Penyerangan

1.1K 161 71
                                        

Kian hari, kian membuat Dipta semakin frustasi menghadapi sikap Aca yang semakin dingin dan terbaca membangun jarak dengannya, sosok manja yang akan selalu menceritakan apa yang dilaluinya setiap hari, kini menjadi wanita dingin tak tersentuh.

Dipta seolah berada di labirin tak berujung, masalah akibat kesalahpahaman rumah tangganya seolah tak memiliki titik solusi walau sekeras apapun Dipta bersusaha, terlebih saat ini, istrinya itu terlihat sudah tak membutuhkan penjelasan atas apa yang terjadi.

Malam hari yang biasanya Dipta lalui dengan obrolan hangat dan sentuhan mesra bersama istrinya itu, kini hanya menyisakkan kebekuan antara dinding-diding bisu yang juga seolah kehilangan canda tawa dari sang pemiliknya.

Dipta menatap punggung sang istri yang kini membelakanginya, Aca tak menyuruhnya tidur dikamar yang berbeda, pun tak memintanya tidur di sofa atau tempat lain yang berbeda dengannya, Dipta tetap tidur di ranjang yang sama dengan wanitanya itu, hanya saja, tak ada pelukan, tak ada tatapan hangat, tak ada sentuhan mesra, yang ada hanya jarak yang kian melebar.

"Ca" Dipta memegang bahu Aca, dalam keadaan yang sama-sama berbaring di ranjang yang sama, Dipta kembali berusaha membuka obrolan dan akan pelan-pelan menjelaskan.

Tak ada jawaban dari Aca, namun Dipta yakin bahwa wanita itu belum tidur, hanya sedang berpura-pura untuk bisa menghindari obrolan mereka kembali.

"Ca, izinin aku jelasin sama kamu, jangan kaya gini terus" lanjut Dipta, pria itu mengikis jarak pada sang istri, tak peduli akan ditolak atau mendapat pukulan.

Tangan Dipta dengan berani melingkar di pingging hingga perut sang istri, dengan harapan Aca tak menolak hingga Dipta bisa dengan pelan-pelan mencoba menjelaskan.

Dipta bisa merasakan bahwa tubuh istrinya itu hangat, sejak kemarin Aca memang terlihat pucat dan lemas, saat Dipta mengajaknya kerumah sakit, Aca selalu saja menolak.

Seolah Aca juga membuka kesempatan membicarakan kesalahpahaman mereka, wanita itu tak menolak bahkan hanya diam kala pelukan Dipta semakin erat sebab ada rindu dan juga kasih sayang yang menyertai pelukannya.

"Sayang, sebenarnya aku nggak tau bagaimana jelasin ini ke kamu, Ta-

"Ya udah, nggak usah dijelasin" Aca memutus ucapan Dipta, ucapannya terdengar ketus, tak ramah sama sekali, sangat berbeda dari Aca biasanya.

"Tapi kamu akan selalu diamin aku kalau aku nggak jelasin" Banyak hal yang ingin Dipta jelaskan, termasuk tentang Vidio yang Aca dapatkan dari nomor tak dikenal, namun kondisi Romy yang berada diluar kota beberapa hari ini membuat Dipta sulit menjelaskan, terlebih Romy sudah berpesan bahwa dia yang akan menjelaskan sendiri pada Aca.

Bukan hanya Dipta yang mendapati sikap Aca seperti ini sebab Romy pun demikian, sejak Aca mengetahui bahwa Dipta bukan pelaku sebenarnya, wanita itu tak pernah sekalipun mengangkat telfon atau membalas chat dari sang ayah.

"Kalau kamu jelasin tapi cuman nyiptain kebohongan baru, mending nggak usah ta, Aku capek" ucap Aca kembali.

Dipta menutup matanya, menahan perasaan yang kini menyiksa, Acanya terlihat jauh berbeda dari sebelumnya, ucapan yang selalu menggemaskan ditelinga Dipta, kini berubah menjadi ucapan ketus tak berperasaan.

"Aku nggak bohong Ca, aku udah jujur sama kamu kalau sosok yang aku maksud di konfernsi pers itu adalah kamu"

"Berhenti ngomong omong kosong ta"

Ini yang Dipta takuti, bagaimanapun dia menjelaskan bagaimana pertemuan dengan Aca pertama kali, Aca tak akan percaya dengan itu.

"Aku beneran ca, kamu mungkin nggak ingat semuanya, tapi aku? Aku ingat semuanya, setiap detail yang kita lalui bersama saat itu, masih tersimpan rapi di ingatanku"

If it is YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang