Titik-titik hujan belum juga puas mengguyur jalanan padat Yokohama. Di daerah pelabuhan tempat kapal-kapal besar bermuatan berat bersandar nyaman, sekumpulan pria berpakaian hitam berlalu-lalang. Kesibukan di awal malam itu agak tidak biasa. Namun, tidak ada yang menghentikan mereka.
Mereka adalah para penguasa malam, Port Mafia.
"Percepat! Kita harus membereskan semuanya sebelum fajar!"
Mengawasi para mafioso itu, seorang lelaki muda berambut jingga merentangkan tangannya sembari memberi komando. Ia sendiri berdiri di bawah naungan. Kemampuan khususnya tidak mempan dipakai pada titik air.
"Chuuya-san, bagaimana dengan satu kapal yang terjebak badai itu?" tanya salah seorang anak buahnya.
Nakahara Chuuya berdecak. Sepasang iris birunya menatap lautan yang berombak, berwarna kelabu, hampir menyatu dengan langit mendung. "Aku akan melakukan sesuatu tentang itu," katanya.
Kargo-kargo yang tengah mereka bongkar-muat berisi macam-macam hal yang tidak boleh ditemukan polisi: senjata ilegal, bom, senapan otomatis, pistol---segala macam yang dibutuhkan anggota Port Mafia agar mereka, seperti perkataan sang bos beberapa tahun silam, tidak harus bertarung menggunakan pisau dapur. Namun, Chuuya memiliki firasat buruk dan sebagai anak yang besar di tengah konflik dan kejamnya daerah abu-abu Yokohama, firasatnya jarang meleset.
Dia kembali berdecak dan memikirkan cara untuk menyelamatkan kapal yang terjebak itu---tentu bukan dengan mengangkatnya sampai ke pelabuhan.
"Yo, Chibikko-kun! Kenapa seorang eksekutif ada di tempat kumuh begini? Dapat pekerjaan tambahan karena ketahuan membolos? Wah, wah, kau harus belajar banyak dariku---Dazai Osamu-sama yang hebat ini! Walau sudah terlambat bagimu untuk mengejar pencapaianku, setidaknya Bos tidak akan menganggapmu barang sekali pakai!" Sebuah suara riang menyapanya.
Saat itu, Chuuya tahu firasat buruknya baru saja terjadi.
***
Para anggota Port Mafia, terutama mereka yang sering berada di markas utama, sudah terbiasa dengan pertengkaran kekanak-kanakan dari dua orang paling hebat yang tidak akan sanggup mereka lawan. Sekarang pun tak ada bedanya.
"Padahal badai sedang mengamuk," gumam salah seorang kru pembongkar muatan, mengernyitkan dahi sambil melihat ke arah Dazai dan Chuuya yang sibuk berdebat sambil kejar-kejaran.
Dazai tertawa-tawa sambil menginjak genangan air, berniat menyipratkannya ke wajah marah Chuuya. Sementara si rambut jingga mengejar Dazai sambil mengayunkan tinjunya yang konon sanggup menghancurkan sebuah batu.
"Sudah kuduga Chuuya tidak akan bisa mengalahkan aku~!" Dazai tertawa lagi, dia melompat ke pemecah ombak, lalu berjalan santai sembari terus mengejek Chuuya.
"Oi! Turun dari sana! Aku tidak sudi menggendongmu naik jika kau jatuh ke air!" teriak Chuuya, yang sudah menyerah untuk membalaskan dendamnya dua hari lalu pada maniak bunuh diri itu.
"Siapa juga yang mau diselamatkan oleh siput lambat seperti Chuuya!" Dazai berbalik memandang lautan yang seolah tengah mengamuk. Matanya bersinar antusias hingga membuat firasat buruk Chuuya semakin menjadi.
"Apakah tidak masalah kita membiarkan mereka di sana?" tanya seorang kru dari kapal kargo yang tidak pernah menyangka bahwa penanggung jawab yang dikirim oleh bos mafia ternyata adalah remaja. Dua orang pula, dengan tingkah super mencengangkan.
"Lebih baik kita tidak ikut campur masalah kedua orang itu. Jika kau ingin selamat, kerjakan saja bagianmu dengan benar." Seorang mafioso memberinya sedikit saran.
Diperingatkan seperti itu, para kru kapal yang mau tidak mau ikut membantu proses bongkar muat pun mempercepat pekerjaan mereka tanpa menghiraukan teriakan Chuuya tepat saat Dazai benar-benar terjun ke laut lepas.
"JANGAN BUNUH DIRI DI DEPANKU DASAR BODOH!" Suara Chuuya hampir mengalahkan ributnya angin dan hujan.
Dia hendak terjun menyelamatkan rekan sialannya itu, tetapi tubuh Dazai sama sekali tidak terlihat. Jantung Chuuya berpacu cepat, gelisah, dan sedikit jengkel.
Sekali lagi, dia jengkel dan bukannya takut atau apa pun!
Setelah sepuluh menit berlalu dan Chuuya belum juga bisa melihat tubuh atau bahkan jas yang Dazai kenakan, dia mulai menyerah. Saat itulah salah satu anak buahnya menghampiri, melaporkan bahwa proses bongkar muatan sudah selesai dan memintanya untuk kembali ke markas terdekat. Air dan angin semakin menjadi hingga orang-orang tidak punya pilihan selain menepi. Mendekam dalam ruangan yang hangat, dan bukannya terjun ke laut yang dingin.
Chuuya mengangguk. Sekali lagi dia melirik ke arah laut, menunduk sembari memejamkan mata, kemudian berjanji akan datang lagi ke sana segera setelah badai itu reda.
KAMU SEDANG MEMBACA
BSD (Bungou Sengklek Dogs)
FanfictionOneshots Berisi cerita angst; misteri; comedy; romance; chara x OC, random ship---pokoknya tergantung mood author-nya yang agak absurd. Masing-masing chapter berdiri sendiri. ______________ Bungou Stray Dogs © Asagiri Kafka & Harukawa_35
