Tear in Half

220 34 2
                                        

Tawa gila terdengar seantero medan perang yang kini hanya menyisakan tumpukan mayat. Dua lawan tiga puluh, entah apa itu bisa disebut pertarungan ... atau justru sebuah pembantaian.

Pemuda yang sejak tadi terbaring di tanah perlahan membuka mata, dahinya mengernyit demi menahan sakit yang datang seiring pulihnya kesadaran. Ia mendudukkan diri, memaksa meski tulang-tulangnya menjerit.

Meringis, pemuda itu mengedarkan pandang ke segala penjuru hutan yang bisa tergapai penglihatan. Namun, tak didapatinya sosok yang terus mengeluarkan tawa serta teriakan melengking. Hingga sebuah ledakan memberitahunya bahwa sosok yang ia cari berada di antara pohon-pohon itu, menembakkan peluru-peluru raksasa yang daya rusaknya dapat diserupakan dengan lubang hitam.

"Chuu ... ya ...." Ia memaksakan diri untuk bangkit, berjalan ke arah rekan satu timnya yang sedang menggila.

Chuuya pasti menggunakan ojyoku setelah ia pingsan, pikir pemuda itu, Dazai Osamu. Sang kandidat eksekutif yang kabarnya akan segera dilantik menggantikan salah satu petinggi yang terbunuh dalam perang antar organisasi beberapa waktu lalu.

Dazai bertumpu pada salah satu batang pohon, mengernyit sakit sambil sebelah tangannya memegangi tulang rusuk bagian kiri. Entah mereka patah, atau hanya terasa nyeri. Yang jelas rasanya mengerikan hingga ia berharap untuk mati saja.

Tak sanggup ... lebih baik mati ....

Ia bersusah payah menghampiri tempat di mana sang rekan kerja yang tadi menggila, kini diam berlutut dengan wajah menengadah ke langit subuh. Tertatih, pemuda yang hampir seluruh tubuhnya terbalut perban itu menghampiri Chuuya. Tangannya terulur, mencoba menggapai si rambut jingga yang tampak kesakitan.

"Kamu harus membayar untuk ini ... Chuuya."

Berhasil. Jemari kurus itu berhasil menggenggam lengan yang dikotori darah, bekas luka, dan tanda serupa tato berwarna merah gelap. Mengembalikan kesadaran Chuuya yang hampir terhempas ke dunia lain.

Lingkaran cahaya berwarna biru muda tergambar seiring tato di tubuh Chuuya yang perlahan memudar hilang. Kemampuan milik Dazai sekali lagi menyegel kekuatan iblis---atau mungkin dewa---Arahabaki jauh ke dalam diri Chuuya.

Geraman serupa makhluk buas yang sejak tadi keluar dari pita suaranya kini menghilang. Chuuya kembali tersadar, kaget saat ia mendapati Dazai, musuh bebuyutan sekaligus rekan kerjanya di organisasi, menggenggam lengannya begitu erat. Tampak jelas pemuda kurus yang selalu mendambakan kematian itu kini mati-matian menahan rasa sakit demi bisa menghampiri Chuuya.

"Dazai?!" serunya, menopang tubuh sang rekan kerja yang tergeletak lemah, meski tubuhnya sendiri benar-benar terasa hancur. "Oi! Bertahanlah, dasar bodoh!"

Iris sewarna tanah itu menatap Chuuya penuh harap. Bibirnya tersungging, seringai memuakkan tampil meski pemiliknya tengah tersiksa.

"Chuuya, apa kau ... mau mengakhiri ... mimpi buruk ini?" Dazai meringis pada setiap kalimat. Tarikan napasnya saja terdengar menyakitkan.

"Apa maksudmu ...?" Chuuya gemetar. Ia tahu Dazai tidak akan mati semudah itu. Namun, tubuh mereka berdua pasti sudah mencapai batasnya.

"Bangun ... dan ...."

Dazai tak pernah menyelesaikan kalimatnya. Chuuya ingat ia juga kehilangan kesadaran beberapa saat setelah itu. Terbaring selama dua hari di kamar rawat hanya untuk mendapatkan sebuah fakta yang sangat melegakan.

Kini, sang eksekutif mafia terbaring di kasur empuknya. Luka dari pertarungan waktu itu, yang meski samar kembali terputar dalam mimpinya, telah hilang dengan sempurna. Namun, ada satu hal dari saat itu yang tidak pernah kembali sama.

"Jadi itu benar-benar mimpi buruk, huh?" gumamnya, tersenyum sinis seraya menatap langit-langit.

[]

BSD (Bungou Sengklek Dogs)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang