Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Segalanya akan masuk akal saat kau mati."
Berkali-kali, Dazai mendengar suara itu dalam kepalanya. Entah siapa yang bicara---mungkin iblis penghasut manusia, tapi lebih mungkin lagi adalah versi dirinya yang lebih muda. Namun, siapa pun itu, Dazai selalu terbuai oleh iming-iming mendapatkan jawaban dari segenap pertanyaan yang menggumpal dalam kepalanya.
"Kau tahu kalau hidup itu tidak enak kan, Odasaku? Makanya kau memilih pergi ...." Lelaki muda itu terkekeh-kekeh sembari memandang batang rokok yang tersisa di antara jemarinya.
Kemudian dia meringis. Sesuatu dalam hatinya baru saja jatuh dan menyisakan rasa hangat.
Dazai menghela napas. Dia pandangi langit mendung sekali lagi---dua mata beriris cokelat itu kembali terlihat seperti sepasang luka terbuka di wajah busuknya. Sekali lagi, Dazai mengambil napas dalam-dalam, menghabiskan sisa rokoknya dan mengembuskan asap putih tipis dengan amat khidmat.
Dia mematikan benda terkutuk itu dan membuangnya ke pojok balkon. Bersama dengan asap yang surut, Dazai berharap duka dalam hati kecilnya pun ikut menyusut. []