Asing (3)

118 25 0
                                        

Atsushi penasaran apakah keanehan yang menimpanya ini disebabkan oleh sebuah kemampuan khusus? Habisnya, tidak mungkin dia kembali ke masa lalu tanpa sebab sama sekali, kan?

Manik dwi warna itu melirik pemuda bersetelan hitam yang sedang duduk sambil mengayunkan kakinya di atas pagar pembatas. Pemuda itu tersenyum riang sambil menatap langit dengan satu iris gelapnya. Setidaknya sejauh ini dia tampak seperti pemuda biasa. Namun, Atsushi merasakan aura yang berbeda setiap iris cokelat gelap itu menatapnya lebih dari tiga detik saja.

"Ano ...."

Pemuda berambut perak itu bersuara. Dia ragu. Jika perkiraannya benar dan ini disebabkan oleh kemampuan khusus, mungkinkah dia akan kembali jika bersentuhan dengan Dazai? Beruntungnya, Atsushi tidak perlu mencari-cari sosok. Penyelamatnya itu karena dia sudah ada di depannya sejak tadi.

"Hm? Ada apa? Apakah akhirnya kau tertarik menanyakan namaku atau sesuatu?"

Dazai meloncat turun dari pagar pembatas sambil menatap Atsushi dengan penasaran. Namun, perasaan yang Atsushi dapatkan justru, seakan Dazai sedang menatap sebuah buku sekarang. Buku yang terbuka lebar, dan akan menyajikan beberapa informasi pada si pemuda berambut cokelat.

"Ah, s-soal itu ...."

Kalau dipikir-pikir, mereka memang belum berkenalan dengan benar.

Dazai versi remaja, yang sedang berdiri di depannya, tersenyum lebar sambil melipat tangan di dada. Tinggi mereka kurang lebih sama. Atsushi memiliki perasaan yang agak aneh tentang itu.

Berapa usia 'Dazai yang ini'?

Baru saja Atsushi hendak membuka mulutnya lagi, dering ponsel menginterupsi percakapan mereka.

Dazai cemberut. Dia menerima panggilan itu dan ekspresinya seketika berubah serius. Sebuah seringai dingin membuat Atsushi merinding. Tanpa sadar manusia harimau itu menelan ludah karena merasa tenggorokannya benar-benar kering, tercekat.

Rasanya Atsushi pernah satu kali melihat Dazai tersenyum seperti itu; saat mereka menghadapi musuh yang benar-benar merepotkan dan tidak tersisa cara lain untuk menang selain tipu muslihat. Sekarang saat dia melihatnya lagi, entah kenapa seringai itu jadi lebih mengerikan.

"Dimengerti. Aku akan sampai dalam beberapa menit." Dazai menutup panggilan dan menoleh pada Atsushi lagi.

"Maaf, ya, tidak bisa menemanimu jalan-jalan lagi. Aku harus pergi. Ah, tapi yang tadi itu menyenangkan, loh. Sampai jumpa lagi, Orang Asing!" Dazai melambai dan berbalik.

Tepat di saat itu, Atsushi hendak memanggil untuk memberitahukan namanya. Namun, sesuatu menahan pemuda itu hingga suaranya tercekat di tenggorokan dan pada akhirnya dia hanya bisa menatap kepergian Dazai dengan senyum pahit.

'Yang tadi itu menyenangkan' ... Dazai bilang begitu. Atsushi penasaran apakah Dazai senang karena sebenarnya di mafia, dia tidak punya teman? Apakah sebenarnya Dazai lelah melakukan pekerjaan orang dewasa? Atau ... apakah Dazai hanya ingin lepas dari rutinitas, tapi ternyata pekerjaan datang terus kepadanya tanpa berhenti?

Jauh dalam lubuk hatinya, Atsushi merasa bersimpati pada Dazai remaja ini dan ingin menyelamatkannya; membawanya ke tempat yang bercahaya. Sama seperti saat Dazai memperlihatkan cahaya padanya beberapa bulan yang lalu.

Namun, Atsushi tak menyadari, bahwa rasa simpatinya sama sekali tidak diperlukan.

🥀

Langkah-langkah ringan Dazai terhenti di depan sebuah gang, tempat sekelompok mafioso menunggu kedatangannya.

"Merepotkan juga, ya." Bocah lelaki itu berbalik sambil menggaruk kepala.

Atsushi kaget, dia ikut berhenti dan menunduk, bingung harus menyahut seperti apa. Rasanya, bocah harimau itu baru saja melakukan sesuatu yang sangat salah. Namun, dia memberanikan diri untuk mendekat.

