Teman Senasib

153 32 3
                                        

Kunikida mengangkat pandangannya lagi. Dia baru selesai berdoa, di depan makam orang-orang yang gagal dia selamatkan.

Apakah mereka akan senang menerima doa darinya?

Entahlah, tidak ada yang bisa menjawab. Hanya saja, lelaki berkacamata itu tetap melakukannya setidaknya dua minggu sekali.

Suara langkah lain membuat Kunikida menoleh. Wajahnya kaku seketika. Jantungnya berdebar lebih cepat.

Nakahara Chuuya. Eksekutif Port Mafia, pengguna kemampuan yang jauh lebih berbahaya daripada Akutagawa.

Untuk apa orang itu berada di pemakaman?

Kunikida bersiap untuk kemungkinan terburuk. Ia raih buku catatan yang tadinya berdiam dalam saku. Lelaki itu memasang kuda-kuda dan wajah waspada. Namun, Nakahara Chuuya hanya berjalan melewatinya, menuju beberapa nisan yang terletak di sudut pemakaman.

"Untuk apa Port Mafia datang ke sini?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Kunikida.

Chuuya terhenti. Belum lagi ia berbelok untuk sampai di 'tempat tujuan', kini mafioso berambut jingga itu harus berhadapan dengan Kunikida Doppo.

Chuuya menyunggingkan senyum masam. Namun, jauh di kedalaman matanya yang berwarna biru terang, ada duka yang menghampar bagaikan tumpukan salju di musim dingin.

"Memangnya mafia tidak boleh berduka, apa?"

Dia langsung berjalan melewati Kunikida, yang tercengang hingga tak bisa beranjak dari tempatnya.

"Yo!" sapanya pelan. Pada batu-batu yang akan terus diam.

Chuuya berjongkok di depan makam teman-temannya, yang berjajar kaku nan dingin. Dia menutup mata. Tangannya yang berlapis sarung tangan hitam otomatis terkepal. Chuuya masih ingat betul sensasi dingin yang menjalari tulang punggungnya saat ia melihat mereka semua, tertimpa reruntuhan, mati dengan mengenaskan.

Kenapa harus teman-temannya?

Chuuya menghela napas dalam-dalam.

"Aku sedang senggang," bisik Chuuya. Kemudian, ia mengeluarkan sebuah kuntum bunga dari saku jasnya.

Ia letakkan bunga berkelopak putih bersih itu di atas makam Albartos. Lantas, seringai puas memenuhi wajah yang tampak agak sendu itu.

Chuuya berujar, "Aku menemukannya di dekat markas musuh. Karena sayang akan terinjak-injak dan mati, jadi kubawa saja. Waktu itu kau berceramah tentang makhluk hidup lemah bernama bunga yang harus dijaga baik-baik, kan?"

Rasanya, ada duka yang hangat mengambang di sekitar mereka.

Sangat tidak seperti Chuuya. Aneh. Tidak biasa. Seram. Aneh.

Mungkin seperti itulah komentar yang akan Chuuya dapatkan kalau Dazai ada di sana dan mendengarnya mengobrol dengan batu nisan. Yah, walaupun lelaki penuh perban itu tidak pantas mengatai Chuuya. Karena dia sendiri masih sering bermonolog dengan Odasaku yang jelas-jelas ... sekarang terbaring di bawah nisan di bawah pohon rindang di sana.

"Aku tidak sempat beli bunga. Waktu senggangku sekarang makin berkurang, tahu? Pekerjaan makin melelahkan saja akhir-akhir ini. Kapan-kapan aku datang lagi. Aku baru membeli wine, kurasa tidak habis kalau diminum sendiri. Sampai jumpa." Suara Chuuya sangat lembut dan ringan, memang tidak seperti dia yang biasanya. Senyum itu juga.

Kunikida yang masih mengawasi dari kejauhan saja tertegun karena melihat seorang eksekutif mafia bisa tersenyum sangat lembut dan sendu seperti itu.

Duka apa yang dirasakan Chuuya? Siapa orang-orang yang terbaring di sana? Kunikida mulai berasumsi.

Namun, bukankah pekerjaan sehari-hari mafia memang berhadapan dengan kematian? Wajar jika satu atau dua orang terdekat lelaki itu mati saat melaksanakan tugas.

