Dazai Osamu sedang merenungkan masa lalu. Dalam hatinya terpikir sebuah pertanyaan konyol: sudah berapa tahun tepatnya sejak dia mulai merasa hidup adalah hal paling membosankan di dunia? Entahlah. Yang jelas, kurang lebih enam tahun lalu, untuk pertama kalinya dia menemukan sesuatu yang lebih menarik daripada kematian.
Nama 'sesuatu'---atau lebih tepatnya 'seseorang'---itu adalah Oda Sakunosuke. Dazai memanggilnya Odasaku. Pertemuan pertama mereka benar-benar aneh, tetapi berharga. Kalau dipikir-pikir, perpisahan mereka juga cukup aneh. Aneh karena saat itu Dazai sudah memiliki firasat kuat, tapi tidak bisa menghentikan takdir Odasaku. Padahal biasanya dia bisa membalikkan takdir mana pun.
Ingatan Dazai melayang ke sebuah senja. Di dalam kapel tua, di dalam sebuah bangunan tengah hutan, sekitar empat tahun silam.
Saat itu, dia masih anggota eksekutif dari organisasi kriminal terbesar di Yokohama. Dazai, mengenakan setelan serba hitam dan perban yang menutupi bagian kanan wajahnya, tergopoh-gopoh menghampiri temannya yang terbaring sekarat dengan luka tembak di dada; baru saja Odasaku menyelesaikan sebuah pertarungan.
Dazai masih ingat suaranya yang putus asa. Dia pun ingat benar setiap kata---wasiat---yang Odasaku ucapkan. Kemudian, kehidupan Odasaku berakhir tepat di depan matanya, tepat di dalam rangkulannya.
Itulah kali pertama Dazai menyesal saat melihat kematian seseorang. Biasanya dia tidak begitu dipenuhi emosi, malah cenderung tidak bisa merasakan apa-apa. Dia dapat membunuh orang kapan saja, di mana saja, tanpa satu alasan pun, tanpa merasa bersalah ataupun menyesal.
Bagi Dazai, kematian adalah pengampunan. Dengan begitu manusia tidak perlu lagi menderita, tidak perlu lagi terkutuk dan berbuat dosa---bukankah yang begitu adalah sebuah anugerah? Namun empat tahun lalu, melihat kehidupan temannya hilang tepat di depan matanya, pemuda itu merasa hancur.
Hanya sekali itu Dazai bersedih. Dazai memang sudah sering berputus asa; sering mencoba peruntungan dengan menenggak racun atau lompat dari gedung atau apa saja yang bisa membuatnya bertemu Tuhan. Namun, itu bukan karena dirinya dipenuhi kesedihan. Itu semua sangat berbeda.
Perasaannya jadi campur aduk. Dia iri. IRI! Kenapa malah Odasaku---yang punya semangat hidup dan memang berencana hidup lama---yang harus pergi duluan? Kenapa bukan dirinya saja?
Dazai berdiri, sempoyongan, matanya terpaku pada jasad temannya. Dia sangat ingin mengucapkan sesuatu---apa saja, apa saja yang bisa menjadi kata-kata perpisahan. Namun, lidahnya kelu, otak jeniusnya seakan-akan berhenti bekerja. Dia tidak tahu; sama sekali tidak tahu! Dadanya sesak tak karuan. Dan tanpa dia sadari, setetes air mata mengalir turun membasahi pipinya.
Satu momen itu berhasil mengubah pandangan Dazai akan dunia; berhasil membawanya pada pertobatan.
Tentu saja itu bukanlah akhir yang bahagia. Rasanya tidak pernah ada bahagia dalam 22 tahun kehidupan Dazai Osamu. Hidup baginya masihlah sumber dosa serta derita---buktinya sudah banyak, dia sendiri juga mengalami hidup bagai di neraka. Namun, toh, saat ini Dazai sedang mencoba menjadi 'bahagia'.
Perjalanannya masih amat panjang dan melelahkan. Dan sialnya, kemungkinan besar dia tidak akan merasa bahagia.
"Oi. Apa yang sedang kau lakukan di sana? Cepat turun sebelum aku menyeretmu, dasar maniak bunuh diri!" Dari arah tangga, seruan Kunikida menggelegar. Aneh juga rasanya karena rekan kerjanya itu punya suara yang tidak kalah melengking dari seseorang yang pernah Dazai kenal di masa lalu.
Meskipun hatinya masih terasa hampa dan berat, Dazai tersenyum lebar. Dia cepat-cepat meninggalkan atap, tempatnya tadi mengamati bintang-bintang. Seorang lelaki berkacamata dengan rambut pirang kusam sedang menunggunya sambil berkacak pinggang. Senyum Dazai makin lebar dan jahil saat melihat si Kunikida Doppo yang terkadang mirip ibu-ibu---gampang sekali disulut emosinya.
"Kau mengganggu perenunganku loh, Kunikida-kun!" protes Dazai jenaka sambil memasukkan dua tangannya dalam saku mantel. Dia berkelakar, "Kalau kau tidak datang, aku pasti sudah dapat ilham---pasti otak jeniusku ini sudah akan memunculkan ide baru untuk membujuk seorang gadis bunuh diri ganda bersama!"
Dan tentu saja, tanpa peduli temannya itu sedang serius atau bercanda, Kunikida memukul Dazai sampai terjatuh dari tangga. []
_________🥀
KAMU SEDANG MEMBACA
BSD (Bungou Sengklek Dogs)
FanficOneshots Berisi cerita angst; misteri; comedy; romance; chara x OC, random ship---pokoknya tergantung mood author-nya yang agak absurd. Masing-masing chapter berdiri sendiri. ______________ Bungou Stray Dogs © Asagiri Kafka & Harukawa_35
