Suara itu sangat dingin, seolah keluar dari dasar jurang kegelapan. Suara yang tidak memiliki emosi, tidak ada perasaan, belas kasih, atau sesuatu yang bisa disebut manusiawi.
Atsushi gemetar di tempatnya berdiri, ketakutan memeluk seluruh tubuhnya. Dia merinding, menyaksikan pemandangan yang merupakan kenangan dari musuh bebuyutannya. Kenangan itu milik Akutagawa Ryuunosuke. Entah mengapa, dia kini dipersilakan menjadi penonton.
Atsushi melihat rivalnya berusaha mati-matian. Darah di banyak tempat, dan seorang pemuda lain dengan setelan sewarna malam.
Bocah harimau itu mengenali pemuda yang menutup sebagian wajahnya dengan perban; itu adalah sosok muda seniornya di Agensi Detektif. Dazai Osamu yang selalu dia anggap sebagai penyelamat.
Atsushi tidak bisa mempercayai indranya. Dia tidak mendapati Dazai yang biasa; Dazai yang konyol, ceria, dan pemalas.
Sosok di hadapannya saat ini adalah pemuda yang hanya memiliki pesona dingin khas mafia. Kekejaman memancar kuat dari iris cokelat kemerahannya.
Dazai bersedekap, menatap rendah Akutagawa yang kembali muntah darah. Atsushi seolah bisa merasakan penderitaan, putus asa, dan tekad kuat yang menyala dalam dada Akutagawa.
"Apa hanya itu kemampuanmu?!" Dazai yang saat itu benar-benar tanpa ampun. Dengan mudah dia menetralkan serangan Rashoumon, meninju wajah Akutagawa dan kembali membentak pemuda ringkih itu.
Atsushi merasakan kengerian saat diam-diam menatap manik suram Dazai dan tidak mendapatkan sedikit pun sorot jenaka atau lembut yang biasanya dimiliki lelaki itu.
Sosok muda itu bukanlah Dazai yang dia kenal. Atsushi termundur, tubuhnya menjadi agak linglung.
Kenapa dia bisa berada di tempat itu?
"Atsushi-kun!"
Bocah harimau itu tersentak. Begitu membuka mata, yang didapatinya adalah dua iris sewarna tanah. Tersenyum tenang dan memperhatikannya.
Atsushi terdiam, yang tadi dilihatnya mungkin hanya mimpi buruk karena terlalu banyak mendengarkan cerita Kyoka. Sosok itu kini memberinya sebuah senyum dan uluran tangan. Bertanya dengan hati-hati tentang keadaannya saat ini.
Atsushi ragu sejenak. Ia memandang Dazai di hadapannya. Mimpi tadi benar-benar sesuatu yang aneh dan mengerikan. Dia takut. Dia tidak percaya. Namun, Akutagawa pernah berkata Dazai di masa lalu adalah sosok yang sama sekali berbeda.
"Hm? Ada apa?" tanya senoirnya, memiringkan kepala saat menatap Atsushi dengan heran.
Perasaan polos mengambang begitu saja saat melihat wajah Dazai saat ini. Atsushi menggeleng. Dia meraih uluran tangan itu dan kembali berdiri.
Pasti yang tadi itu hanya mimpi buruk. Dazai yang dia kenal adalah orang yang hangat. Lagi pula, dia tidak ingin tahu bagaimana seniornya semasa di mafia dahulu.
"Dazai-san adalah orang yang sangat baik," gumam Atsushi. Tak menyadari bahwa Dazai diam-diam mendengar hal itu, dan menatap penuh kegamangan.
Pria jangkung itu tersenyum tipis dan menepuk kepala Atsushi. Menyuruhnya untuk melangkah lebih cepat.
Mereka akan pulang, setelah pertarungan yang panjang dan melelahkan. Tanpa sekalipun menoleh ke belakang lagi.
[]
KAMU SEDANG MEMBACA
BSD (Bungou Sengklek Dogs)
Fiksi PenggemarOneshots Berisi cerita angst; misteri; comedy; romance; chara x OC, random ship---pokoknya tergantung mood author-nya yang agak absurd. Masing-masing chapter berdiri sendiri. ______________ Bungou Stray Dogs © Asagiri Kafka & Harukawa_35
