Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Menghela napas, pria itu melepaskan segala beban dan sesak yang terus mengganjal hati. Namun, meskipun ia berniat seperti itu, sesuatu dalam dadanya masih saja mencegat dirinya untuk bernapas dengan bebas. Manik cokelat kemerahan itu terpejam, kepala tengadah, membayangkan berbagai kenangan yang dulu pernah dilalui. Tidak ada yang terlalu bagus, sama sekali tidak ada.
Apa hidupnya memang sekosong ini? Dia bertanya-tanya, berandai jika saja sejak awal tubuh jangkungnya ini hanya kumpulan daging tanpa nyawa. Apa artinya hidup? Sepanjang umurnya, pria muda itu sudah mencari-cari jawaban yang hampir mustahil didapatkan. Lalu, saat ia berpikir telah mulai menemukan jawaban, kenyataan menamparnya dengan begitu mengerikan---begitu keras dan tidak bermoral sampai ia terbangun dari angan-angan yang terasa manis.
Apakah dia sudah salah? Apakah selama ini ... dia sudah berada dalam kesalahan abadi yang takkan berujung ke mana pun kecuali kegelapan yang hampa?
Sekali lagi, dia menghela napas. Sepasang iris yang terbuka menatap ramainya jalanan di bawah, meski yang terlihat hanyalah seperti sekumpulan semut berlalu lalang.
Gedung tertinggi yang bisa dia jangkau saat ini, Dazai menenangkan dirinya sekali lagi, meraba dada yang pernah terluka begitu parah. Bukan luka fisik yang mengganggunya. Hanya saja ....
"Odasaku!"
"Cih!" Membuang muka ..., ia membuang muka dari kenangan yang pernah begitu menusuk relung hati. Sekarang rasanya hampa. Membuatnya mengepal tangan kuat-kuat.
Ia tersenyum, menghela napas panjang saat berbalik, membelakangi pinggir atap yang sedikit lagi membawanya pada kemungkinan berhasil menggapai uluran tangan Dewa Kematian---yang sudah mengejeknya sejak lama. Namun, itu bukanlah untuk kembali dan melanjutkan hidup yang hanya seperti kumpulan mimpi buruk. Ia sama sekali tidak berniat untuk itu.
"Lebih baik aku menyusulmu. Aku ingin sekali memukulmu, dasar bodoh!" Perkataan yang emosional itu diiringi dengan tubuhnya yang sengaja limbung, menjatuhkan diri menuju peluk udara.
Kalau ada orang lain, pasti mereka menyuruhnya untuk turun. Ya, dia akan turun dengan senang hati ..., tetapi tangga terlalu jauh dari sini, jadi biarlah ia turun ke bawah seperti ini.
Matanya terpejam, menikmati angin dan sensasi jatuh yang mulai terasa akrab---terasa begitu menyenangkan. Semoga ... dia berhasil kali ini.
Sedikit lagi ....
Sedikit lagi ....
Tinggal sedikit lagi ....
Hanya sedikit lagi sampai ....
"Maaf, [Name]."
... matanya terbuka, pias dan kosong, wajah itu menghadap ke langit. Terukirlah senyum yang begitu menyakitkan, menyakiti relung siapa pun yang bisa melihatnya lebih dalam. Senyum indah yang sanggup memesona sesiapa ... kecuali Dewa Kematian yang selalu pria muda itu tantang.
Beberapa detik lagi dan tubuhnya akan hancur karena menabrak trotoar--