Bisikan

200 32 2
                                        

Angin berembus pelan, dengan lembut menyapa helai-helai sewarna kopi yang mengaliri kepala sang pria muda. Dua tangan berada dalam saku mantel sementara bibirnya mengulum senyum yang begitu tulus. Kakinya menapaki tiap undakan hingga mencapai tempat yang begitu dikenalnya.

"Maaf tidak membawakanmu bunga juga hari ini, Odasaku." Puas memandangi pusara kelabu yang nisannya mulai ditumbuhi lumut, ia menghilangkan senyum itu.

Ekspresi tidak suka puas terpasang di wajahnya yang kini cemberut. Namun, segera pria muda itu menghela napas dan melenggang untuk duduk bersandar pada nisan sang sahabat.

"Kau tahu kalau ini hari ulang tahunku, kan? Ya ampun ... mereka di Agensi, mereka semua menyibukkan diri dengan mempersiapkan pesta kejutan dan berpikir kalau aku tidak akan menyadarinya." Dia menghela napas, lalu menyandarkan kepala pada batu yang dingin itu.

"Hei ... Odasaku. Kau tahu? Akutagawa-kun berkembang pesat akhir-akhir ini. Aku penasaran apa dia bisa melewati harapanku. Ah, Atsushi-kun juga makin menakjubkan, seperti biasa dia anak yang baik. Mungkin aku terlalu jauh menjahilinya waktu itu .... Haha, kau harus melihat wajahnya! Dia benar-benar polos.

"Dia bahkan berterima kasih padaku, loh! Uughh ... bunga itu ... aku merasa buruk. Namun, bukan itu yang kau rasakan saat merawat anak-anak yatim itu, kan? ... aku ingin kau menceritakan lebih banyak, kau tahu. Aku yakin kau sedang tertawa bersama mereka sekarang. Apa kau sudah melupakanku, Odasaku?"

Angin berembus menggoyangkan surai cokelatnya, juga menyapu daun-daun kering dari tanah. Pria yang bersandar di batu nisan itu tersentak. Mulutnya terkatup, tak mengerti apa yang barusan terjadi.

"Aku selalu menunggumu di sini." Suara itu sangat pelan, seolah tertiup angin dan hendak menjauhk alam nyata.

"Oda ... saku?" Pria muda itu segera berbalik, menatap makam sahabatnya dengan mata melebar.

Namun, tak lama hingga dia mengulum senyuman lembut dan menengadah. Maniknya terus menatap langit biru pucat yang menaungi Yokohama siang itu. Apakah yang tadi adalah nyata, atau hanya bagian dari halusinasinya karena terlalu mabuk, dia sendiri tidak tahu. Dia tidak ingin mengetahuinya.

"Kalau begitu, lain kali aku akan membawakanmu tofu, Kawan."

[]

Harusnya publish pas ultahnya Dajai ... tapi .... Gak jadi.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
BSD (Bungou Sengklek Dogs)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang