Bolos Kerja

179 33 18
                                        

Kunikida menghela napas kasar. Sejak tadi dia harus menahan emosi karena hal-hal berjalan di luar rencana dan rekan kerjanya membolos di saat-saat penting.

Sekarang, di sinilah dia, di depan kamar apartemen milik Dazai yang tampaknya tidak terkunci.

"Oi, Dazai!" Tanpa mengetuk, Kunikida mendobrak pintu dengan kasar.

Dia mendengkus. Ruangan itu terlihat seperti tempat pembuangan sampah di matanya--- sangat berantakan. Kaleng-kaleng bekas dan botol alkohol berserakan. Dua plastik sampah menumpuk di salah satu sudutnya, ditambah dengan seonggok manusia penuh perban, terlelap damai di atas futon.

"Bangun, dasar pemalas! Kenapa kau membolos di saat penting begini, hah?!" Kunikida hampir menendang Dazai jika saja pria muda itu tidak membuka matanya lebih dulu dan melayangkan seulas senyum. Senyum yang membuat Kunikida diam terpaku.

"Ah, Kunikida-kun. Apa sudah pagi?" tanya suara pelan itu. Agak serak karena pemiliknya baru bangun tidur.

"Ini sudah siang!" Kunikida hampir meledak lagi. Dia menarik napas dalam-dalam, berusaha untuk tenang. "Daripada itu, kenapa kau pucat dan berantakan? Jangan katakan padaku kau habis mabuk semalam penuh karena wanita!"

Dazai tertawa pelan, tetapi dia masih tidur di atas futon. Tampak tidak ada niat untuk beranjak dari sana. Mengingatkan Kunikida pada Katai saja.

"Aku kasih ngantuk." Dazai tersenyum begitu manis, membuat Kunikida benar-benar ingin menendang wajahnya.

"Tidak ada alasan lagi!"

Dazai mendengkus. Sudah payah dia bangun dan bersiap ke tempat kerja sebelum Kunikida benar-benar menyeretnya. Sedangkan rekannya yang super rajin itu menunggu sambil membersihkan sedikit kekacauan di ruangan itu.

Kunikida memasukkan segala sampah ke dalam kantung. Hampir saja dia juga membuang buku berharga milik lelaki berambut cokelat itu kalau saja perhatiannya tidak teralih pada sapu tangan yang terselip di bawah bantal.

Lelaki pirang itu terdiam. Tanpa disadarinya Dazai telah kembali dari kamar mandi, sudah berganti pakaian. Kunikida menatap rekan kerjanya gamang. Bingung kenapa dia tidak cukup peka membaca situasi.

Apa sekarang dia harus menyalahkan diri sendiri?

"Ah ... sudah kuduga aku meninggalkannya di sana ...." Dazai mengerang jengkel. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat dia bersandar di dinding. Wajahnya tampak masam. 

"Kau ...." Kunikida menatap Dazai tak percaya, lalu beralih pada sapu tangan yang dia genggam. Sapu tangan milik Dazai Osamu yang dikotori darah segar.

[]

BSD (Bungou Sengklek Dogs)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang