Suasana suka cita pertemuan dua sahabat lama tiba-tiba tergantikan dengan suasana tegang ketika dengan lancang Dipta menarik tangan Aca untuk mengikutinya.
"Diptaaa" nenek Mina bahkan berteriak saat melihat sikap kurang ajar cucunya yang tiba-tiba menarik anak gadis orang.
Sementara Ayah Abi dan Ibu Nita secara bersamaan menahan tangan Dipta yang saat ini tengah memegang tangan Aca. Sedangkan Aca, gadis itu seolah menjadi patung untuk tindakan lancang Dipta yang menariknya, menatap aneh juga sedikit ketakutan pada pria yang sedang berdiri di depannya.
Dipta nampaknya baru menyadari situasi sekitarnya, saat melihat Aca tadi membuatnya seolah hanya ada Aca disana dan mengabaikan orang-orang yang ada. Ah, ini pasti respon heran orang-orang yang melihatnya nampak berbicara seorang diri seperti yang lalu-lalu, itu fikiran Dipta
Hanya saja, dia merasa aneh melihat tatapan pria paruhbayah yang Dipta taksir seumuran dengan neneknya tengah menatapnya tajam
"Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba nak Dipta narik-narik cucu saya" bentak ayah Abi, harusnya Dipta bersyukur di situasi saat ini hanya ada ayah Abi yang melihat tingkahnya, jika itu Romy, paul atau paling parah adalah Refal, sudah dipastikan tangan Dipta tak lagi berfungsi sebagai mestinya.
Nenek Mina dengan cepat menarik Dipta untuk agak menjauh dari Aca, wanita itu merasa bersalah pada keluarga ibu Nita akibat tingkah sang cucu "Ta, kenapa kamu kurang ajar tarik-tarik nak Aca? Nenek nggak pernah ngajarin kamu kaya gitu nak"
"Cucu?" Dipta melirik Ayah Abi, lalu beralih menatap Aca yang juga menatapnya keheranan.
Heran? Tentu saja dipta keheranan mendapati bagaimana tatapan layang orang-orang yang berada disana, tidak terkecuali Aca yang biasanya menatapnya dengan mata berbinar kini menatapnya dengan sebuah tatapan mematikan.
Hey, kemana Aca yang selalu memaksa untuk ikut dengannya? Kemana Aca yang selalu merengek minta diberikan jajanan? Apakah dia semarah itu hingga tak lagi ingin menggubris jika Dipta memintanya kembali.
Tapi tunggu! Bukankah pria parubayah disamping Aca tadi menegurnya dengan mengatakan cucu? Siapa yang dimaksud? Apakah Aca?
Jika iya? Apakah itu tandanya mereka bisa melihat....
"Dipta, ayo minta maaf sama Aca, ibu Nita dan Pak Abi" dan ucapan perintah dari nenek Mina menyadarkan Dipta, menyadarkan dari lamunannya juga dari pengumpulan praduganya.
"Nenek, nenek bisa lihat Aca?" Tanyanya, dia benar-benar tak bisa menebak lagi apa yang terjadi.
Plak
Dan yang dia dapatkan adalah pukulan dilengan dari neneknya "Apa maksud kamu ta, kamu jangan semakin kurang aja sama keluarga pak Abi"
Bukan, bukan jawaban itu yang Dipta butuhkan, jawaban yang masih buatnya tak mendapatkan jawaban pasti, sebab Nenek Mina sama sekali tak menjawab pertanyaannya.
Walaupun sebenarnya bisa terbaca dengan jawaban itu, hanya saja Dipta membutuhkan jawaban untuk teka teki ini.
"Kakek dia orang aneh, Aca takut" ujar Aca membuka suara, sejak tadi memperhatikan tingkah Dipta yang aneh membuatnya menduga bahwa mungkin saja, Dipta.....
Mata Dipta terbelalak mendengar itu. bagaimana bisa, Aca yang seminggu bergantung padanya dengan tega menuduhnya aneh, dan apa tadi? Takut? Aca takut padanya padahal dia yang dulu selalu memaksa untuk ikut dengannya.
Gila, tak masuk logika seperti kata Ari lesmana
"Nak Dipta, nak Dipta kenal sama Aca? Cucu nenek?" dibanding yang lain yang merasa Dipta cukup lancang karena tiba-tiba menarik tangan Aca, Ibu Nita malah penasaran apa pria muda dihadapannya itu mengenal sang cucu.
KAMU SEDANG MEMBACA
If it is You
Storie d'amore"Jika kamu hancur sebesar diriku Akankah kamu tahu? Semua rasa sakit yang memenuhi diriku Ke titik di mana hatiku akan meledak, Betapa aku menginginkanmu?" ~if it'S You
