Damai ?

1.4K 266 88
                                        

Masih di malam yang sama, walaupun jam sudah menunjukan pukul dua belas lewat dua puluh menit, Dipta masih setia memandangi Aca yang sudah lebih dulu terlelap.

Di sofa yang biasanya dia tempati untuk tidur, malam ini pria itu nampaknya belum niat untuk bernostalgia kembali setelah lima hari tak tidur ditempat yang sama. Dipta lebih memilih menghabiskan waktunya memandangi gadis yang telah dia sakiti hatinya.

Penyesalannya cukup besar, tadinya Dipta fikir hanya salah paham yang membuat jarak antara dia dan Aca tercipta, hanya saja ternyata ada alasan lain yang faktanya lebih menyakiti bahkan menimbulkan ketakutan untuk istrinya itu.

Penjelasan Kai, wajah ketakutan Salsa, seolah mengingatkan Dipta bahwa bagaimanapun kuatnya Aca terlihat selama ini, dia tetaplah seorang wanita yang juga rentang akan kerapuhan.

Perlahan kaki Dipta membawanya menghampiri tempat tidur dimana Aca berbaring di atasnya, pria itu tak bisa menahan diri lagi, rasanya hanya dengan memeluk Aca perasaan gelisah dan cemasnya malam ini bisa sedikit teratasi.

Sebelum ikut berbaring, dengan hati-hati Dipta duduk di sebelah tubuh yang kini meringkuk seolah di dalam tidurnya dia masih merasa ketakutan, sangat berbeda dari posisi tidur gadis itu sebelumnya.

Dipta tersenyum miris, ingatan di malam pertama mereka seolah menjadi penyesalan yang nampaknya baru dia rasakan, saat dimana dia memaksa Aca untuk tidur dikamar lain, sekalipun Akhirnya Aca tak mengikuti maunya, Dipta yakin istrinya itu cukup merasa pilu atas tingkahnya malam itu.

Dipta akhirnya ikut berbaring dengan posisi menghadap pada Aca dan gadis itu pun sama, lalu tanpa mendapatka persetujuan dari sang pemilik tubuh, Dipta membawa Aca dalam pelukannya, tak peduli jika nantinya Aca akan bangun dan marah perihal aksi lancangnya.

Aca sempat terusik, namun setelah Dipta dengan lembut menepuk-nepuk pundaknya, gadis itu kembali terlelap.

Dipta memperhatikan wajah Aca dengan posisi yang lebih dekat, wajah tenang namun terbaca kesedihan oleh Dipta itu kini menjadi satu-satunya alasan Dipta berani menjalani hidup dari yang biasanya.

Aca telah berpengaruh besar dalam hidupnya, bahkan dendam yang dulunya mendarah daging kini di tepikan dan mempersilahkan nama Aca yang akan menemaninya seumur hidup.

Bukankah lebih baik sosok istri yang cantik dibanding dendam yang hidup bersama pria berusia dua puluh enam tahun ini.

"Aca, gue nggak tau kapan tepatnya lo bisa seberpengaruh ini dalam diri gue. Tapi yang harus lo tau, saat ini tujuan hidup gue hanya mau hidup bahagia sama loa" Ujar Dipta, tak peduli Aca yang tak mendengarkan ucapannya karena sedang tertidur.

"Lo mau kan, terima gue yang banyak kurangnya ini?" lanjutnya.

Sekalipun Dipta selalu yakin akan dirinya yang menjadi suami yang baik, ada sisi dalam dirinya yang tak percaya diri, latar belakang keluarganya dan sikap dia selama ini yang menyakiti Aca menjadi alasan Dipta merasa rendah diri sebagai suami gadis itu.

Jika saja malam itu tidak terjadi, Dipta yakin jangankan untuk menikah dengan Aca, dekat dengan gadis itu saja dia tak layak. Aca bisa mendapatkan pasangan yang setara dalam hal cinta juga keluarga, dan Dipta tak memenuhi syarat salah satunya.

"Aca kangen sama Dipta" ujar Aca, matanya masih terpejam namun tangannya semakin mengeratkan dekapan pada tubuh suaminya.

Namun seolah menepis segala keresahan Dipta, Aca yang Dipta yakini dalam keadan tidak sadar itu mengucapkan kalimat yang menggantikan keresahan Dipta menjadi kehangatan di hati pria itu.

Walaupun mengigau sebagai kebiasaan Aca, Dipta mengabaikan itu dan merasa bahwa rasa kehilangan dan kerinduan yang dia rasakan selama hampir seminggu ini, dirasakan juga oleh istrinya.
"Dipta juga kangen sama Aca, sangat!" Lirihnya membalas.

If it is YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang