Dazai Osamu terpaku. Tidak, bukan begitu. Dia tahu Chuuya itu bodoh, pendek, dan pemarah, tapi dia tidak menduga Chuuya sebodoh ini.
"Bangun, makhluk cebol! Kalau begini aku tidak punya kartu truf lagi!" Dazai menendang dengkul Chuuya. Namun, tidak ada reaksi dari mafia berjaket hijau itu.
Dazai menghela napas. Bukan begini yang dia inginkan, sama sekali bukan. Kenapa Chuuya menghancurkan rencananya hingga berkeping-keping? Apa dia mau balas dendam dengan cara seperti ini?
Bukan ....
Dazai menatap makhluk cebol itu lagi: rambut kusamnya, wajahnya yang penuh darah, dan yang paling membuat Dazai muak adalah tubuh Chuuya yang tidak lagi utuh.
"Chuuya idiot. Bodoh. Bebal. Otak udang! Pantas saja kau tidak bisa melampaui Mori-san." Dazai tidak tahu kenapa kata-kata itu meluncur dengan lancar dari mulutnya. Dazai juga tidak tahu kenapa dia agak sedikit marah dan sedih karena hal ini.
Rencananya gagal. Dia harus mencari bidak catur yang baru. Dan yang paling penting adalah lenyapnya nama soukoku membuat lelaki itu takut. Dia tidak ingin membayangkan masa depan seperti apa yang harus diemban oleh generasi penerus mereka.
"Atsushi-kun dan Akutagawa-kun belum siap ... mereka masih butuh waktu sampai matang. Kenapa hal sederhana begitu saja kamu tidak tahu? Chuuya ceroboh sekali, sih! Mau membuatku mati muda karena depresi, ya?!" Dazai merutuk di samping mayat mantan rekannya.
Dia cuma bicara sendiri. Tidak ada lagi sahutan dari Chuuya. Apa ke depannya dia akan merindukan sumpah serapah, sikap kasar, dan omelan dari Chuuya?
Lelaki itu menggeleng. Dia bangun, berjalan ke arah sebuah potongan tubuh. Tangan pucat yang tak berbalut sarung tangan itu jelas milik mantan rekannya. Dazai memungut tangan yang terasa dingin itu, menimang sebentar, lalu meletakkannya di samping Chuuya.
"Mayatmu saja tidak utuh. Chuuya mau balas dendam, ya? Mau menyuruhku mencari potongan tubuhmu atau kamu akan menghantuiku seumur hidupku?" Dazai masih cemberut. "Ogah! Lebih baik aku mati juga. Aaah, tidak, tidak. Nanti aku dikira bunuh diri bareng Chuuya. Membayangkannya saja sudah merinding!"
Dazai juga tidak tahu kenapa sedari tadi dia bicara sendiri. Apa dia mulai gila? Mungkin saja. Chuuya penyebabnya. Karena Chuuya gegabah dan mati seenak jidat, dia jadi harus menanggung sisa konflik besar ini di masa depan. Sendirian. Tanpa rekan yang bisa dipercaya.
"Aaaahhh ... sial!" Dazai mengacak helai-helai cokelatnya dengan wajah masam. "Tahu begini aku akan merantai Chuuya dengan benar kemarin!"
Tak ada sahutan. Bahkan, angin pun sepertinya enggan melintasi daratan yang porak-poranda itu.
"Terserah!" Dazai masih menggerutu. Protesnya akan sangat panjang kalau dia lanjutkan. Dia harus berhenti di sana.
Lelaki itu beranjak pergi. Ujung dari mantel cokelatnya yang dinodai merah melambai-lambai sebentar mengikuti langkahnya. Lelaki itu pergi lagi. Kali ini, rekannya tidak hanya tidur karena lelah. Dia tertidur untuk selamanya.
(*)
KAMU SEDANG MEMBACA
BSD (Bungou Sengklek Dogs)
FanfictionOneshots Berisi cerita angst; misteri; comedy; romance; chara x OC, random ship---pokoknya tergantung mood author-nya yang agak absurd. Masing-masing chapter berdiri sendiri. ______________ Bungou Stray Dogs © Asagiri Kafka & Harukawa_35
