Awakened

205 27 6
                                        

Dia baru saja membuka mata, mendapati suasana asing yang 'tidak seperti di Yokohama'. Memperhatikan sekelilingnya, lelaki muda itu dapat memastikan bahwa dia masih berada di dunia yang normal---bukan isekai atau dunia dalam game RPG.

Dia tidak akan mempertanyakan ke mana perginya mantel cokelat pasir dan kemeja biru serta rompi hitam yang sampai tadi siang masih dipakainya, atau kenapa itu berganti dengan kaus hitam polos dan celana jeans.

"Mimpi?" gumam lelaki itu. Namun, ini terasa sangat nyata.

Perban masih membalut tubuhnya dan di pipinya masih tertempel kain kasa yang sama. Hanya saja kedua mata si lelaki telah bebas melihat dunia lebih luas lagi.

Jika ini kehidupan yang sama ... maka di waktu mana dia berada? Lelaki itu mulai berpikir. Apakah setelah kejadian itu ....

Mengingatnya kembali, dadanya menjadi sesak. Dia meraba sebelah mata yang kini bebas dari balutan kasa higienis, tertunduk sambil berwajah sendu. Sangat jarang untuk melihat lelaki itu mengekspresikan perasaannya.

Panas mulai menyiksanya. Sambil memikirkan bermacam cara untuk kembali, dia berjalan menuju tempat pembuangan yang bahkan tidak terdaftar dalam peta.

"Baiklah ... haruskah aku mengunjungi rumah lamaku lagi? Aku mulai merindukan tempat itu juga ...." Dia masih berpikir saat kehadiran seseorang membuatnya membeku di tempat.

"Di sini kau rupanya, Dazai. Ke mana kau menghilang tadi? Anak-anak sudah menunggu untuk makan semangka." Suara itu benar-benar menghadirkan nostalgia yang menyakitkan.

Dazai menoleh, menatap lekat-lekat wajah dengan dua permata biru dan rambut yang kemerahan. Mulutnya terkatup saat dia mati-matian menahan air mata yang hendak meleleh.

"Odasaku?" Dia tidak bisa melakukan apa pun, tetapi menggumamkan nama itu dengan kaget.

Tidak mungkin. Mana mungkin ada kenyataan seperti ini. Karena selama ini ... kenyataan yang selalu dilihatnya adalah hal-hal pahit dan mimpi buruk yang seolah tidak pernah berakhir.

"Dazai? Apa yang salah?" Orang yang dia panggil 'Odasaku' bertanya dengan heran.

Dazai menggeleng, kembali memasang topeng jenakanya dan merangkul sosok itu, satu-satunya sahabatnya, orang yang mengerti dirinya lebih dari siapa pun.

"Ayo kembali dan makan semangka~ panas ini mulai membunuhku!"

"Kalau kau bisa mati karena panas, bukankah semua usaha bunuh diri itu sia-sia?" Odasaku menanggapi seperti biasa, membuat tawa kecil lolos dari bibirnya.

Lupakan saja. Siapa yang butuh pulang jika kenyataan lain ini terasa sangat menyenangkan? Dia ingin berada dalam mimpi itu selamanya, selama yang dia bisa.

Namun, mimpi dan harapan selalu pergi di saat yang benar-benar tak terduga.

Pria itu terbangun, dia kembali menegakkan duduk meski punggungnya masih menempel pada batu nisan bertuliskan nama sang sahabat. Dazai terkekeh, mengukir senyum yang terlihat menyakitkan.

"Mimpi benar-benar indah, ya, Odasaku?"

[]

BSD (Bungou Sengklek Dogs)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang