Rindu

142 20 2
                                        

aku bicara padamu
lewat kata-kata dusta
tapi kau
malah menangkap semua
maksudku

"Senja itu indah, kan?" Dazai bicara pada dirinya sendiri, terkekeh-kekeh memperhatikan matahari tenggelam dari pinggir pelabuhan.

Mantelnya tergeletak di beton yang dingin. Saat tirai malam akhirnya jatuh, pemuda dua puluh tahun itu merebah, menatap langit dengan satu matanya yang mengintip dari balik helai-helai cokelat ikal.

Dazai sedang sendirian. Dadanya sesak, tapi ia hanya bisa tertawa---mengejek entah nasib atau dirinya sendiri.

"Kenapa kamu di sini? Orang-orang menunggumu."

Dazai menoleh dan mendapati bayangan seorang lelaki tinggi berambut kemerahan. Dia tersenyum. Tangannya menggapai udara kosong.

"Aku sedang rindu," candanya.

Sosok dalam bidang pandang Dazai mengernyit heran. "Pada siapa?" tanyanya sambil duduk di samping Dazai.

Si pemuda bangun dan duduk bersila. Sekali lagi dia tersenyum sembari memejamkan mata. Hatinya sedang hancur berkeping-keping, jadi siapa pun mungkin bisa tahu kalau senyumnya lebih palsu dari yang biasa dia perlihatkan.

"Tentu saja aku rindu pada Odasaku! Memangnya siapa lagi?" katanya sambil menundukkan kepala.

Hai, hai~ sorry kemarin aku ngilang (seperti biasa) 🥲 Besok mulai up yang request-an kalian kemarin, ya~

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hai, hai~ sorry kemarin aku ngilang (seperti biasa) 🥲 Besok mulai up yang request-an kalian kemarin, ya~

See you

BSD (Bungou Sengklek Dogs)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang