Dazai Osamu tentu saja tidak punya emosi.
Atau begitulah yang orang lain pikirkan setiap melihat sesosok anak muda yang berkeliaran di antara lorong-lorong markas Port Mafia. Itu juga yang akan orang-orang pikirkan setiap kali mereka melihat cara Dazai mengekstrak informasi dari pada tahanan yang enggan bicara setelah kelompok interogasi yang dipimpin Kouyo Ozaki menyerah. Hal itu jugalah yang akan orang-orang pikirkan saat mereka melihat senyum dan tatapan kosong Dazai Osamu setiap kali dia menembaki mayat.
"Hahaha!" Mata pemuda itu melebar, senyumnya tak kalah mengerikan dari yang dimiliki oleh iblis.
Dazai berbalik sementara di tangannya adalah pistol yang masih mengeluarkan asap putih tipis seperti dupa yang baru saja dibakar. "Bagaimana menurutmu, Chuuya? Aku hebat, kan?"
Chuuya memiliki ekspresi tidak nyaman di wajahnya. Dia pandangi mayat yang kepalanya hancur setelah ditembaki Dazai entah berapa kali. Kejam. Brutal. Bahkan bagi Chuuya sendiri, yang telah menghabiskan hampir seluruh hidupnya dalam kekerasan dan saling bunuh, cara Dazai menembaki mayat sambil tertawa-tawa masihlah tidak wajar. Tidak manusiawi. Tidak punya hati. Entah apa kata yang cocok untuk menggambarkan pemuda kepercayaan Mori ini.
"Kau yang paling buruk." Chuuya bergumam dan pergi.
Mereka sudah selesai di sini. Tak ada lagi informasi yang bisa didapat, atau orang lain yang bisa dibunuh. Yang tersisa hanya mayat-mayat yang mati dengan mengenaskan. Tentu saja, Chuuya yang membunuh sebagian besar dari mereka. Namun, Chuuya masih menghormati lawannya. Dia keras, tetapi tidak sekeji Dazai.
Dazai ... adalah, dan selalu, merupakan kasus spesial.
Dia iblis. Sosok tidak biasa; yang ditakdirkan menjadi serba bisa. Eksekutif termuda dalam sejarah Port Mafia. Orang menakutkan yang diprediksi akan menjadi pemimpin selanjutnya menggantikan Mori Ougai. Seorang legenda berjalan. Itulah eksistensi Dazai dalam hierarki Port Mafia. Dan dia bahkan belum genap berusia tujuh belas tahun.
Namun, pemuda seperti itu pun nyatanya masih memiliki hati. Dia bisa terluka dan kecewa. Dan satu-satunya yang memahaminya secara penuh, mungkin hanya Odasaku seorang.
"Aku ... dicampakkan," kata Dazai suatu malam, saat mereka berdua duduk-duduk di bar langganan.
Jemari kurusnya setia memainkan es batu dalam gelas wishkey, tampak tidak tertarik untuk meneguk cairan keemasan itu. Sementara teman di sampingnya masih diam, menunggu dia selesai bicara.
"Bukankah itu karena kau bertingkah tidak pantas?"
Namun, percakapan dua sahabat dalam bar itu disela oleh seorang pria berkacamata. Sakaguchi Ango. Satu orang lainnya yang beruntung dapat melihat sisi berbeda dari seorang Dazai Osamu.
"Oh, Ango! Kau sudah selesai dengan negosiasi menyebalkan yang tadinya mau Mori-san bebankan padaku? Hebat~!!" Dazai bertepuk tangan saat menyambut Ango yang duduk tepat di sampingnya.
Ango, tampak kelelahan dan putus asa, menghela napas dalam-dalam sembari menelungkup kepala di meja bar. Lelaki itu disambut segelas alkohol yang disajikan tepat setelah dia duduk.
"Jadi itu Dazai-kun yang menyebabkan aku harus bekerja tiga kali lipat dan begadang lima hari berturut-turut ...." Ango bergumam, terdengar seperti orang yang sudah kehilangan setengah jiwanya.
Dazai dengan prihatin mengusap-usap kepala Ango, sedangkan Odasaku meminta segelas air putih.
Mungkin Ango memang sudah mabuk sebelum datang ke sini. Begitulah pikirnya.
"Berbahagialah sedikit, Ango. Itu awalnya menjadi pekerjaan yang membosankan untukku. Kau sudah melakukan yang baik, jadi aku akan minta Bos untuk menaikkan gajimu sedikit!" kata Dazai dengan berseri-seri.
Ango, yang sudah menegakkan kepalanya dan meneguk minumannya, menatap Dazai dengan lelah sekali lagi.
"Hanya kau yang akan berkata begitu, Dazai-kun. Negosiasi kali ini benar-benar yang terburuk," kata Ango, membuat ekspresi pahit seolah dia baru saja disuruh menelan seekor kelabang raksasa hidup-hidup.
Dazai, sebaliknya, dipenuhi atmosfer ceria. Dan Odasaku dengan tenang mendengarkan celoteh mereka. Seperti biasa. Sama seperti biasanya. Saat-saat menyenangkan saat mereka berbagi hal-hal yang biasanya. Percakapan sehari-hari yang sangat biasa ini ... Dazai kadang bertanya-tanya apakah ini akan berakhir? Kalau iya, kapan akan berakhirnya? Dia harap tidak akan pernah. Namun Dazai selalu belajar dari kehidupan; bahwa takdir akan berjalan ke arah yang paling menyakitkan; merenggut apa saja yang dia impikan saat baru saja dia dapatkan.
Dan jawaban dari pertanyaan kecilnya itu datang lebih cepat dari yang Dazai duga.
Sekarang, di depan sebuah makam bernisan polos. Sosok berselimut hitam yang pernah ditakuti sebagai Demon Prodigy of Port Mafia, tertunduk sembari menitikkan duka. Dua kakinya tak sanggup menopang badan. Dia terduduk sementara hatinya yang sudah babak belur kembali dirobek-robek oleh angin yang bertiup pelan di sekitar makam.
Tempat itu sunyi. Teramat sunyi dan menenangkan. Namun, di saat yang saat yang sama juga meniupkan aroma yang lebih suram dari badai mana pun yang pernah Dazai hadapi. Aroma kematian. Aroma yang selalu ia damba kini terasa benar-benar menjijikkan.
Dazai sudah muak. Dia muak pada takdirnya; pada dirinya sendiri dan pada dunia ini.
Dunia yang awalnya sudah membusuk ini ... terlihat makin busuk saja di mata Dazai.
"Aku merindukanmu, Odasaku. Kamu meninggalkanku sendirian di dunia yang dingin dan mengerikan ini." Dazai tertunduk. Jiwanya benar-benar sudah terluka. "Kau pikir ... aku akan bisa bertahan sendirian setelah kau menunjukkan semua kehangatan itu padaku?"
Dia terkekeh pelan. Kata-katanya tertiup angin. Sementara Dazai menatap pistol di tangannya dengan tatapan kosong.
KAMU SEDANG MEMBACA
BSD (Bungou Sengklek Dogs)
FanfictionOneshots Berisi cerita angst; misteri; comedy; romance; chara x OC, random ship---pokoknya tergantung mood author-nya yang agak absurd. Masing-masing chapter berdiri sendiri. ______________ Bungou Stray Dogs © Asagiri Kafka & Harukawa_35
