Siang itu matahari bersinar terik; terlalu terik hingga Dazai tidak bisa diam di dalam rumah-kontainer-nya dan memutuskan untuk menghabiskan hari di markas utama Port Mafia.
Ada setumpuk berkas di mejanya yang menunggu untuk diselesaikan. Namun, Dazai lebih tertarik dengan video game daripada tumpukan kertas membosankan itu---seperti remaja tujuh belas tahun pada umumnya. Sayangnya, belum sempat pemuda itu menyelesaikan satu set game, pintunya dibanting terbuka diikuti suara menggelegar milik Nakahara Chuuya.
"KAU DARI MANA SAJA, BOCAH SIALAN!?" Chuuya menghampiri Dazai---yang baru beberapa hari lalu dilantik sebagai anggora eksekutif---sambil mengepalkan tinjunya.
"Waw." Dazai memperhatikan kedatangan rekan kerjanya seolah Chuuya adalah rusa kecil yang baru mendobrak keluar dari kandang. "Itu tindakan yang sangat berani, Chuuya-kun. Kamu pikir apa saja yang bisa aku lakukan dengan gelarku sekarang?"
Chuuya tidak menjawab, hanya mendecih. Sejujurnya, dia bisa membayangkan hal mengerikan. Bahkan tanpa embel-embel eksekutif, Dazai Osamu adalah tangan kanan bos yang prestasinya tidak bisa dibandingkan dengan siapa pun dalam organisasi. Namun, saat ini Dazai tidak menunjukkan sisi kejamnya. Alih-alih, dia malah bertingkah seperti bocah remaja yang menyambut kedatangan seorang teman yang menjengkelkan.
Orang ini bisa berganti persneling kapan pun dia mau.
Dazai adalah orang yang mengerikan.
Dazai memang bisa mengeksekusi Chuuya di tempat, saat itu juga. Namun, Chuuya lebih dari yakin bahwa hal seperti itu tidak akan terjadi. Dazai dan organisasi masih membutuhkannya. Chuuya akan bertahan meski tahun-tahun awalnya di mafia sangat tidak menyenangkan.
Lagi pula, sekarang dia memiliki 'keluarga'.
"Angkat bokong pemalasmu itu!" Chuuya menendang sofa sampai Dazai, yang duduk di atasnya, terjengkang ke lantai.
Pemuda berperban itu mengaduh dengan berisik, mengutuki Chuuya, tidak beranjak dari tempatnya terbaring dengan wajah mencium lantai.
"Itu menyakitkan!" protes Dazai, persis anak kecil yang merajuk.
"Cepat singkirkan wajah sialanmu dari lantai dan ikut aku sekarang juga!" Chuuya juga meneriaki Dazai seperti bocah.
Dua bocah berisik yang selalu bertengkar. Itulah mereka. Namun, keduanya juga merupakan salah satu pilar kekuatan utama Port Mafia.
Tidak ada yang bisa memprotes keributan setingkat ini sekarang.
"Aku tidak akan pergi dari tempat ini sebelum Chuuya mati!" balas Dazai sambil menendang-nendang lantai. Hidungnya berdarah karena membentur permukaan keramik cukup keras. Namun, rasa sakit seperti itu sudah tidak pernah Dazai pedulikan.
"Kau saja yang mati, dasar sialan!" Chuuya tidak mau kalah.
Dazai akhirnya bangun dan menatap Chuuya dengan sengit. "Kau mengatakan hal kejam itu kepada orang yang baru saja gagal dalam usaha bunuh dirinya. Minta maaf. Ayo cepat bersujud dan minta maaf kepadaku!"
Chuuya ingin menendang wajah menyebalkan Dazai saat itu juga. Sosok yang katanya legenda berjalan, eksekutif termuda dalam sejarah Port Mafia, baginya tidak lebih dari anak kecil pemarah yang sering merajuk karena usaha anehnya untuk bunuh diri selalu gagal.
"Tidak akan pernah!" Chuuya melipat tangan di depan dada, memalingkan wajah setelah meludahkan ribuan penghinaan kepada Dazai.
"CHUUYAAA--uhuk!" Dazai berteriak sampai dia terbatuk-batuk, lalu ingat kalau sejak kemarin, tenggorokannya belum disentuh apa pun selain sebotol wishkey dan dua kaleng daging kepiting.
Dazai juga lupa kapan terakhir kali dia makan dengan benar, tapi perutnya sudah berteriak minta diisi sejak tadi pagi.
Pemuda itu bangun dan meraih mantel hitamnya. "Baiklah, Chuuya. Ayo kita makan kare di restoran barat dekat sini. Ternyata aku kelaparan."
"Hah?" Chuuya tidak bisa tidak heran dengan kelakuan rekan ajaibnya yang satu ini. Namun mau bagaimana lagi? Dazai-lah yang sedang dibicarakan di sini. Tentu saja sikapnya tidak sama dengan orang normal mana pun
"Ayo kita makan kare! Aku kelaparan!" Dazai mengulang kalimatnya dengan jengkel, memelototi Chuuya sebelum lebih dulu berjalan meninggalkan ruangan.
"Ck! Kau yang traktir," dengus Chuuya sembari mengikuti Dazai yang jalannya agak terpincang.
____________✨

I'm beeekkkk~ maaf ya lama. 🥺
Btw, ada yang udah baca manga Fifteen? ><
KAMU SEDANG MEMBACA
BSD (Bungou Sengklek Dogs)
Fiksi PenggemarOneshots Berisi cerita angst; misteri; comedy; romance; chara x OC, random ship---pokoknya tergantung mood author-nya yang agak absurd. Masing-masing chapter berdiri sendiri. ______________ Bungou Stray Dogs © Asagiri Kafka & Harukawa_35
