Seperti Nyata

304 53 8
                                        

Awan menaungi pelabuhan tempat kapal-kapal besar singgah dan membongkar muatan. Beberapa orang berpakaian hitam terlihat mengawasi bongkar muat yang sudah berlangsung selama dua jam.

Tak jauh dari sana, seorang remaja bertubuh kurus berdiri dalam diam, membiarkan angin laut menerbangkan surai dan jubah kelamnya saat suara lembut menyapa indera pendengaran.

"Hai, Akutagawa-kun~! Selamat siang, sedang bekerja? Kau rajin sekali!" Sapaan akrab membuat senyum setipis benar terbentuk di bibir remaja bernama Akutagawa Ryuunosuke.

"Sepertinya kau juga baru menyelesaikan pekerjaan, Dazai-san," balas Akutagawa, tak kalah ramah, pada atasan yang selama ini melatihnya.

Dazai Osamu mengangguk, menunjukkan dua kaleng soda di tangannya. "Mau minum? Kau pasti bekerja sangat keras lagi."

"Tentu."

Mereka menepi dari aktivitas yang sibuk, bersandar pada pagar pembatas sambil menenggak minuman masing-masing. Setelah perhitungan matang, Akutagawa menatap seniornya dengan serius.

"Dazai-san, jika kau tidak sibuk malam ini ... aku ingin menunjukkan hasil latihanku." Dia tidak berharap bahwa Dazai akan menyanggupinya saat itu juga. Lagipula, orang yang tengah bersantai dengannya ini sebenarnya punya lebih dari setumpuk pekerjaan yang belum diselesaikan---dia lebih dari sibuk.

"Tentu saja, aku menantikan setiap perkembanganmu~!" Dazai menepuk ringan bahu juniornya, "yah, kau selalu bertambah kuat saat aku tidak menyadarinya. Bukankah bersantai sedikit lebih baik?"

Raut wajah Akutagawa berubah serius. Tangannya terkepal tanpa sadar. "Aku harus terus bertambah kuat agar tidak mengecewakan Dazai-san. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri."

"Aku mengerti, Akutagawa-kun. Baiklah, malam ini, tunjukkan yang terbaik padaku, oke?" Dazai mengedipkan sebelah mata.

"Baik, akan kutunjukkan yang terbaik ...."

🍁

"... Dazai-san ...."

Pemuda yang kini menginjak usia dua puluh itu terbangun dari mimpi yang begitu indah. Menghela napas dalam, ia menatap gemintang dari jendela yang sengaja dibiarkan terbuka. Hatinya terasa sesak---mengetahui bahwa yang tadi bukanlah kenyataan.

Tangan terkepal erat, menggigit bibir bawah, Akutagawa bangkit dari pembaringan menuju ruang latihan. Tidak ada waktu untuk bersantai. Jika tidak ... Dazai-san tidak akan pernah mengakuinya.

[]

BSD (Bungou Sengklek Dogs)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang