Ano Hi

612 97 12
                                        

"Oh, Chuuya~!"

Cukup dengan mendengar suara paling menyebalkan di muka bumi itu, kedutan kesal terpampang nyata di dahi Nakahara Chuuya.

"Jinko?"

Kali ini, yang berbicara adalah junior di sampingnya, Akutagawa Ryuunosuke.

Siapa sangka, musuh bebuyutan yang merangkap sebagai rekan satu tim saat kondisi darurat itu bertemu di saat yang benar-benar tepat.

Akutagawa sudah menatap galak pada macan putih yang berdiri di samping senior favoritnya. Lomba menatap itu terhenti saat keduanya menyadari Chuuya sudah hampir membunuh Dazai.

"Nakahara Chuuya-san?!" Atsushi hampir melupakan keberadaan salah satu eksekutif mafia itu.

"Chu-chuuya-san, Dazai-san akan--" Akutagawa tak melanjutkan ucapannya. Dia bimbang, siapa yang harus dipilihnya kali ini? Pastinya Dazai, kan? Namun, Chuuya adalah atasannya di mafia ....

"Chuuya, kau tidak malu berjalan di samping Akutagawa-kun?" Tawa iseng Dazai masih terdengar meski kondisinya sudah antara hidup dan mati.

Di sisi lain, Akutagawa langsung tertunduk, kabut hitam menguar di sekelilingnya. Apa maksud perkataan Dazai? Apakah berjalan di sampingnya adalah hal yang memalukan bagi Dazai? Kenapa? Kenapa? Kenapa ...?

"Oi ... Akutagawa ...." Atsushi mulai merasa sakit kepala. Harusnya, dia tak memenuhi permintaan Dazai yang terlalu memaksa untuk mengincar perban dan micin diskonan.

Namun, si Anak Naga hanya menggumamkan kata 'Dazai-san' berkali-kali dengan putus asa.

"O-oi ...."

"APA MAKSUDMU, HAH?!'

"Habis ...." Dazai memasang senyum menjengkelkan, "Akutagawa-kun lebih tinggi dari Chuuya, kan? Memangnya kamu tidak malu?"

Mendengar itu, Akutagawa kembali normal, entah bagaimana. Semangat hidupnya kembali menyala.

"HAH?! LEBIH BAIK TUTUP MULUTMU ITU, DASAR SIALAN!"

"Da-dazai-san ...."

"Chuuya-san."

"Oi, Akutagawa," bisik Atsushi, berniat menyusun strategi untuk menghentikan pertikaian itu.

"Aku tidak akan mendengarkanmu, Jinko."

"HIH?!" Atsushi merinding sendiri.

"Daripada itu, lebih baik kita lanjutkan pertarungan yang waktu itu tertunda." Mengatakan itu, Akutagawa mulai mengendalikan Rashoumon.

Atsushi menghindar, memanfaatkan kecepatan harimau untuk mencoba menyerang balik. Baiklah, dia akan mengabaikan seniornya saat ini. Dazai tidak mungkin mati, kan? Pertarungan antara dua anak asuh Dazai itu kembali terjadi di pinggir kota yang sepi.

"Lihat, mereka tak pernah akur ...." Dazai membuang napas kasar dengan wajah masam.

"Ah, lain kali kau harus mengajari bawahanmu itu," balas Chuuya sambil menenggak bir kalengan.

Dazai memutar kaleng kosong yang tadinya berisi daging kepiting. "Yah, mau bagaimana lagi, mereka adalah penerus kita. Mari lihat sudah sejauh apa perkembangan keduanya."

"Ah, kau benar."

Mungkin, untuk ketiga kalinya dalam sejarah, dua pilar Soukoku yang tak pernah bisa berdamai itu berdiri bersisian. Memperhatikan dua junior mereka beradu kekuatan sambil bertukar ejekan ringan.

[]

[]

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
BSD (Bungou Sengklek Dogs)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang