School Days

152 24 26
                                        

Masih pagi.

Siswa-siswi baru berdatangan menyambut hari bebas mereka setelah seminggu lalu memeras otak. Seakan dituntun mendekat, Sakaguchi Ango dan Sakunosuke Oda langsung melangkah ke kantin sekolah. Bangku paling pojok dekat pohon kaede tua menjadi tempat mereka berlabuh. Bangku itu sudah diisi oleh seorang remaja berperban. Jas almamaternya tersampir di sandaran kursi, lengan kemeja putihnya digulung hingga siku, memperlihatkan perban putih bersih yang meliliti hampir sekujur tubuhnya.

Remaja yang tampak seperti penyintas kecelakaan itu bernama Dazai Osamu, siswa teladan yang peringkatnya tidak pernah turun.

"Ooooh! Akhirnya kalian datang juga. Aku sudah sangat bosan menunggu di sini sendirian. Odasaku dan Ango terlambat!" Dazai melambaikan tangan dengan ceria, tapi di detik berikutnya, dia cemberut. Ekspresi Dazai memang lebih beragam saat berada di sekitar Odasaku dan Ango. Di dekatnya ada sekaleng kopi hitam tanpa gula.

Ango mengernyit sementara Odasaku langsung duduk di samping Dazai.

"Kami tidak terlambat. Kau yang datang terlalu pagi, Dazai-kun. Jam berapa kau bangun hari ini?" Ango melirik adik kelasnya itu dengan curiga.

"Sebenarnya, aku tidak bisa tidur tadi malam." Dazai menenggak habis kopinya, lalu tersenyum bangga, "sekarang aku datang lebih cepat dari siapa pun!"

"Itu tidak mengubah apa pun, Dazai-kun. Jangan bangga dengan itu." Ango menghela napas dengan lelah.

"Eeeeeh? Tapi aku datang lebih cepat dari kalian berdua. Itu sebuah prestasi. Iya kan, Odasaku?" Dazai mulai merajuk, menatap Odasaku, meminta pembelaan.

Odasaku mengangguk sembari berpikir. "Memang benar ...."

"Odasaku-kun juga, jangan membelanya terus!" Ango menatap Dazai lagi, "absensimu mengkhawatirkan."

Dazai jarang hadir di kelas. Entah bagaimana remaja berambut cokelat itu selalu punya alasan untuk tidur di rumah. Konon, fisiknya memang lemah dan pihak sekolah memaklumi karena Dazai selalu berhasil mengejar ketertinggalannya. Namun, Odasaku dan Ango tahu lebih baik dari siapa pun bahwa daya tahan tubuh Dazai itu sudah masuk ke tahap mengerikan.

Baru minggu kemarin Dazai tertabrak truk dan masih bisa masuk sekolah seperti biasa keesokan harinya---walau agak pincang karena kakinya keseleo dan satu rusuknya patah.

"Dazai, yang Ango katakan itu benar. Kau harus lebih sering masuk untuk memperbaiki absensimu." Odasaku mulai menasehati Dazai seperti seorang kakak yang baik. Dan Dazai, tentu saja, berpura-pura patuh agar mendapat elusan kepala.

"Daripada itu." Ango kembali melirik Dazai. "Kapan kau akan mulai memanggil kami 'senpai', Dazai-kun?"

Dazai cemberut. Elusan Odasaku di kepalanya juga berhenti. Laki-laki berambut kemerahan itu menatap Dazai, seolah menantikan jawaban yang sama.

Kapan?

Remaja itu berpikir sebentar, lalu menatap kedua temannya dengan bercanda, "Kalau Odasaku dan Ango berhasil mengalahkan nilai-nilaiku!"

"Itu mustahil." Ango langsung mendengus.

Sejak kelas satu, walau jarang masuk dan tidak pernah menyimak pelajaran, Dazai selalu menyabet gelar siswa teladan. Peringkat satu paralel. Semua nilainya sempurna---bahkan pelajaran olahraga yang Dazai tebus dengan ujian tulis karena selau melewatkan ujian praktek.

Ango tidak cukup gila untuk berharap dia bisa menyamai rekor tak masuk akal itu.

"Kalau begitu, itu mustahil." Odasaku menatap pohon kaede di luar.

"Tidak apa-apa. Lagi pula aku suka panggilan yang sekarang ini. Tidak ada jarak di antara kita." Dazai, yang tidak pernah membicarakan tentang perasaannya sendiri, tiba-tiba bergumam sembari mengikuti arah pandangan Odasaku. Dia tersenyum, tetapi itu bukan jenis senyum yang menyenangkan.

Ada duka, walau hanya sekilas, yang tampak jelas di mata Dazai.

"Dazai ...."

Bagi Odasaku, mata Dazai amat jernih---sepasang permata cokelat yang sering menampilkan emosi pemiliknya secara diam-diam. Namun, bagi Dazai sendiri, matanya adalah sepasang lubang berkabut kelabu yang keruh dan kotor.

Dia membenci banyak hal tentang dirinya.

"Ya, kau benar." Ango mengangguk, hanyut oleh suasana melankolis yang tiba-tiba itu.

"Jadi tidak masalah, kan?" 

Dazai kembali tersenyum, kali ini dia mencoba untuk lebih ceria, kemudian bangkit dari kursi dan merangkul kedua kawannya itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dazai kembali tersenyum, kali ini dia mencoba untuk lebih ceria, kemudian bangkit dari kursi dan merangkul kedua kawannya itu.

Hanya mereka berdua saja sudah cukup. Dan memang, hanya mereka berdua sajalah yang dia miliki di dunia ini. Sebagai kawan, teman yang bisa menerimanya, sahabat yang mendengarkan setiap ocehannya. Yang tidak pernah meminta Dazai berubah agar bocah eksentrik itu 'bisa lebih diterima oleh masyarakat'.

Sejak awal, Dazai merasa dia tidak butuh masyarakat.

"Aku akan melakukan apa pun yang kumau," kata Dazai, membuat Ango cemberut. Namun, kata-kata selanjutnya berhasil mengubah suasana hati Ango dan Odasaku dalam sekejap.

"Aku juga akan masuk setiap hari dan berangkat pagi-pagi mulai dari sekarang. Lagi pula, sebentar lagi Odasaku dan Ango akan lulus dan meninggalkan aku sendirian."

Haai~ siapa yang kangen aku? /PedeeSebenernya aku pengen bikin yang fun, tapi jari ini gatel kalo gak ada bawang :'D

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Haai~ siapa yang kangen aku? /Pedee
Sebenernya aku pengen bikin yang fun, tapi jari ini gatel kalo gak ada bawang :'D

Btw guys, S4 kemarin aku jejeritan, epik parah banget aaaaaa😭 ODASAKU LUCU--!

Btw guys, S4 kemarin aku jejeritan, epik parah banget aaaaaa😭 ODASAKU LUCU--!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
BSD (Bungou Sengklek Dogs)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang