Ziarah

177 31 6
                                        

((Warning; spoiler tipiiis novel Storm Bringer))

((Warning; spoiler tipiiis novel Storm Bringer))

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


ZIARAH

Atsushi mengernyit. Langkah-langkah pelannya saat memasuki area pemakaman kini sepenuhnya terhenti. Dia sama sekali tidak mengharapkan pertemuan dengan salah satu anggota penting dari organisasi musuh. Ditambah lagi, Dazai sempat memperingatkannya tentang orang itu, yang katanya jauh lebih berbahaya dibandingkan Akutagawa.

Tanpa sadar, mereka telah saling tatap, kemudian sama-sama berpaling. Atsushi menuruni undakan tangga, sementara si eksekutif mafia kembali menatap nisan dengan sekuntum bunga di atasnya ... ah, ada lima nisan yang diberi bunga. Lelaki itu telah menurunkan topinya dan tertunduk, dia kembali berjongkok, mengatupkan kedua tangan seolah berdoa.

Atsushi terdiam, tanpa sadar memperhatikan adegan langka tersebut. Dia baru terlonjak saat sebuah sapaan yang tidak diharapkan keluar dari mulut orang itu.

"Menziarahi seseorang juga?" Si lelaki bersurai jingga telah memasang kembali topi hitamnya.

Dia tidak berharap akan bertemu orang lain karena telah memilih waktu paling sepi untuk mengunjungi makam kelima teman baiknya. Namun, apa boleh buat kalau sekarang bocah harimau yang sempat menyebabkan konflik menatap heran kepadanya.

Memangnya mafia tidak boleh berziarah?

Ah, pertanyaan yang semula hanya tergaung dalam pikiran akhirnya benar-benar terlontar dengan nada sarkas. Nakahara Chuuya tersenyum sinis, memandang nisan yang bertuliskan nama rekan berharganya.

Atsushi terkesiap. Benar, dia tidak berhak menghakimi apakah seseorang layak atau tidak berkunjung ke tempat ini. Lagi pula, pemakaman itu tempat umum, siapa saja bisa datang dan pergi. Membawa kisah dan luka mereka masing-masing.

"Bu-bukan itu maksudku!" Atsushi buru-buru meralat pertanyaan yang tadinya terlontar secara refleks.

Aneh saja melihat seorang eksekutif mafia berada di tempat seperti ini. Namun, sekali lagi dia menepis pemikiran itu. Mafia mungkin kejam, tetapi masing-masing orang masih memiliki hati nurani. Sekejam dan sebrutal apa pun mereka, pasti akan berduka jika kehilangan.  Lagi pula, orang seperti Dazai pun akan berkunjung ke tempat ini sesekali. Malah, kadang sambil membawakan sebuket bunga yang katanya adalah pemberian ibu-ibu penjaga toko.

Atsushi membungkuk sopan dan berlalu menuju nisan yang tertanam di bawah naungan sebuah pohon rindang, sementara Chuuya hanya memperhatikan dari tempatnya berdiri semula.

Mereka tidak akan pernah memulai lonflik di tempat sakral seperti ini, bahkan jika Agensi Detektif dan mafia sedang terlibat dalam perang besar.

Mengunci mulut rapat-rapat, lelaki itu melenggang pergi setelah sebuah janji untuk datang lagi dan mengobrol dengan 'mereka' lain kali.

[]

[]

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
BSD (Bungou Sengklek Dogs)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang