Nakahara Chuuya mengetahui fakta mengejutkan itu sejak umurnya sepuluh tahun. Dan meski tujuh tahun telah berlalu sejak hari itu, sampai sekarang pun dia masih tidak bisa mempercayainya.
"Mau menghabiskan petang di atap lagi?" Arthur Rimbaud mengulurkan cangkir teh yang masih dihiasi asap tipis kepadanya. Dia letakkan di atas meja, disodorkan ke arah Chuuya.
Sosok berambut hitam panjang itu sudah Chuuya anggap sebagai kakak---kakak yang merepotkan. Rimbaud menggosok kedua tangannya yang tidak dilapisi sarung tangan. Tubuhnya dilapisi pakaian musim dingin, lengkap dengan syal dan sepatu bulu tebal. Menggigil, dia bergumam tentang betapa menyenangkan jika mereka bisa tinggal di tepi sungai lahar.
Chuuya menghirup aroma teh kesukaannya sembari memikirkan tentang langit biru yang dia lihat pagi tadi, dan belum sempat diabadikan dalam bentuk apa pun. Sementara Rimbaud tersenyum memperhatikan remaja berambut jingga yang hampir beranjak dewasa itu.
"Kenapa?! Kau tidak suka?!" Pipi Chuuya merona samar. Dia memandang cangkir teh yang sudah berpindah tangan, "aku mau wine!"
"Wine tidak baik untuk anak kecil." Lelaki lain, dengan berambut pirang pucat dan pembawaan yang elegan menepuk puncak kepala Chuuya.
"Jangan memperlakukanku seperti anak kecil!" Si sumbu pendek protes, rona samar di wajahnya makin jelas, membuat kedua kakak angkatnya terkekeh-kekeh.
Si pirang melenggang setelah menyeruput teh camomile Chuuya tanpa izin. Masih panas, pikirnya. Sementara yang berambut hitam melanjutkan pekerjaan---memanggang makan malam. Rimbaud dengan senang hati akan melakukan pekerjaan apa pun yang mendekatkannya pada api; atau sumber panas alami apa pun.
"Oi, Verlaine! Kau sembunyikan di mana kunci motorku?!" tanya Chuuya sebelum si rambut pirang sempurna menghilang.
Paul Verlaine menoleh sembari mengernyit. "Kapan kau akan memanggilku 'kakak'?"
"Tidak akan!" Kali ini, rona merah di wajah Chuuya sudah tidak bisa disembunyikan lagi. "Kau bukan kakakku!"
"Tapi hanya aku satu-satunya orang yang mengerti perasaanmu." Verlaine kembali masuk ke dapur, "Rimbaud juga. Tapi kau sudah mengakuinya sebagai kakakmu."
Lelaki itu mendadak emosional. Rambut pirang pucatnya seolah layu oleh rasa kecewa. Dia selalu sensitif mengenai topik ini. Ditatapnya Chuuya tidak mengerti. Ditangkapnya gerak bibir kecil si rambut jingga yang berucap, "Aku manusia." Dengan emosi meledak-ledak.
Verlaine yakin Chuuya sedang menahan diri untuk tidak mengamuk. Chuuya tidak suka fakta tentang dirinya "yang itu" diungkit keluar.
"Chuuya, kukira kau tetap bersama kami karena menerima fakta tersebut." Verlaine hendak menegaskan kepeduliannya sekali lagi.
Hubungan darah yang nihil antara dirinya dan sang adik tidaklah penting. Hanya dia satu-satunya di dunia ini yang mengerti Chuuya, yang sama dengan Chuuya, yang tidak akan mengkhianati Chuuya.
Atau begitulah yang dia pikirkan hingga Rimbaud menghela napas agak keras, mendesah berat demi mengalihkan perhatian mereka.
"Ah, rumah ini jadi lebih dingin." Lelaki berambut hitam panjang yang selalu mengenakan setelan musim dingin itu memeluk diri sendiri. Dengan nada serupa ratapan, dia tatap kedua sosok yang baginya adalah keluarga, "Kenapa kalian tidak bisa berpikir jernih?"
Chuuya menunduk, sementara Verlaine mendadak enggan melanjutkan pembicaraan. Suasana hening mencekik mereka dalam pusaran emosi masing-masing. Ribuan puisi bertebaran di kepala Chuuya, Rimbaud, dan Verlaine yang dilatari warna mendung serupa langit di bulan Agustus.
Ketiganya menghela napas bersamaan dan memutuskan bahwa pembicaraan tadi tidak pernah terjadi sama sekali.
Dan begitulah, satu lagi hari yang normal di rumah tepi danau tersebut. []
Suribachi, 30 April 2023
_____🍁
Dibuat setelah beberapa diskusi seru di kolom komentar Facebook, bareng sama temen. Kebetulan pembahasannya seputar irl Chuuya, Rimbaud, dan Verlaine.
Well, kayaknya agak OOC---buat Verlaine, aku cuma ingat betapa nyebelin dan ribetnya dia; Rimbaud itu murung tapi tegas dan cakap; dan Chuuya ... yah, begitulah. Tipe-tipe adik tsundere yang bakal nyusahin kakaknya. Wkwk.
Aku masih agak dendam sama Verlaine, btw. Belum bener-bener move on dari Storm Bringer:)
KAMU SEDANG MEMBACA
BSD (Bungou Sengklek Dogs)
FanfictionOneshots Berisi cerita angst; misteri; comedy; romance; chara x OC, random ship---pokoknya tergantung mood author-nya yang agak absurd. Masing-masing chapter berdiri sendiri. ______________ Bungou Stray Dogs © Asagiri Kafka & Harukawa_35
