Setelah empat tahun

1.2K 208 38
                                        

Seorang pria berkacamata hitam, dengan sebatang rokok ditangannya nampak sedang tertunduk sendu menatap batu nisan dihadapannya saat ini.

Perasaannya masih sama, sedih tak berkesudahan dan perasaan hancur yang berkepanjangan. Matanya yang kini berlinangkan air itu hanya mampu menatapi nama dan tanggal yang tertera dibatu nisan tersebut.

Aminah Binti Suarjo, sebuah nama yang tercetak jelas disana, tanggal wafatnya kini telah berlalu selama empat tahun, namun tetap saja perasaan hancur bagi seorang cucu yang ditinggalkan tak akan terhapus walau puluhan hari telah terlewati.

Masih sangat dia ingat bagaimana neneknya selalu menyemangati dan menuangkan kasih sayang saat peran serta sosok orang tuanya tak lagi membersamai.

Ingatannya tak pudar, masih tergambar jelas saat neneknya mengambil ijazah SMAnya sebagai perwakilan orang tua, dan dengan bangga  menghadiahkan sebuah peci serta sejadah, dengan harapan agar dirinya bisa menjadi anak yang Rajin beribadah.

Akan selalu pria itu ingat bagaimana neneknya dengan yakin mengatakan tak menyukai daging ikan saat di meja makan mereka hanya tersedih satu ekor ikan berukuran kecil.

harus bagaimana pria itu menghadapi segala hantaman kenangan yang selalu saja muncul dan memberikan efek rindu yang tak bisa terobati.

Sang nenek meberikan kehidupan yang amat sangat berarti, pun saat dimana dia tak tau harus berbuat apa menghadapi perceraian orang tua, sang nenek dengan penuh kasih sayang menenangkan dan mengatakan "Tidak apa-apa, nenek akan selalu ada untuk kamu"

Dan sekarang? setelah yang terjadi, bisakah ucapannya disebut sebuah kebohongan sebab wanita parubayah itu pergi, meninggalkannya seorang diri, dan nyatanya tak selalu ada untuknya.

Pria yang kini tengah menangis di samping sebuah makam itu  adalah Dipta, seorang pria dewasa berumur 25 tahun yang kini benar-benar hidup sebatang Kara, keluarga satu-satunya yang dia punya juga telah meninggal akibat suatu insiden yang sampai sekarang Dipta tak terima.

Kejadian lima tahun yang lalu membuat sosok Dipta kian dingin tak tersentuh, jika dulu setidaknya ada senyuman ketika bertemu orang lain seperti yang ajarkan oleh neneknya.

Kini Senyuman itu mungkin tak pernah terlihat di lima tahun ini. Bukankah salah seorang pernah mengatakan pada Dipta, jika dia tumbuh tanpa ajaran orang tua.

Kini Dipta akan memperlihatkan seperti apa yang dimaksud pria itu dulu.

Dipta menyeka air matanya, dadanya kian sesak jika mengingat bagaimana sang nenek harus berpulang akibat serangan jantung karena mendengar berita tentangnya, dan akhirnya, nenek Mina tanpa sosok Dipta disampingnya, bagaimana nenek kesayangannya itu harus dikuburkan sedang dia juga sedang diadili di pengadilan.

Dulu, empat tahun yang telah lalu, Sekeras apapun Dipta meminta untuk dipertemukan pada nenek Mina, tetap saja tak ada kelonggaran untuk dia, seolah dia adalah kriminal paling bersalah di negara ini, seolah dia adalah koruptor yang  telah meraup uang negara bertriliunan rupiah.

Padahal, dia hanya ingin setidaknya bertemu dengan neneknya untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan berjanji akan baik-baik saja disini, agar kiranya sang nenek tak menerka-nerka serta terlalu mengkhawatirkan apa yang terjadi padanya.

Pria itu tak ingin nenek Mina mendengar kabarnya dari orang lain dan akan mempengaruhi kesehatannya.

Walaupun sebenarnya, pihak kepolisian telah mengirimkan surat dan mendatangi langsung untuk mengabari, hanya saja Surat itu tak terbaca dan saat beberapa kali di kunjungi, nenek Mina tak berada dirumah.

Nenek Mina sebatang Kara hidup di rumah sederhana yang biasanya ada Dipta bersama dengannya, wanita paruhbaya saat itu nampak sangat mengkhawatirkan kondisi cucunya setelah sebelumnya ada polisi yang datang dan mencari Dipta dirumahnya.

If it is YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang