Dipta baru saja menyuapi nenek Mina makanan yang disediakan rumah sakit, ini sudah hari ketiga wanita itu dirawat disini, setelah diperiksa lebih lanjut, wanita parubayah itu mengalami memar dibagian belakang kepala yang sering mengakibatkan nenek Mina pusing, itulah sebabnya wanita itu masih dirawat hingga saat ini.
Pagi ini dipta membeli nasi kuning dengan lauk telur goreng juga kerupuk. pria itu memakannya dengan lahap di atas karpet plastik miliknya
Disamping Dipta, ada Aca yang sejak tadi mengamati bagaimana Dipta dengan lahapnya makan, tanpa mecoba basa-basi untuk menawarinya.
Ini salah satu keanehan, malam tadi saat Dipta makan gorengan yang dia beli, Aca tak bisa menyentuh gorengan itu, tapi saat itu dari tangan Dipta, makanan itu bisa masuk kemulut Aca.
Itupun Aca memaksa dipta menyuapinya..
Maka setelah kejadian itu, Aca terus saja meminta apapun yang Dipta makan. Bukan karena Lapar, hanya dia selalu ingin mencoba bagaimana rasa makanan yang dimakan pria itu
"Tata, Aca juga mau makan itu" pintanya
Bukannya mengindahkan permintaan Aca, Dipta malah membelakangi gadis yang akhirnya cemberut akibat tingkahnya.
"Tata pelit banget, Aca cuman minta sedikit" Sambung Aca.
Dipta melirik nenek Mina yang nampak sedang fokus membaca Al-quran di atas brankarnya, kali ini Dipta harus bisa mengontrol dirinya untuk tidak terpancing berbicara pada Aca.
Bisa-bisa nenek Mina akan terganggu lagi atau malah salah paham seperti tempo hari.
Aca tidak suka diabaikan apalagi itu perihal makanan yang sejak kemarin dia minta pada Dipta, Aca berpindah tempat kedepan Dipta lagi, mencoba membujuk agar kiranya Dipta akan menyerahkan sesuap untuknya.
"Tata, pliss!! Aca mau makan nasi yang kaya gitu" Pintanya, matanya berkedip lucu berharap Dipta akan luluh dengan tingkah manisnya.
Alih-alih luluh, Dipta malah dengan sengaja makan dengan lahap dan ekspresi muka yang seolah menunjukan lezatnya makanan yang baru saja masuk di dalam mulutnya.
"Ya udah ambil sendiri aja, punya tangan kan" Jawab Dipta berbisik, tak ingin nenek Mina mendengarnya.
"Kan Aca nggak bisa makan kalau bukan Tata yang suapin. Tata lupa yah?"
"Yaudah nggak usah makan, ogah gue suapin lo" ketusnya, mulutnya masih sibuk mengunyah makanan yang sesuap demi suap masuk dimulutnya.
Aca cemberut, kali ini dia yang membelakangi Dipta, ngambek maksudnya. Hanya saja, Dipta tak merasa perlu untuk membujuk ataupun meminta maaf atas kelakuannya.
Tapi agaknya, Dipta merasa menjadi manusia yang tak punya hati setelah mengingat kelakuannya pada Aca. Gadis itukan hanya meminta sesuap, Dipta malah tak memberikan.
Bukan, ini bukan hanya tentang Aca yang meminta makanannya, tapi Dipta berfikir dia tak punya kewajiban untuk memberikan makanan pada Roh kesasar itu.
Bagaimana jika Aca semakin lengket padanya jika Dipta menyuapi?Tidak, hanya dengan membayangkan itu, Dipta sudah merinding dibuatnya.
Pria itu menatap Aca yang masih setia membelakanginya, Dipta yakin mulut Aca sudah maju akibat cemberut karena tak diberi makan.
"Ini masih ada sesuap, lo mau nggak?" Niatnya hanya ingin memancing, apakah Aca adalah tipe gadis yang lama dalam merajuk. Atau akan luluh dalam sekali percobaan
Dan ternyata tebakan dipta kedua yang benar, tepat setelah Dipta menyelesaikan ucapannya, Aca sudah berbalik sembari membuka mulut untuk menyambut suapan Dipta.
KAMU SEDANG MEMBACA
If it is You
Romance"Jika kamu hancur sebesar diriku Akankah kamu tahu? Semua rasa sakit yang memenuhi diriku Ke titik di mana hatiku akan meledak, Betapa aku menginginkanmu?" ~if it'S You
