Monochrome

135 26 0
                                        

"Hei, hei, beritahu aku. Apa yang membuatmu berhenti dari mafia?"

Suara itu membuat Dazai terbangun. Suara yang sangat dia kenali. Suara yang membuatnya meragukan pendengarannya sendiri.

Lelaki 22 tahun itu melihat sekeliling. Dan matanya melebar saat menangkap sesosok siluet hitam di sudut ruangan tempatnya tidur.

"Pasti karena alasan yang kuat, kan? Apa kamu akhirnya menemukan sesuatu? Sesuatu yang itu, yang tidak pernah berhasil aku temukan setelah mencari ke mana-mana, apa kamu berhasil melihatnya?" Sosok itu kembali bicara. Dia maju satu langkah, terdengar sangat penasaran.

Sejenak Dazai tercekat. Dengan apa dia harus menjelaskan alasannya? Lagi pula, rasanya dia belum benar-benar menemukan 'sesuatu' yang sosok berpakaian hitam-putih itu maksudkan.

"Jangan bilang kau cuma bosan diatur-atur oleh Mori-san?"

Dazai masih diam sambil memandang sudut ruangan. Hingga akhirnya dia temukan kata-kata yang tadi sempat kabur berlompatan, keluar dari batok kepalanya dan hilang entah ke mana.

Lelaki itu tak lagi sibuk menyusun kata-kata. Dia bangun dan tersenyum, menghampiri si penyusup yang entah sejak kapan sembunyi di balik bayang-bayang di sudut ruangannya. 

Dazai berjongkok, menatap satu iris cokelat gelap yang mengintip dari balik kegelapan.

"Seorang teman memberitahuku untuk berhenti. Katanya, dicari bagaimanapun hal yang aku inginkan itu tak akan pernah ditemukan." Dazai menatap ke kejauhan meski pandangannya menghujam tepat ke arah sang lawan bicara.

Ah, sosok yang mengintip dari balik bayangan ini. Sosok yang membuatnya diserang nostalgia. Hangat, hangat, lalu sakit di saat bersamaan. Kalau dipikir-pikir, dia dulu hanya sependek Chuuya.

Lelaki itu memeluk lutut sambil memandang sosok berpakaian monokrom---kemeja putih, dasi, celana, dan jas hitam yang agak kebesaran.

Dazai tersenyum. Tangannya lalu terangkat mengelus helai-helai cokelat gelap milik sosok di depannya dengan lembut. "Katanya aku bisa menemukan sesuatu kalau menyelamatkan orang lain."

"Omong kosong." Sosok itu menyemburkan tawa penuh ejekan.

Setuju. Dazai mengangguk dan tersenyum. Masih tersenyum walau hatinya sudah tak karuan. Karena dia tahu ... dia tahu lebih dari siapa pun, bahwa dirinya yang dulu, yang sebelum bertemu dengan Odasaku, pasti akan bilang begitu. Namun ....

"Memang omong kosong. Tapi hidupku ... ah, hidup kita jadi lebih baik setelah itu, loh," ujar Dazai.

Sosok kecil di depannya mengerutkan dahi, menatap Dazai skeptis. Namun, lelaki itu tidak kehilangan senyum dan ketenangan. Kata-kata yang semula hilang kini berkumpul di ujung lidahnya, siap untuk dikeluarkan.

"Kalau tidak percaya ...." Dazai bangun dan menarik sosok itu keluar dari bayang-bayang, membiarkan sinar matahari pagi yang lembut menyinari mereka berdua. "Kau harus mencari teman agar kau tidak merasa kesepian lagi!" 

Sosok monokrom itu terpaku. Dia tidak percaya, tidak bisa percaya pada senyum lembut penuh cahaya yang ditampilkan oleh versi dewasa dari dirinya. Kata-katanya seketika hilang. Cahaya matahari membuat matanya silau. Namun, cahaya itu terasa lembut dan hangat---tidak buruk sama sekali.

"Aku mengerti," jawabnya, sebelum menghilang ditelan waktu.

BSD (Bungou Sengklek Dogs)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang