Kembali

166 28 6
                                        

Pria itu memandang gedung-gedung tinggi berwarna hitam di sebelah bianglala raksasa dengan tatapan nostalgia

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pria itu memandang gedung-gedung tinggi berwarna hitam di sebelah bianglala raksasa dengan tatapan nostalgia. Seukir senyum lembut terpatri di wajah tampannya.

Pria itu menatap ke kejauhan, seakan-akan dengan begitu, ia dapat melihat bayangan dari dirinya yang dulu, bermain-main dan bertarung dalam kota yang kini dipeluk lembut oleh warna jingga.

Nakajima Atsushi mengulurkan tangannya, tatapan dari manik dwi warna itu berubah sedikit sendu. Ia menggapai awang-awang, menyesali kehilangannya yang paling besar.

Atsushi tak tahu apa yang terjadi kala itu. Saat bangun, ia terbaring di atas sebuah kapal, bersama dua orang rekan yang tersisa hidup dan enam kantong berisi jenazah.

Jantung Atsushi tak mau diam kala itu. Padahal ia tak sedang melakukan hal melelahkan. Kantong-kantong itu membuatnya lemas. Penyesalan di wajah kedua rekannya pun membuat bebannya bertambah.

Atsushi segera membuka kantung-kantung itu, memastikan bahwa isinya bukanlah orang-orang yang paling dia kasihi. Namun, bocah harimau itu bagaikan terkena serangan jantung saat melihat seraut wajah yang telah terpejam. Ada darah di mana-mana di dalam kantung jenazah. Atsushi berteriak dan mengutuk. Dia mengutuk dirinya sendiri bermalam-malam, bahkan sampai sekarang.

"Di mana Dazai-san!?" tanya Atsushi dengan tenaganya yang kasih tersisa.

Kyoka, Tanizaki bersaudara, Haruno Kirako, Ranpo, bahkan Kunikida Doppo tengah beristirahat dengan tenang di dalam kantung. Namun, Atsushi tidak mendapati sosok jangkung seniornya di mana pun. Jangan-jangan Dazai masih hidup?

Sayangnya, Dokter Yosano menggeleng dengan enggan. Wajahnya begitu rumit sampai sukar dijelaskan. Kenji yang ada di sebelahnya pun sama berdukanya. Dia terus menekuk wajah, padahal biasanya tersenyum cerah.

"Kami tidak bisa membawa mayat Dazai. Tidak ada waktu," kata Yosano penuh penyesalan. Gemuruh amarah melingkupi dadanya, sesal meraup seluruh rasanya.

Padahal ada dirinya di Agensi Detektif. Kenapa semua orang tetap saja mati?!

Atsushi hampir kehilangan semangat hidupnya sendiri. Seperti Dazai saja, begitu yang dia pikir. Dia terus menyalahkan diri sendiri. Dia juga menyesal karena Agensi terus-terusan meninggalkan Dazai. 

Pikiran itu ia tepis. Atsushi kembali memandangi Yokohama setelah lama pergi darinya. Mungkin sekitar dua belas tahun sudah berlalu. Sekarang, pemuda traumatis waktu itu sudah menjelma sebagai pria optimis. Atsushi berkata pada dirinya untuk tidak terjebak dalam masa lalu.

"Mereka tidak meninggalkanku, Anak Muda. Akulah yang menyuruh mereka untuk segera pergi."

Perkataan itu terbawa angin. Atsushi menengok pejalan kaki yang baru saja melewatinya. Senyum rekah di bibir tipis itu seketika setelah memastikan helai-helai sewarna malam yang tertiup angin senja. Ia tahu, selalu tahu bahwa firasatnya tidak akan pernah salah.

[]

BSD (Bungou Sengklek Dogs)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang