"Jangan Khawatir"

167 26 1
                                        

Dazai duduk membelakangi nisan Odasaku. Dia memeluk kaki, menenggelamkan kepala di antara celah lututnya. Angin berembus membelai rambutnya. Namun, lelaki itu lebih memilih tenggelam dalam pikiran sendiri.

Dazai membuka mata saat mendengar seseorang mendekat. Entah kenapa suara langkah itu terdengar akrab. Dia berbalik untuk melihat, lalu tertegun sementara dadanya serasa diremas-remas.

"Dazai." Sosok yang berdiri satu meter darinya menyapa dengan nada monoton. Namun, nada monoton itu benar-benar membuat perasaan Dazai campur aduk.

Dia bangun, masih tertegun, bingung harus memasang ekspresi apa. Iris cokelat gelapnya melirik batu nisan yang masih berdiam di tempatnya.

Masih sama.

"...."

Mulut Dazai terbuka, tapi tak ada kata yang keluar. Dia butuh lima menit untuk menenangkan diri dan meyakini bahwa semua ini hanya mimpi.

Mimpi. Berarti dia bisa melakukan apa pun di dalam mimpi ini.

"Yo!" Dazai melambai, mendekati sosok tinggi itu. Mencoba memasang ekspresi riangnya yang seperti biasa. "Kau tampak sehat, ya ... Odasaku."

Dazai tidak tahu ekspresi apa yang dipasang 'Odasaku' karena dia menunduk begitu jarak di antara mereka tertutup. Lelaki muda itu merasa tak sanggup. Jika dia menatap wajah Odasaku dari dekat sekali saja, rasanya dia tak akan bisa mempertahankan kewarasannya lagi. Atau setidaknya ... air mata yang sudah susah payah dia tahan sekian lama pasti akan tumpah saat itu juga.

"Kau jadi lebih tinggi." Odasaku mengamati bocah delapan belas tahun yang sekarang sudah tumbuh menjadi pria dewasa.

Dazai tumbuh dengan baik ....

Dia bangga pada Dazai. Namun tak punya cara untuk mengatakannya.

"Tentu saja, aku kan ... sudah tumbuh dewasa." Dazai masih tertunduk.

"Ada apa?" Odasaku tahu ada yang aneh. Tidak biasa. Karena Dazai yang normal akan tersenyum congkak sambil membanggakan tinggi badan dan pencapaiannya, bukan malah tertunduk dan bicara dengan suara lirih begini.

"Odasaku, aku ...." Dazai mengepalkan tangan erat. Emosi bercampur dalam dadanya. "Aku ...."

Lelaki itu pun menatap teman terbaiknya sambil tersenyum lebar. Persetan dengan air mata! Dazai merasa ... kalau dia tidak menatap Odasaku dengan benar kali ini, dirinya pasti akan menyesal.

"Aku sudah menjadi orang baik, kan?"

Mendengar pertanyaan itu, Odasaku tersenyum lembut dan mengelus kepala Dazai. "Ya. Kau membuatku bangga, Dazai."

Dazai tertegun. Mulutnya terkatup rapat. Hanya air mata yang mengintip keluar dengan malu-malu. Dia bersyukur. Meskipun hidupnya sendiri masih agak hancur, dia bersyukur sudah bertahan dan menunggu saat seperti ini tiba. Dia bersyukur sudah berjuang mati-matian demi melindungi Yokohama.

Dazai tersenyum. Itu adalah senyum paling tulus yang bisa dia perlihatkan pada orang lain. "Terima kasih," katanya. "Sekarang aku baik-baik saja. Hidupku masih agak berantakan dan bunuh diriku masih gagal terus, tapi aku baik-baik saja. Aku juga sudah mendapatkan rekan kerja yang bisa diandalkan. Yah, Yokohama memang sering berada dalam masalah, tapi aku akan melakukan sesuatu dengan itu nanti. Jadi ... jadi kau bisa istirahat dengan tenang, Odasaku. Kau bisa ... hanya mengawasiku dari atas sana."

Odasaku mengangguk. Pandangan hangatnya benar-benar membuat Dazai terenyuh. Dazai sendiri pun tidak menyangka, bahwa dia masih mempunyai emosi yang meledak-ledak seperti ini.

Padahal Dazai kira ... dia sudah mati rasa.

"Aku mengerti. Kau sudah tumbuh dengan baik, Dazai ...."

"Dazai ... Dazai!"

Tepat setelah sosok itu menghilang, Dazai mendapati dirinya dalam kegelapan total. Namun, ada satu lagi suara di sana. Suara yang sangat mengganggu dan berisik.

"Oi, Dazai sialan!"

Dazai terjaga dan mengernyit karena mendapati orang yang paling tidak ingin dia lihat ada di dekatnya.

"Chuuya?" Lelaki itu menguap, lalu mengusap wajah dan mengucek-ngucek matanya. "Kenapa dari seluruh tempat di Yokohama, aku harus bertemu denganmu di sini?"

"Hah?" Chuuya memasang ekspresi kesal seperti biasa. Tampak siap meludahi wajah Dazai kapan saja.

Dazai melirik nisan Odasaku lagi. Ada setangkai bunga lily putih di sana. Lelaki kurus itu pun mengernyit.

"Chuuya," Dazai menatap mantan rekannya dengan aneh, seolah Chuuya baru saja melakukan hal paling tidak masuk akal di dunia.

"Apa?" tanya Chuuya kasar. Hampir saja dia melumat onggokan manusia menyedihkan di depannya menjadi potongan kecil.

"Kamu sedang apa di makam temanku?" Dazai bangun, menahan keinginan untuk menginjak-injak bunga yang Chuuya letakkan di makam.

Mata Chuuya melebar, wajahnya sedikit memerah. Chuuya tidak siap dengan pertanyaan langsung seperti itu. Sambil menjauh dua langkah, lelaki itu menjawab setengah berteriak, "A-apa salahnya mengunjungi makam sesama rekan mafia? Lagi pula ... itu ... a-aku dan dia pernah sekali bekerja sama!"

Chuuya bahkan sudah hampir lupa bagaimana sosok Oda.

Kenapa juga dia berziarah ke sini? Apa karena penasaran melihat Dazai ada di sana, dan lebih penasaran lagi karena makhluk yang sudah tidak tampak seperti manusia itu menangis saat tertidur di tempat ini?

Tidak, Chuuya hanya iseng.

Hanya iseng! Itu saja.

Dia. Cuma. Iseng.

"C--"

Dazai tertawa, memotong apa pun yang hendak diucapkan Chuuya. Dia menghadiahkan satu senyum simpul pada mantan rekannya, lalu pergi tanpa mengatakan apa-apa.

"O-oi!" panggil Chuuya seraya mengikuti langkah si kurus-jangkung-penuh-perban itu.

"Aku tidak mau bertengkar di depan Odasaku, jadi kali ini Chuuya aku maafkan," kata Dazai sambil melambai.

"Hah?! Apa maksudnya itu?!" Chuuya tidak terima.

Dazai tetap melenggang pergi.

"Oi!" panggilannya diabaikan. Chuuya makin kesal. Tangannya terkepal erat, siap meninju Dazai kapan saja. "Jangan abaikan aku!"

"Iya, iya," sahut Dazai tak peduli, mengorek telinganya yang sakit karena suara melengking Chuuya.

"Dasar sialan!"

BSD (Bungou Sengklek Dogs)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang