Lost

297 56 0
                                        

"Tutup mulut sialanmu itu, dasar bodoh!"

Chuuya tidak ingat kapan terakhir kali ia berteriak seperti itu. Kapan? Ah, mungkin saja sekitar empat tahun lalu saat terakhir kali orang itu menampakkan diri di hadapannya dan dengan main-main berkata ingin meninggalkan mafia karena bosan.

Empat tahun telah berlalu dan nama Soukoku yang pernah begitu ditakuti dunia bawah kini lenyap seolah ditelan udara. Menguap begitu saja bersama dengan kepergian salah satu pilar paling penting Port Mafia. Mereka kehilangan satu lagi aset berharga, kartu truf yang begitu disayangi Mori Ougai. Namun, Chuuya tidak menyesal sama sekali karena belum sempat mengucapkan perpisahan. Ia bahkan tidak sudi mengingat wajah orang yang telah mengkhianati organisasi tanpa alasan yang jelas.

"Kau benar-benar merepotkan, sialan! Terima kasih karenamu, aku jadi harus memiliki pekerjaan yang tiga kali lebih sibuk." Berdecih, dia mengistirahatkan punggung pada sandaran kursi taman, menatap langit pucat yang bersiap menampilkan mendung, lalu berpaling pada kumpulan pejalan kaki.

Langit ragu kala hendak menduka. Ini seperti waktu itu, waktu ia untuk pertama kalinya meragukan penglihatan dan kesadarannya sendiri dalam situasi yang sama sekali tidak mendesak.

Itu seharusnya menjadi sore yang santai, berjalan-jalan tanpa beban karena tidak memiliki misi sampai besok siang, Chuuya justru mendapatkan sebuah kiriman foto dari email bernama Dz123. Ia mengerutkan kening, menebak siapa si pemilik email, lalu tercenung saat melihat dengan jelas apa yang ada dalam berkas foto itu.

Dadanya bergemuruh dengan aneh. Bagaimanapun, ini adalah pemandangan yang sangat ingin ia lihat. Namun, rasanya Chuuya tidak rela jika tidak membunuh Dazai dengan tangannya sendiri.

[Kurasa yang terbaik memang menemui Odasaku dan bertanya langsung apa artinya ini semua. Tolong kirimkan satu buket bunga ke makamnya bersama kartu ucapan yang kuselipkan di kantung jasmu. Ah, bunganya harus mawar putih, aku tidak mau yang lain dan tidak peduli jika Chuuya harus mencarinya sampai ke ujung dunia.

Maukah kau merayakan ini dengan membuka koleksi anggur termahalmu, Chuuya?]

Hari itu juga, Chuuya mendatangi nisan di sudut pemakaman yang tampak tenang berlindung pada sebuah pohon besar. Aroma laut menyapa hidungnya saat langkah kaki terhenti untuk mendoakan orang yang terbaring di sana. Ia memang telah mendengar tentang kematian seorang anggota tingkat rendah yang pernah sekali bekerja sama dengannya semasa Dragon Head Conflict, tetapi tidak menyangka dampaknya akan begitu besar pada Dazai.

Chuuya meletakkan sebuket mawar putih dan surat yang entah sejak kapan Dazai selipkan di sakunya. Dia membaca isinya sekilas, sebelum kertas kecil itu diterbangkan oleh angin, menuju tempat lain yang entah berada di mana. Mungkin saja ... kertas itu akan sampai pada pemilik makam ini.

[Maafkan aku, Odasaku. Kupikir akan sangat menyenangkan untuk memenuhi semua keinginanmu. Namun, izinkan aku untuk menjadi egois ....]

Surat itu terbang sebelum Chuuya selesai membacanya. Sekali lagi, dia berdecih sebelum membalikkan badan, tiada niat untuk kembali menoleh ke belakang untuk selamanya.

"Orang sialan sepertimu tidak pernah diizinkan untuk menjadi egois, dasar bodoh."

🍁

Empat tahun telah berlalu sejak saat itu. Saat ia akhirnya pergi ke tempat pembuangan yang menjijikkan dan mendapati tubuh rekan kerjanya yang sudah menjadi dingin, tanpa detak jantung sama sekali. Terbaring dalam konteiner bekas yang hanya diisi beberapa barang pribadi milik sang eksekutif termuda.

"Kau tidak seharusnya berhasil saat itu juga, kuso Dazai. Lihatlah kota ini sekarang ... inilah apa yang kau tinggalkan demi obsesi anehmu pada kematian." Menghela napas panjang, Chuuya menatap langit setelah lelah akan pemandangan memuakkan dari Kota Iblis yang semakin kacau saja setiap harinya. Apa yang tergantung di tangan kanannya adalah selembar koran dengan headline yang berjudul, 'Eksekusi dari Harimau Pemakan Manusia, Penjelasan Pihak Militer, dan Hubungannya dengan Mafia Pelabuhan'.

[]

BSD (Bungou Sengklek Dogs)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang