Dosa

249 16 0
                                        

“Apel adalah buah dosa.”

Dazai tiba-tiba saja berkata begitu saat kami menyusuri pematang sungai. Aku hendak menyahutinya dengan "Hah?" seperti yang biasa Chuuya lakukan, tapi dia lebih dulu mengatakan, “Seekor tikus tertentu yang mengatakannya padaku.” sambil tersenyum aneh.

“Orang Rusia itu?” Aku menarik mantelnya karena Dazai berhenti sambil memandang sungai yang tenang dengan kecewa. “Kapan kalian bertemu?”

Lebih tepatnya ... kenapa Dazai membiarkan orang itu berada di Jepang?

“Kemarin.”

Senyumnya makin aneh saja. Dengan lembut, dia singkirkan tanganku, kembali melangkah tanpa arah seperti yang sering dilakukannya saat sedang bimbang.

“Seorang Bibi memberi apel gratis padaku~ aku ini memang detektif yang populer~!”  Dazai menoleh, dia merangkulku sambil bersenandung tidak jelas.

Aku ingin membiarkan Dazai sendiri karena bahkan di saat ini, saat dia tahu kami semua hampir tiba di titik nadir, lelaki itu tidak mengatakan apa-apa, bersikap seolah besok adalah hari bodohnya yang biasa.

Tidak ada yang akan terjadi.

“Tidak ada yang akan terjadi.”

Aku terhenti. Kami terhenti. Dazai tetap memasang senyum anehnya saat aku menuntut jawaban atas pernyataan tadi.

Bukan hal aneh kalau dia bisa menebak isi pikiranku. Namun, biasanya Dazai tidak menyuarakan itu keras-keras.

Tidak kepadaku.

“Aku tahu tidak akan ada yang terjadi.”

“Bagus~”

Senyum Dazai semakin dalam. Sejujurnya, itu hanya senyum tulus biasa. Namun, Dazai tidak bisa tulus. Dia dikutuk seperti itu. Dia hanya berusaha terlihat tulus.

Dia sedang membohongiku di suatu tempat dalam percakapan kami.

“Karena kau ada di sini, aku yakin tidak akan ada yang terjadi.” Aku bersandar padanya, seperti biasanya kami, Agensi Detektif Bersenjata, menyandarkan hal-hal pelik ke punggungnya yang luka-luka, sesuai permintaan tak terucapnya. Selalu.

Dazai tertawa sambil merangkulku lebih erat. “Tentu saja,” katanya, “Karena itulah mereka menjuluki 'Si Hebat yang Tak Tertandingi'!”

Aku tahu dia tidak berkelakar. Dan aku tahu, dari suaranya yang bergetar saat menyatakan "tentu saja", bahwa lelaki menyedihkan ini sedang mencoba, mencoba mengatakan isi hatinya yang biasanya selalu terkubur logika.

Tentu saja, kali ini dia ingin semua orang hanya mengandalkannya.

“Apelnya,” aku menunjuk bulan yang nyaris purnama, “akan matang sebentar lagi.”

“Tentu saja~ kalau kekasihku yang cantik sampai bilang begitu. Sebentar lagi kita bisa memanen semuanya~”

Dia tertawa. Suaranya bergetar lagi. Sementara aku, mulai gemetar ketakutan, memeluknya dengan lebih erat.

Aku tidak mau dia pergi ke tempat yang berbahaya. Namun, dari udara segar yang mengalir pun kami sama-sama tahu: badai akan tiba sebentar lagi. []

Tsurumi, 25 Agustus 2023
One shoot. Dazai x me

BSD (Bungou Sengklek Dogs)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang