Memberi perhatian dan melewati batas yang Dazai tetapkan adalah dua hal berbeda yang mulai Atsushi pahami setelah beberapa lama bekerja di Agensi Detektif Bersenjata.
Atsushi pernah merasa para staf agak menelantarkan Dazai. Namun, sekarang dia mengerti bahwa Dazailah yang membangun penghalang tak kasat mata sehingga orang-orang segan untuk mendekat.
Tentu selalu ada pengecualian. Namun, orang-orang dalam pengecualian itu entah berada di mana saat ini.
Dazai mengerang dan Atsushi hanya bisa membantu sang senior membenarkan posisi kompres.
"Kurasa kita harus mengganti pakaiannya." Bocah harimau itu berdiri dari kursi. Setelah, lucunya, menguatkan tekad untuk mengatakan hal tersebut.
Yosano memiliki ekspresi sulit di wajahnya, sedangkan Kunikida sudah berdecak-decak.
Mau bagaimana lagi? Jika dibiarkan kondisi Dazai tidak akan membaik. Baju dan perban-perban sialan itu hanya akan membuat tubuhnya merasa kedinginan, lembab, dan tidak nyaman.
"A-aku yang akan bertanggung jawab!" Atsushi menelan ludah khawatir sembari melirik Dazai yang belum juga membuka mata. Jujur saja, jantungnya berdebar untuk alasan yang tidak dia ketahui.
Yosano menghela napas dan tertawa pelan. "Tidak perlu sampai seperti itu." Kemudian tatapannya beralih pada Dazai yang terbaring lemah. Senyum tipis yang entah kenapa terlihat agak sendu menghiasi bibir dokter muda nan cantik itu. Berjalan ke ranjang rawat, Yosano menepuk pundak Atsushi, "aku yakin dia akan menerima usaha tulusmu."
Kepercayaan diri si bocah harimau mulai bertumbuh. Dia mengangguk dengan seulas senyum cerah yang tampak bersemangat. Yosano lega. Setidaknya ada satu orang lagi yang mau menarik Dazai keluar dari temboknya---sesuatu yang belum berhasil mereka lakukan hingga saat ini.
Setelah lama mencoba, memang para staf menyerah dan hanya membiarkan Dazai berlaku sesuka hati. Namun, jauh di dalam, mereka juga menganggap lelaki muda eksentrik itu sebagai bagian dari keluarga besar Agensi Detektif. Dan tugas keluarga adalah saling membantu.
"Kalau begitu, aku serahkan pada kalian berdua~!" Yosano melambai pergi, "ada perban di lemari, kurasa cukup untuk melilit tubuhnya lagi saat selesai."
Dan begitulah, Atsushi serta Kunikida mulai menanggalkan pakaian lembab Dazai.
"Uwah ...." Atsushi tidak tahu harus berkomentar seperti apa setelah mereka selesai menanggalkan pakaian atas makhluk itu. Kunikida meletakkan kemeja dan rompi hitam Dazai di keranjang, sedangkan Atsushi memikirkan cara untuk melepas lilitan perban yang menutupi hampir seluruh kulit seniornya.
Tidak mungkin dia memakai cakar harimau, kan?
Kunikida menyodorkan sebuah gunting. "Perban menjijikkan itu harus dimusnahkan," katanya. Dengan wajah serius.
Atsushi mendekat, jantungnya berdebar lagi. Dia pernah penasaran akan apa yang ada di balik perban-perban Dazai; mungkin tato memalukan dari masa lalunya, atau bekas kusta, atau bekas luka yang yang jelek, atau ... dia tidak tahu. Saat berada di onsen dan berpikir bisa melihat kulit terbuka Dazai, nyatanya si bocah harimau dikecewakan karena sang senior berkelakar bahwa perban adalah lapisan kulitnya juga.
"Aku hanya perlu mengguntingnya," pikir Atsushi saat menarik lilitan yang agak kendur di dekat tulang selangkanya. Sementara Kunikida terus memperhatikan sambil berkacak pinggang. Bohong jika dia bilang tidak penasaran pada rupa Dazai tanpa perban.
"Atsushi-kun."
Sayangnya, belum sempat Atsushi menggunting lilitan perban itu, Dazai sudah membuka mata dan menahan tangan Atsushi.
Kaget, Atsushi hampir melempar gunting yang dia pegang, dan justru menggores pipi Dazai dengan ujung benda itu. Hanya goresan kecil yang tidak akan Dazai permasalahkan. Namun, Atsushi segera membungkuk dan meminta maaf berkali-kali pada sang senior, yang perlahan duduk sembari tersenyum canggung.
"Sudahlah, Atsushi-kun. Ini hanya goresan kecil," ujar Dazai pelan. Lalu, tatapannya beralih pada Kunikida yang sedari tadi diam memperhatikan. Tatapan itu seolah menuntut jawaban, seolah-olah berkata, "Apa yang Atsushi-kun lakukan dengan benda itu di dekatku?"
Kunikida tidak menjawab karena yakin si maniak bunuh diri itu sudah tahu jawaban persisnya. Dia mengambil pakaian ganti dan melemparkannya tepat ke wajah Dazai, berteriak, "Jangan membuat dirimu sakit dengan pakaian lepek itu!" Kemudian pergi dari ruangan.
Dazai menghela napas. Sekarang dia melirik Atsushi yang masih menyesali tindakannya. Untuk kesekian kalinya, Dazai dibuat bungkam oleh perlakuan tulis si bocah harimau.
Dia meraba luka di pipinya dan tersenyum tipis. "Kurasa aku akan berdandan seperti itu lagi." Dan hatinya mencelos saat terbayang suatu titik di masa lalu, saat dia masih memakai kapas dan plester luka di pipi.
Apakah dia juga harus melilit mata kanannya? Atau yang kiri? Dia meraba sebagian wajah, sesuatu yang basah berhulu di sudut matanya.
Dia tidak mungkin menangis.
___________🌜
Hey! Sori lama. Miss you, Reader. Jangan kapok nunggu, ya. Hehe. Nanti aku usahain up cepet lagi. Doain aja ... secepatnya. Tbh ini tanganku masih kaku---tulisannya jadi kek gak bernyawa, wkwk. Sori, yes.
Oke, see ya~♪
KAMU SEDANG MEMBACA
BSD (Bungou Sengklek Dogs)
FanfictionOneshots Berisi cerita angst; misteri; comedy; romance; chara x OC, random ship---pokoknya tergantung mood author-nya yang agak absurd. Masing-masing chapter berdiri sendiri. ______________ Bungou Stray Dogs © Asagiri Kafka & Harukawa_35