Dazai menghela napas.

Sekilas, Atsushi bisa membayangkan senyum jenaka yang biasa Dazai sunggingkan. Namun, Dazai yang ini tidak tersenyum atau cemberut. Malah, tidak ada apa pun dalam ekspresinya. Seolah dia sudah mati rasa.

Atsushi tidak tahu kalau Dazai sangat tidak ekspresif di masa remaja. Sangat berbeda dengan Dazai yang dia kenal.

"Kamu tidak boleh sembarangan membuntuti orang lain seperti ini, loh, Orang Asing-san. Apalagi orang itu adalah aku ...." Entah kenapa Dazai terdengar agak menyesal.

Saat Dazai bicara, sekelompok mafioso keluar dari gang. Mereka bersenjata lengkap; dengan setelah serba hitam dan sub-machine gun di tangan masing-masing.

Atsushi mundur selangkah, refleks ia memasang kuda-kuda dan bersikap siaga. Namun, Dazai mengangkat tangannya seolah menahan para mafia yang tampak siap memberondong Atsushi dengan peluru.

"Soalnya anggota mafia yang lain tidak sepertiku ...." Dazai masih bicara. Dia menatap Atsushi seolah iba.

"Itu sebabnya Dazai-san kesal. Dia tidak ingin aku berurusan dengan para mafia ini," ujar Atsushi dalam hati, berpikir bahwa perkataan Dazai atas dasar peduli. Dia senang karena prasangka itu.

Namun, sayangnya tidak begitu.

Atsushi tersentak saat menatap wajah Dazai lagi. Di sana, di wajah yang pernah tersenyum lembut pada Atsushi itu, tercetak seringai dingin. Pandangan mata Dazai sedalam jurang neraka. Mendadak si bocah harimau merinding. Ia merasakan bahaya dari sosok yang tak lebih dari anak lelaki kurus dengan perban di sekujur tubuh.

"... mereka sama sekali tidak bisa menolak perintah."

Senyum Dazai makin lebar saat dia memberi isyarat menggunakan tangannya. Dan saat itu, tepat setelah dia selesai bicara, puluhan peluru memberondong tubuh Atsushi.

Para mafioso menembakinya atas perintah Dazai.

Atsushi benar-benar kaget; syok. Dia tertegun tanpa bisa berbuat apa pun. Hanya memandang hujan peluru yang kemudian menghujam tubuhnya.

"Dazai-san!"

"Atsushi-kun? Oh, syukurlah, akhirnya kau sadar! Kukira akan kehilangan bawahan berharga hanya karena seorang pengguna kemampuan yang tak sebegitu hebat!"

Atsushi duduk di atas ranjang ruang rawat Agensi Detektif. Di sebelahnya, Dazai tengah menatapnya dengan mata berbinar-binar dan ekspresi senang.

Jantung Atsushi masih memburu. Apa yang tadi dia lihat benar-benar membuatnya takut.

Kalau Dazai dari masa lalu menembakinya tanpa ragu ... bukankah Dazai yang ini pada dasarnya sama saja?

Atsushi menatap lelaki berkemeja biru itu dengan nanar. Dan Dazai dapat membaca dengan jelas sorot ketakutan di mata juniornya. Dia menarik kedua ujung bibir, membentuk senyum lembut. Kemudian, Dazai duduk di samping ranjang, dan membuat Atsushi refleks beringsut menjauh.

"Baiklah ...." Lelaki itu memikirkan sejenak kata-kata yang akan dia ucapkan. "Apa yang kau lihat dalam mimpi, Atsushi-kun? Apa kau benar-benar datang ke masa lalu?"

Apa yang Dazai tanyakan hanya membuat kepala Atsushi makin sakit. Dia tidak menemukan kata-kata untuk membalas. Seringai dingin dari Dazai versi remaja masih sangat membekas dalam benaknya. Seringai itu tumpang tindih dengan senyum polos yang Dazai punya sekarang.

Seketika, dia terbayang sikap dingin Dazai yang sesekali lelaki itu tunjukkan. Dia makin takut; makin kehilangan kepercayaan pada kemampuannya menilai orang lain.

"Apa Dazai-san ... sebenarnya memang orang yang seperti itu?"

Pada akhirnya, Atsushi tidak menjawab apa pun dan Dazai membiarkannya begitu saja. Bocah harimau itu hanya bisa tertegun dan membiarkan beberapa tetes air matanya jatuh.

BSD (Bungou Sengklek Dogs)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang