Langit

258 49 3
                                        

Anak laki-laki itu terus menatap langit malam. Maniknya yang sekosong mayat berbenturan dengan cahaya bulan, memicing sebentar hanya untuk beralih tatap pada pemandangan lain selain gugusan bintang dan benda malam. Hanya embusan angin yang menemani sosok kurus itu menghabiskan hari. Ia menarik napas dalam-dalam, sekali lagi mengenyahkan pikiran untuk segera pergi menenggelamkan diri di Teluk Yokohama.

Mati tenggelam itu sakit. Dia benci rasa sakit.

Sosoknya terus berjalan dalam gelap. Satu iris hazel sesekali menatap jalanan kota yang masih diisi bermacam aktivitas. Haruskah ia menabrakkan diri pada truk atau mobil yang melintas dengan kecepatan tinggi? Namun, mati karena hal itu pasti terasa amat menyiksa.

Pass. Dia kembali melangkah.

Anak laki-laki tanpa hidup itu terhenti di depan sebuah klinik kusam yang berada di salah satu gang tempat para penghuni dunia bawah biasa berkunjung. Suara dua orang manusia yang tengah bertengkar menjadi pengiring saat langkah pincangnya memasuki ruangan.

"Dazai-kun? Ya ampun, apalagi yang kau lakukan?!" tanya seorang pria yang berpakaian seperti dokter---terlihat begitu panik.

Ia tidak menjawab, manik cokelat kemerahan berpindah dan menatap tangan kiri yang dialiri darah, begitu juga dengan pelipisnya yang sekarang berdenyut. Sakit dan nyeri mendekap si anak lelaki, tetapi ekspresinya tetap sekosong orang mati.

Dia hanya menggeleng, duduk di salah satu ranjang sambil sekali lagi memperhatikan lukanya, hasil dari kegagalannya kali ini.

"Aku mau dibuatkan sesuatu yang bisa membuatku cepat mati saja, Mori-san."

[]

BSD (Bungou Sengklek Dogs)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang