Ada beberapa manusia yang merasa menyesal dengan tindakan ataupun uncapan yang terlanjur mereka katakan, dan Dipta menjadi salah satu orang yang merasakan itu.
Bagaimana tidak? Dia baru saja bertemu lagi dengan Aca dalam wujud gadis itu telah menjadi manusia, dan tanpa malu mengatakan bahwa Aca adalah calon pengantinnya.
Kembali Dipta merutuki dirinya sendiri, kenapa kalimat itu bisa keluar dari mulutnya begitu saja saat dia merasa gelisah kala Aca membahas Kala. Kenapa Dipta malah mengingat janji Aca yang dia sendiri yakin bahwa gadis itu sama sekali tak mengingatnya.
Malu? Tentu saja, dia sudah seperti pria aneh yang nampak sangat kecintaan pada seorang gadis yang baru saja dia temui. Dia sangat menyesal meloloskan kata itu keluar dari mulutnya, kata yang membuatnya tak ada muka lagi untuk bertemu dengan Aca
Bagaimana pandangan Aca tentang Dipta sekarang? Apakah gadis itu menilainya sebagai pria gila?
Katakan, bagaimana Dipta bisa menghilang untuk beberapa hari kedepan. Setidaknya sampai Aca tak lagi tinggal disebelah rumahnya.
"Bodoh, bodoh. Kenapa gue bilang gitu sama Aca" Dipta memasuki kamarnya dengan segera, seolah sedang dikejar dengan rasa malu dan hendak bersembunyi, Dipta segera naik di ranjangnya dan menutup wajah dengan bantal yang biasanya dia gunakan untuk tidur.
"Gimana kalau dia nuduh gue cowok mesum atau cowok gila" sambungnya, rasa malunya sudah sampai ketulang-tulang.
Pria yang tengah malu itu kini membalikkan badan menjadi tengkurap, lalu menarik selimut dan menutupi seluruh badanya, seolah Aca ada disana dan hendak mengulitinya.
Tidak, Dipta tidak bisa seperti ini terus. Dia sudah memutuskan untuk tak lagi bertemu dengan Aca, bahkan di kesempatan manapun. Aca bukan lagi gadis tak kasat mata yang selalu mengikutinya, malainkan manusia polos yang tak lagi mengenalnya.
***
Malamnya, dirumah Ayah Abi kini tegah berkumpul anak, menantu dan cucunya membuat rumah yang biasanya hanya dihuni mereka berdua, kini menjadi ramai perbincangan hangat dan sesekali gelak tawa.
"Cucuk kakek yang ganteng ini, nanti SMA nya mau dimana?" Tanya Ayah Abi, mengelus puncak kepala Kai yang kini tengah berbring di atas paha ibu Nita.
"Mau masuk pesantren dia yah" bukan Kai yang jawab, melainkan Romy yang sedang menikmati bolu kukus buatan istrinya.
Mendengar itu mata Kai langsung terbelalak, selalu saja Ayahnya seperti itu, mengatakan jika dia akan dimasukkan pesantren walaupun Kai sudah ribuan kali menolak
"Kai nggak mau kek, ayah suka maksa" Keluhnya dan mengadu pada Ayah Abi, kali ini dia punya tempat berlindung.
Salsa tersenyum hangat melihat itu, percayalah saat Romy dan Kai sudah kembali ke mode tidak akur, berarti itu tandanya Keluarganya sudah kembali harmonis.
Aneh memang, tapi dengan hal itu mereka menunjukan kasih sayang, kasih sayang antara ayah dan dan anak laki-lakinya.
"Tapi Kakek setuju Kai, Pesantren bagus untuk kamu lebih memperdalam ilmu agama" bukannya mendapat pembelaan, malah Kai semakin di pojokkan.
"Aku nggak mau kek, aku nggak mau jauh dari ayah sama ibu juga kak Aca"
"Nggak mau jauh, atau kamu takut nggak bakalan bisa tebar pesona lagi sama cewek-cewek mu itu" Kali ini Salsa ikut menimpali, ibu dari dua anak itupun tau bagaimana peringai putranya itu di sekolah.
Salsa tau, putranya yang sangat mirip dengan suaminya itu tidak mewarisi sikap dingin Romy semasa sekolah dulu, malah Kai akan selalu hangat menyapa gadis-gadis remaja yang mengeluh-eluhkan namanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
If it is You
Romance"Jika kamu hancur sebesar diriku Akankah kamu tahu? Semua rasa sakit yang memenuhi diriku Ke titik di mana hatiku akan meledak, Betapa aku menginginkanmu?" ~if it'S You
