Langit Senja

285 43 1
                                        

Pemuda itu terduduk menikmati angin senja di pelabuhan. Menatap telapak pucat yang kini tidak tertutup sarung tangan hitam, lalu dikepalkan kuat-kuat seraya mengalihkan tatap pada ujung lautan. Satu helaan napas lolos dari mulutnya.

Sudah satu tahun sejak saat itu, tetapi terkadang ia merasa sedikit bagian dari dirinya terbawa untuk menikmati laut dalam kesendirian, hanya untuk menenangkan gejolak kecil di dalam dada.

Langit yang telah menyamai warna rambut si pemuda tampak begitu indah kala menemani sang raja siang untuk lengser dari takhta sementaranya. Sebentar lagi warna yang sama dengan pakaiannya akan menyelimuti kota. Lampu-lampu di sisi jalan mulai menyala seiring ufuk barat yang perlahan menelan cahaya.

Sepasang tangan lembut nan dingin merangkul leher pemuda bernama Nakahara Chuuya. Tersenyum tipis, dielusinya tangan itu, mencium, lantas membaui aroma khas dari parfum yang selalu dipakai si pemilik tangan. Ia tahu betul siapa yang ada di belakang punggungnya.

"Miyuki," panggilnya seraya menoleh, mendapati ulasan ceria di bibir gadis bernama Fujikaze Miyuki. Tidak dapat ia sangsikan bahwa gadis itu begitu cantik dalam balutan warna senja.

"Chuuya-kun, menatap laut lagi? Kau harus mengajakku lain kali," ujar si gadis seraya duduk di samping Chuuya, menyandarkan kepalanya pada bahu kokoh sang mafia.

Chuuya terkekeh, mengelusi surai gelap milik Miyuki, lantas mengalihkan tatapan dari sepasang lensa sewarna permata. "Aku tidak ingin mengganggumu."

"Chuuya-kun, kau tidak pernah menggangguku sama sekali. Jangan berpikir seperti itu." Gadis bertubuh mungil itu terlihat merajuk hingga Chuuya harus berpikir cara terbaik untuk membuatnya kembali biasa.

"Baiklah." Jawaban itu mengalir sebagai pilihan terakhir.

"Kau tidak hidup sendirian. Chuuya-kun adalah orang yang akan aku perjuangkan!"

Sekali lagi Chuuya terkekeh mendengar pernyataan berani itu. Ia ingat bagaimana pertemuan tidak biasa mereka setengah tahun lalu, ingat bagaimana ia tidak bisa melupakan wajah cantik itu walau sebentar, dan ingat ... bahwa perempuan ini mungkin salah satu alasan Chuuya masih bisa tersenyum santai saat resah membalut hatinya.

Chuuya memukul pelan kepala gadisnya. "Aku yang seharusnya bilang seperti itu, baka."

[]

BSD (Bungou Sengklek Dogs)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang