Mobil yang dikendarai Dipta melaju dengan kecepatan sederhana, tak kencang juga tak lambat, membuat sang penumpang juga nyaman berada di mobil yang sama dengannya.
Aca sejak tadi hanya diam, setelah beberapa kali mendengar sang suami memberikan titah yang Aca sebenarnya keberatan akan hal itu.
"Pokoknya lo nggak boleh bocorin hubungan pernikahan kita ke orang lain, apalagi di teman sekantor lo"
Hal yang sejak tadi membuat mood Aca hancur berantakan di siang hari yang cukup terik ini, ini bukan peringatan pertama, melainkan sudah belasan kali Dipta mengucapkan hal yang sama.
"Iya, Aca udah paham, nggak perlu di ingetin terus"
Walaupun Aca belum menemukan jawaban atas alasan permintaan suaminya itu, tapi untuk kali ini Aca menurut dan tak memperpanjang saat Dipta mengatakan bahwa hal ini untuk menyelamatkan karirnya.
Entahlah, ada bagian dari hatinya yang cukup sakit mendapati statusnya disembunyikan seperti permintaan Dipta, namun di sisi lainnya mencoba mengerti bahwa pernikahannya tak seperti pernikahan orang lain pada umumnya.
Keheningan terjadi, Aca memilih diam, pun dengan Dipta, walaupun sejak tadi pria itu mencuri tatap pada sang gadis yang berada di sebelahnya.
Ada keanehan yang dirasakan Dipta, lebih tepatnya tak biasa untuk terus berada di mobil yang sama dengan seorang perempuan terlebih itu adalah Aca, perempuan yang dulunya tak ingin dia temui lagi.
Tapi secepat itu hidupnya di permainkan, kemarin bahkan dia di mobil yang sama dengan Aca tapi masih dengan status rekan kerja. Dan dua puluh empat jam berlalu, status mereka telah beralih menjadi sepasang suami istri.
"Dipta, bisa nggak kita kerumah Aca dulu, Aca mau ambil charger hp" Kali ini Aca yang meminta, gadis yang baru sehari menjadi seorang istri itu cukup paham bahwa sekarang semua izinnya kini harus dalam persetujuan Dipta.
Dipta melirik Handphone mewah yang sejak tadi Aca pegang, benda itu sudah sejak kemarin sore tak dihidupkan, bukan sengaja, melainkan Aca tak membawa charger handphonenya, dan sayangnya merk dan tipenya beda dengan milik Dipta.
"Handphone lo mewah banget padahal lo selama ini nggak kerja. Kalau belum bisa menghasilkan uang sendiri tuh nggak usah berlagak sok punya barang mewah"
Bukan jawaban atas permintaannya, Dipta malah sensi tentang barang dan merek handhpone yang Aca punya, hal yang cukup membuat Aca mengerutkan alisnya merasa heran dengan ucapan tiba-tiba pria itu.
"Yah makanya Aca kerja, supaya nggak minta uang lagi sama ayah, ibu. Tapi Dipta malah nikahin Aca, jadinya Aca nggak minta uang di ayah tapi minta uangnya di Dipta"
"Kata siapa gue mau kasi lo uang?"
"Emang Dipta nggak mau?
"Nggak"
"Ya udah, nanti Aca minta uang sama ayah, papau atau daddy aja, soalnya Dipta jadi suami yang dzolim"
Dipta membelalakkan matanya, setelah tadi pagi mendengar kata suami sholeh dari Aca, kenapa siang ini malah dituduh sebagai suami yang dzolim"
"Jangan coba-coba minta uang atau apapun itu sama keluarga lo. Ingat! Sekarang lo istri gue, lo harus nurut sama perintah gue"
"Nggak ah, ngapain Aca nurut kalau Dipta sendiri nggak ngelakuin kewajiban Dipta sama Aca"
Skak
Semua ucapan pembelaan dari Dipta bagaikan di hapus dengan satu kalimat dari Aca. Sebuah upaya pembalasan atas sikap Dipta, Aca melakukan hal yang sama, jika Dipta tak menafkahi istrinya, maka Aca juga tak akan menurutinya suaminya.
KAMU SEDANG MEMBACA
If it is You
Romantizm"Jika kamu hancur sebesar diriku Akankah kamu tahu? Semua rasa sakit yang memenuhi diriku Ke titik di mana hatiku akan meledak, Betapa aku menginginkanmu?" ~if it'S You