Kunikida akhirnya menyimpulkan: dia bukan siapa-siapa hingga tidak pantas berasumsi apa pun.

Chuuya kembali berjalan melewatinya, ia berhenti beberapa meter dari tempat Kunikida berdiri.

Lelaki berkacamata itu masih menatap Chuuya super waspada.

"Tenang saja." Chuuya buka suara. Dia agak jengkel karena acara berziarahnya diganggu. "Aku tidak ingin ribut di pemakaman. Juga tidak berniat mencari masalah dengan kalian." Suara Chuuya makin rendah dan dalam saat dia berkata lagi, "karena kalau mau, aku bisa langsung mendatangi kalian dan menghancurkan bangunan bobrok itu dalam satu serangan."

Kunikida berkeringat dingin. Perasaan itu menjalari tulang punggungnya. Ini adalah Nakahara Chuuya, salah satu pengguna kemampuan paling berbahaya. Mungkin hanya Dazai yang secara sadar, berani menjadikannya sebagai lawan.

Chuuya tersenyum masam. "Tenanglah, Bos melarang konflik apa pun dengan kalian. Yang kali ini murni kebetulan."

Chuuya melambai dan pergi. Namun, saat menjejak tangan paling atas, dia berhenti.

"Namamu ... Kunikida, kan---kalau tidak salah? Rekannya Dazai sialan itu?" Lidah Chuuya gatal gara-gara menyebut nama terkutuk itu. Nanti dia harus minum wine paling mahal dalam koleksinya, pikir sang mafioso.

"Aku tidak tahu kenapa kalian sudi memelihara pengkhianat itu."

Bohong. Tentu saja Chuuya tahu 'kegunaan' Dazai dengan baik. Sedangkan Kunikida mendengarkan dengan ekspresi kaku. Dia bahkan tidak bisa menebak apa yang akan Chuuya katakan setelah itu.

Namun, mendengar nama Dazai disebut-sebut dengan sangat akrab oleh salah satu orang paling penting di Port Mafia, Kunikida jadi meneguk ludahnya untuk menghilangkan gugup.

Baru beberapa wakt lalu dia tahu identitas asli Dazai. Dan amat sangat terkejut karenanya.

Benar, Dazai adalah pengkhianat besar bagi mafia.

"Kalau dia membuat masalah, gantung saja secara terbalik di tiang listrik! Atau tinju wajahnya sekalian! Bajingan itu tidak akan kapok kalau tidak dihajar! Tapi dia juga tidak mati-mati, malah bakal kesenangan, jadi pastikan kau membuatnya jera agar mau bekerja. Ancam saja pakai kelemahannya! Kujamin dia akan langsung diam!"

Chuuya tampak berapi-api saat menjelaskan. Wajahnya hanya mengatakan betapa dendamnya dia pada makhluk bernama Dazai Osamu.

"Itu saja. Aku jadi tidak tenang karena memikirkan ada orang lain yang harus menghadapi tingkah sialannya." Chuuya berbalik pergi. Sebelumnya, dia mendengar sendiri dari Dazai, dan bisa membayangkan bagaimana menderitanya seorang Kunikida.

"Semoga kita tidak berjumpa lagi," tandasnya sebagai salam.

Kunikida tertegun. Kali ini dia benar-benar bengong dengan pikiran kosong.

Apa yang ... baru saja Chuuya katakan? Tentang rekannya, Chuuya terdengar sangat mengenal Dazai.

Sepuluh ... lima belas ... dua puluh detik berlalu dan Kunikida akhirnya sadar dari lamunan. Dia segera berlari mengejar Chuuya, yang kebetulan baru saja membuka pintu mobilnya.

"Tunggu, Nakahara Chuuya-san!" panggil Kunikida, membuat Chuuya diam memperhatikan lelaki yang ngos-ngosan itu. Alisnya terangkat satu.

Kunikida bertanya dengan wajah berbinar penuh semangat, "Apa saja kelemahan Dazai?"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kunikida bertanya dengan wajah berbinar penuh semangat, "Apa saja kelemahan Dazai?"

BSD (Bungou Sengklek Dogs)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang