Pemuda itu kembali mengerang dan terbatuk-batuk. Batuknya pun terdengar amat menyakitkan. Refleks ia memegangi pinggang kirinya yang tiga hari lalu terkena tembakan dari musuh---yang sekarang benar-benar sakit. Padahal, ia berharap dada kirinya saja yang tertembak.
Dia berbaring di tempat tidur malam itu berteman lampu yang agak redup. Kipas angin kecilnya sengaja dimatikan. Udara di luar begitu menggigit, sampai pemuda itu bisa mendengar gigi-giginya bergemeletuk menahan dingin.
Cahaya bulan enggan mengintip ke dalam kontainer bekas itu. Hanya tergantung di langit malam Yokohama.
Dazai Osamu merasakan matanya berair. Namun, itu bukanlah luapan emosi. Demamnya pasti lebih tinggi dari yang Dazai kira. Ia mulai merasakan tangan-tangan kematian yang kaku dan dingin memeluknya.
Apakah ini karena tadi sore dia nekat menceburkan diri ke teluk?
Dazai tidak peduli lagi. Dia memejamkan mata rapat-rapat, memeluk diri sendiri sambil menikmati sakitnya yang benar-benar tidak nyaman. Berharap Shinigami berbaik hati dan segera mencabut nyawanya saat itu juga.
Dia sempat berpikir untuk sekalian saja berbaring di luar, di tengah hujan salju yang menyelimuti malam di pertengahan Januari. Namun, sepertinya mati karena hipotermia adalah kematian yang menyakitkan. Dazai mengurungkan niatnya dan terus memeluk diri sendiri.
Saat pemilik surai kopi itu membuka mata lagi keesokan harinya, udara sama sekali tidak menjadi lebih bersahabat. Namun, sekarang cahaya matahari dengan rakus mengambil tempat dan merangsek masuk ke dalam kontainer kesayangannya.
Dazai mengerjap, samar dia lihat sesosok pria mungil yang berdiri di depan pintunya. Pemuda itu hanya bisa berdecih dan berusaha untuk bangun.
Dazai terhuyung, kepalanya amat pusing dan penglihatannya sekarang kabur. Dia yakin sedang berhalusinasi saat melihat Chuuya di depannya memakai kostum kepiting dengan hiasan kepala yang sangat lucu.
"Apa sekarang sedang pesta kostum, Chibikko-kun? Tapi seingatku ini bulan Januari ...." Dazai bergumam jahil saat menghampiri Chuuya.
Kepalanya terasa berat sampai pemuda itu harus bersandar pada dinding. Chuuya mengernyit. Dia makin yakin Dazai itu sebenarnya sudah gila.
Apa jangan-jangan anak ini sebenarnya mengidap skizofrenia?
"Apa kau sakit atau apa? Aku datang untuk menyeretmu keluar! Kau pikir sudah berapa hari kau bolos dan membuatku menjalani misi seorang diri, hah?! Mafia saat ini menghadapi konflik lanjutan dengan Takasekai, setidaknya tunjukkan sedikit dedikasi pada pekerjaanmu!" Chuuya mulai berceramah.
Dazai mengernyit. Memangnya berapa hari dia tidak datang? Bukankah baru kemarin ... tunggu.
"Kapan mafia memulai konflik?" tanya Dazai pelan. Kepalanya makin pusing saja.
Baiklah, kali ini Chuuya berhasil mengejutkannya. Anak itu harus diberi penghargaan khusus karena berhasil mengejutkan seorang Dazai Osamu.
Chuuya enggan menjawab, menyangka rekannya itu hanya sedang pura-pura hilang ingatan.
Dia menarik kasar tangan Dazai, menyeretnya keluar dari tempat pembuangan limbah yang amat busuk ini. Kalau bukan perintah langsung bos yang bahkan repot-repot memberitahunya alamat Dazai, pemuda bersurai senja itu juga tidak sudi.
"Dari mana Chuuya tahu rumahku?" protes Dazai. Cemberut seperti anak kecil yang dilarang menyentuh mainannya.
"Tidak penting!" Chuuya menghempaskan rekannya itu ke arah pintu mobil yang terbuka, berharap Dazai segera masuk dan duduk dengan tenang. Namun, yang terjadi malah hal tidak terduga.
Dazai terhuyung, dia jatuh dan mengerang sakit. Terbatuk-batuk dengan keras. Chuuya baru memperhatikan satu hal juga; kemeja putih Dazai yang agak lusuh kini dibasahi warna merah. Darah. Cairan itu makin merembes dari perban-perban kumal yang Dazai lilitkan di pinggangnya.
"Oi?!" Chuuya kaget, ia segera membantu Dazai duduk.
Matanya melebar saat mendapati suhu tubuh Dazai yang sangat tinggi. Pantas saja dia merasa lengan Dazai yang ditariknya tadi agak panas.
Dazai tidak mengeluh lebih panjang, dia cuma berkata pada Chuuya untuk membantunya naik ke mobil dan mereka akan segera berangkat untuk menjalani misi. Setelah itu, dia bisa istirahat dengan tenang.
"Tidak! Kita ke rumah sakit! Sekarang!" putus Chuuya dengan panik, sambil mengutuk rekan bodohnya berkali-kali.
[]
KAMU SEDANG MEMBACA
BSD (Bungou Sengklek Dogs)
FanfictionOneshots Berisi cerita angst; misteri; comedy; romance; chara x OC, random ship---pokoknya tergantung mood author-nya yang agak absurd. Masing-masing chapter berdiri sendiri. ______________ Bungou Stray Dogs © Asagiri Kafka & Harukawa_35
