Home

201 34 2
                                        

Atsushi terdiam. Dia telah memasuki tempat itu untuk kesekian kali, tetapi tak pernah terbiasa dengan keadaan di dalam. Tempat tinggal Dazai selalu berantakan; botol-botol minuman, tumpukan kaleng dan sampah kertas, puntung rokok ... tidak, seniornya tidak merokok, tidak terlalu sering, mungkin.

Si bocah harimau menghampiri asbak yang penuh, dilengkapi sepuntung rokok yang masih menyala dan tergeletak di dekat jemari Dazai. Sementara si pemilik rumah tertidur dengan wajah memerah, mungkin akibat terlalu banyak minum.

"Dazai-san ...." Atsushi bergumam. Entah kenapa wajah tidur Dazai tidak terlihat damai sama sekali.

Kelopak dengan bulu mata yang---sejujurnya---cukup lentik itu mengerjap terbuka saat Atsushi hendak menyingkirkan rokok dari lantai. Terkejut, si bocah harimau segera berdiri tegak dengan satu bulir keringat lolos menuruni dahinya.

"Ah, ternyata Atsushi-kun. Selamat pagi." Dazai bergumam dengan suara serak, matanya menyipit. Senyum di bibir itu sama sekali tidak bisa disebut sebagai sebuah 'senyuman'.

Entah bagaimana Atsushi bisa membayangkan jika itu adalah Kunikida, maka sang idealis akan berteriak 'apanya yang selamat pagi?!' tepat di wajah Dazai, lalu menyeretnya keluar tanpa belas kasihan.

"Da-dazai-san! Ma-maaf karena memasuki rumahmu tanpa izin ... aku mengetuk sangat lama dan tidak ada jawaban, jadi kupikir--"

"Tidak masalah, Atsushi-kun. Kamu bisa masuk kapan saja~!" Dazai memotong perkataan panik sang junior. Candaannya bahkan lebih terdengar seperti erangan orang yang sakit perut.

Atsushi mengangguk saat dia kembali melihat sekeliling. Berantakan. Dia berpikir harus menolong Dazai merapikan tempat ini.

"Maaf, ya. Aku belum sempat membereskannya," erang Dazai, mencoba bangkit dengan pakaian yang kacau. Perban di salah satu lengannya pun hampir terlepas tanpa disadari.

Atsushi hanya mengangguk, matanya diam-diam menangkap bekas luka samar di balik kasa putih itu. Hanya sedikit, itu luka kecil, tidak cukup untuk menjadi alasan kenapa Dazai Osamu menutupi hampir seluruh tubuhnya dengan perban.

"Ah, biar kubantu membereskan rumahmu!" Atsushi berkata. Setidaknya ini bisa menjadi salah satu bentuk terima kasihnya pada sang senior.

🐟

"Dazai-san, pasti dulu memiliki tempat tinggal yang jauh lebih mewah dari ini," gumam Atsushi, matanya mengedar sekali lagi, mengamati ruangan yang sebenarnya sama persis dengan miliknya dan Kyoka.

Tidak sulit untuk membayangkan apa saja yang dulu Dazai miliki sebagai anggota mafia.

"Hm?" Dazai, yang sejak tadi sibuk mengikat kantong sampah, menoleh dengan penasaran. "Apa yang barusan kamu katakan, Atsushi-kun?"

"Ah, bukan apa-apa." Atsushi menggeleng, mengangkat dua kantong sampah dan membawanya ke luar asrama.

Sementara Dazai hanya memperhatikan sang junior sambil memikirkan sebuah kontainer pengiriman bekas di tempat pembuangan limbah yang tak pernah dijamah orang.

[]

BSD (Bungou Sengklek Dogs)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang