Atsushi terkesiap bangun, angin asin menyambutnya yang terbaring di atas aspal. Remaja delapan belas tahun itu mengerang, rasa nyeri di sekujur tubuh seolah menyerangnya begitu membuka mata.
Dia berpikir untuk segera kembali ke kantor detektif saat dibuat heran dengan pemandangan kota yang tidak seperti biasanya. Bukan, bukannya tampak asing, kota itu sama seperti biasa. Hanya saja Atsushi merasa ada sesuatu yang berbeda. Remaja itu mengernyit, tetapi tidak bisa menemukan jawaban atas rasa penasarannya.
Langkah pelan yang penasaran itu terhenti di salah satu sudut pelabuhan---entah bagaimana dirinya bisa berada di sana. Dia dapat menyaksikan kapal-kapal besar di kejauhan, juga seorang anak ... mungkin remaja, duduk bersandar pada pagar pembatas.
Remaja yang mungkin seusia Atsushi itu berpostur ramping. Wajahnya tertutup helai-helai gelap, sementara semua fokusnya seolah tertuju pada video game, yang memperdengarkan secara samar suara pertarungan virtual.
Atsushi menelan ludahnya tanpa sadar, saat berniat mendekati si orang asing. Bocah harimau itu ragu, tetapi ia harus memastikan satu hal sekarang. Apakah ini benar-benar Yokohama yang dia kenal? Karena perasaan asing terus saja memerangkapnya sedari tadi, membuat Atsushi berpikir tengah ada seorang pengguna kemampuan asing yang mempengaruhi pikirannya.
"Ano ... permisi. Maaf mengganggu, bo-bolehkah aku menanyakan satu hal, Tuan ...." Si bocah harimau menjadi ragu, saat mendekati remaja asing tadi dan melihatnya begitu terhanyut dalam game.
Suara-suara pertarungan yang sengit terdengar lebih jelas sekarang. Atsushi berpikir itu mungkin menyenangkan, dia tidak ingin menganggu remaja yang kelihatannya merupakan otaku itu, kalau bisa. Namun, pakaian si orang asing tampak terlalu rapi untuk menjadi seorang pecandu game. Atmosfer di sekitarnya pun sangat berbeda.
"Hm?" Remaja asing itu menyahut, tanpa mengangkat penglihatannya dari layar video game, "tunggu sebentar, aku sedang dalam detik-detik yang menentukan ...."
Atsushi terdiam membeku setelah mendengar suara yang mengaliri tenggorokan si remaja asing. Sementara orang di depannya tetap serius bermain sambil sesekali mengangkat game itu dengan gestur yang tidak sabar. Jemarinya dengan lihat memencet tombol-tombol yang tak Atsushi mengerti.
"Oh! Akhirnya aku menang!" Dia bersorak saat suara kemenangan dapat terdengar. "Jadi, apa tadi, yang ingin kamu tanyakan padaku?"
Atsushi makin terkesiap saat remaja di depannya mengangkat wajah. Kini mereka sepenuhnya bertatapan dan dia seakan merasakan kembali kilat dingin yang tersembunyi dengan baik di balik sorot jenaka salah satu seniornya. Namun, iris cokelat kemerahan yang menatapnya saat ini seolah tak memiliki cahaya kehidupan sama sekali.
"Da--" Bocah harimau itu kembali menutup mulut, hampir saja dia keceplosan memanggil nama seniornya di Agensi Detektif.
" 'Da'?" Si remaja asing bertanya, memiringkan kepalanya ke samping dengan agak bingung.
"Ma-maksudku dango! Apakah Anda tahu di mana bisa mendapatkan dango di sekitar sini?" Atsushi gelagapan, dia tak tahu harus seperti apa. Yang jelas, kini dia sepenuhnya yakin bahwa orang di hadapannya adalah sang senior, Dazai Osamu dalam versi remaja.
Dazai muda tertawa pelan, seakan Atsushi merupakan bahan hiburan terbarunya. Membuat si surai perak bertambah yakin. Tawa itu ... dia memang benar-benar Dazai Osamu. Namun, kenapa?
"Kamu tidak akan menemukan tokonya di sini. Pergilah ke distrik perbelanjaan, aku yakin sopir taksi akan mengantarkanmu!" Jawaban darinya terdengar tulus, pun senyum yang tercetak di bibir itu.
Saat Atsushi membungkuk berterima kasih dan hendak berlalu, Dazai berbisik dengan nada yang amat dingin. "Tampaknya kamu kaget saat melihatku. Apa kita pernah saling kenal sebelumnya?"
Atsushi membeku sesaat. Namun, dia segera mengatur napas dan menggeleng. "Belum, hanya saja, Anda sangat mirip dengan kenalanku ...."
Remaja yang sebelah wajahnya dibalut perban itu mengangguk sekali, memegangi dagunya dengan sikap berpikir. Seringai tipis terbentuk saat dia bergumam, "Jadi begitu."
Atsushi menghela napas lega, tampaknya dia dibiarkan pergi. Jadi, dengan langkah terburu-buru si bocah harimau menuju sisi jalan. Berinteraksi dengan Dazai versi remaja tadi rasanya sungguh berbeda. Dia berharap segera mengetahui apa yang terjadi.
[]
KAMU SEDANG MEMBACA
BSD (Bungou Sengklek Dogs)
Fiksi PenggemarOne shoot(s) Berisi cerita angst; misteri; comedy; romance; chara x OC, random ship---pokoknya tergantung mood author-nya yang agak absurd. Masing-masing chapter berdiri sendiri. ______________ Bungou Stray Dogs © Asagiri Kafka & Harukawa_35
