. Matanya memindai sudut-sudut bar yang persis sama seperti di masa lalu.

Mereka sama-sama terdiam, tidak ada yang berniat memulai pembicaraan. Membiarkan hanya alunan musik dan suara es batu yang bertemu dengan sisi gelas mengisi keheningan tempat itu. Waktu memang seolah-olah berhenti di sana, suasana klasik itu selalu mengingatkan mereka berdua akan satu kejadian pilu.

"Bagaimana kabarmu sekarang, Dazai-kun? Kudengar ada penambahan staf besar-besaran di tempatmu?" Ango menepikan rasa bersalahnya dan bertanya. Dia tidak bisa membiarkan keheningan canggung itu terus mengisi.

Sementara yang ditanya hanya diam, memainkan es batu dalam gelasnya tanpa terlihat berniat meminum cairan memabukkan itu barang sedikit.

Dazai Osamu menghela napas. Dia menggeleng sekali, lalu tersenyum masam. "Tidak ada lowongan lagi untuk staf berbakat. Maaf saja, tapi ... kami tidak berniat melakukan pekerjaan mata-mata yang merupakan keahlianmu."

Ango tertawa pelan, berusaha terlihat senatural mungkin dan mengabaikan tatapan menusuk Dazai yang sudah pasti terarah padanya.

"Sayang sekali kalau begitu." Dia menenggak minumannya.

Rasa pahit yang agak menusuk membuat Ango tersenyum kecut. Percakapannya tidak akan mengalir tajam begini kalau saja ... ah, dia jadi terlalu emosional saat ini.

Meletakkan gelas itu kembali di atas tatakan, Ango melepaskan kacamatanya. Berkata serius sambil memandang sepasang mata muda Dazai. "Dazai-kun. Apa kau--"

Perkataannya disela, Dazai telah mengangkat tangan tanda agar dia diam. Pria muda itu tersenyum sendu sambil terus menatap ke dalam mata Ango.

"Dilanjutkan pun, dia tidak akan pernah kembali. Masa lalu adalah masa lalu, aku ingin benar-benar melupakannya dan terbebas dari pikiran yang mengganggu ini," kata Dazai, tanpa bisa ditebak arah pembicaraannya.

"Kau benar." Ango yang pertama kali memalingkan wajah.

"Aku sudah memaafkanmu, kok, Ango~!" Dazai berujar dengan nada jenaka yang biasa dia pakai saat memanggil Ango di masa lalu.

Pria berkacamata itu sontak menoleh kaget, mendapati Dazai tersenyum tulus

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Pria berkacamata itu sontak menoleh kaget, mendapati Dazai tersenyum tulus. Entah kenapa, sesuatu dalam dadanya berdesir. Haru, lega, semua bercampur bersamaan dengan suara tembakan yang bergema dalam bar sempit itu.

Ango jatuh, darah mengalir dari dadanya. Namun, dia tetap tersenyum saat memandang teman yang telah dikhianatinya ....

Sakaguchi Ango membuka mata, mendapati dirinya berada di sebuah kamar rumah sakit; ada perban melintang di kepala dan kakinya mungkin patah. Itu adalah mimpi indah terburuk yang bisa dia dapatkan.

[]

BSD (Bungou Sengklek Dogs)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang