Terbangun

235 37 5
                                        

Warning! Spoiler alert~
____________________

Gang belakang itu begitu gelap. Mereka mengejar seorang penjahat. Memperhatikan kecepatan lari dan arah yang dituju, Dazai dengan mudah menyusulnya dengan memotong jalan. Bagaimanapun, gang-gang gelap di Yokohama pernah menjadi bagian dari hidupnya.

Terpojok, penjahat itu mengarahkannya pada jalan buntu, mengeluarkan pistol dan berbalik untuk mengancam. Saat itulah mata mereka bertemu, sebuah kejutan mengalir di wajah pria dengan jaket kulit lusuh dan janggut tipis yang belum dicukur. Manik tajamnya menyipit.

"Siapa kau?" tanya pria itu, terlihat waspada.

Dazai, yang berdiri santai meletakkan dua tangan dalam saku mantel panjangnya, tersenyum lembut sebelum berjalan mendekat tanpa peduli dengan ancaman pistol.

"Kurasa aku harus memperkenalkan diri sekali lagi. Namaku Dazai Osamu, anggota dari Armed Detective Agency." Dia menunduk dengan lembut sebelum melempar tatapan putus asa pada 'lawan' di depannya, sebuah kilat kesedihan benar-benar tersurat dari mata itu. "Aku tahu seharusnya kita tidak bertemu di sini ... Odasaku."

"Begitu, ya. Jadi kau benar-benar mendengarkanku ...." Pria itu, Oda Sakunosuke, meletakkan pistolnya dan menutup jarak antara keduanya. Ditatapnya pemuda yang kini telah beranjak dewasa, dengan lembut dia tersenyum sambil menepuk pundak Dazai. Kegembiraan terpancar jelas dari sepasang permata yang harusnya tak lagi memiliki sinar kehidupan.

Dazai mengangkat wajahnya, dengan gemetar mencoba menghalau duka yang mati-matian dia tahan selama empat tahun terakhir. "Odasaku, apakah aku ...."

"Aku bangga padamu, Dazai."

"Ah ...." Dazai menutupi wajah dengan telapaknya yang berbalut perban.

Mimpi itu berakhir. Senyum terakhir sang sahabat kini membayanginya seperti mimpi buruk. Namun, sang pemuda tidak lagi terlihat seperti anak kecil yang akan menangis.

Dia menjauhkan tangan itu, menatapnya dan mendapati hangat samar yang dulu terasa memuakkan. Pemilik surai cokelat ingat bahwa itu tangan yang sama yang dia gunakan untuk menopang tubuh Odasaku. Dia masih bisa merasakan hangat dari darah segar yang menempel di telapak tangannya waktu itu.

"Tch. Sepertinya aku masih belum bisa berbangga diri, Odasaku. Maaf, tapi tolong jangan datang ke mimpiku lagi sampai ini selesai ...." Dazai tersenyum. Senyuman yang hanya menyimpan luka, lantas berbisik pada diri sendiri, "aku bisa gila kalau kau lakukan."

Menghela napas, pemilik surai kopi menatap sel di depan, tempat seekor iblis memandang lurus ke arahnya dengan senyum tipis yang tanpa emosi. Dazai menegakkan badan, membalas dengan seringaian tanpa rasa takut.

"Jadi, permainan apa yang harus kita lakukan hari ini, Dostoyevsky?"

[]

BSD (Bungou Sengklek Dogs)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang