Bumi yang baru saja diguyur hujan itu masih menyisakkan hawa dingin, apalagi jam yang masih menunjukan pukul setengah empat dini hari. Terlalu larut untuk dikatakan malam, dan terlalu dini untuk dikatakan pagi.
Seorang pria baru saja keluar dari tokoh serba ada yang buka hingga 24 jam, menenteng kresek yang berisi barang yang tak pernah dia beli sebelumnya, walaupun sedari tadi muulutnya mengomel melayangkan protes untuk seseorang yang tak berada di dekatnya, Dipta tetap melakukan apa yang disuruh.
Dengan mengendarai motor, Dipta kembali di buat bingung tentang kelakuannya saat ini, bukankah dia terlalu berbelas kasih menerima perintah dari Aca hingga di hari yang masih gelap seperti ini.
Kembali dia merutuki dirinya sendiri, kenapa tadi dia tidak mengelak ataupun menolak? Kenapa dia bagaikan suami yang takut pada istrinya dan berakhir akan melakukan apapun yang di perintahkan.
Berkendara beberapa menit akhirnya Dipta sampai dirumah miliknya yang mulai hari ini akan berbeda seperti sebelumnya. Ada seorang gadis di dalam rumah yang biasanya sepi itu, entah sudah terlelap atau masih menunggu Dipta kembali.
Dipta membuka kamar dengan hati-hati, sekali lagi dia bertingkah menjadi pria baik yang tak ingin mengganggu seorang gadis didalam kamarnya sendiri.
"Dipta, ko lama? Aca takut sendiri dirumah? Tadi ada suara garuk-garuk di atas genteng" itu suara sambutan dari Aca, gadis itu segera mendekat pada Dipta dengan alasan ketakutan.
"Diatas memang ada penunggunya, dia suka sama cewek cerewet kaya lo"
Aca dibuat makin merinding mendengarnya, gadis itu segera mendekat pada Dipta dan mengalungkan tangannya pada lengan Dipta.
"Serem banget rumahnya, Dipta jarang shalat sama mengaji yah?"
Tangan Aca segera dihempaksan paksa oleh Dipta, pria itu enggan di pegang oleh siapapun apalagi oleh Aca, walaupun sekarang status mereka sebagai suami istri.
"Jauh-jauh lo dari gue, ini barang yang lo mau, dan ini kali terakhir lo suruh-suruh gue kaya tadi"
"Terima kasih Dipta, tapi ternyata ibu sudah beliin dan selipin di paperbag tadi, maaf yah"
"Apa?" Dipta tampak kesal, segampang itu ucapan maaf dari Aca setelah dirinya menerjang hawa dingin hanya untuk membeli kebutuhannya yang ternyata sudah ada.
Kekesalan Dipta semakin menjadi saat dimana Aca dengan santainya jalan dan naik keatas ranjang yang selama ini dia tempai, tempat dimana Dipta tidur dan beristirahat selama ini.
"Ngapain lo naik ketempat tidur gue? Nggak!, kalau lo mau tidur di kamar ini, lo harus tidur di sofa"
"Nggak mau, Aca nggak bisa tidur disofa, lagian tempat tidurnya muat ko untuk dua orang, Dipta jangan pelit"
Aca sudah membaringkan dirinya diatas tempat tidur yang luas dan sangat nyaman.
"Ya makanya, lo tidur dikamar lain, tempat tidurnya luas dan lo bisa tidur sepuasnya disana"
Yang tadinya baru saja merebahkan diri, Aca kembali bangun dan dalam posisi duduk membalas omongan Dipta "Kenapa sih Dipta selalu mau pisah kamar? Kalau masih mau tidur sendiri, ngapain Dipta nikahin Aca?
"Lagian Aca juga takut tidur sendiri, rumah Dipta banyak hantunya" lanjutnya, kini suaranya lebih rendah dari sebelumnya
Aca terus saja menngoceh mengeluarkan protes yang tidak bisa ditanggapi oleh Dipta. Bukan, bukan karena Dipta kalah ataupun tak mempunyai pembelaan atas keinginannya, hanya saja ucapan pria itu selalu di hentikan paksa setiap kali Aca berbicara mendahuluinya.
"Dipta harus tidur disini sama Aca, karena A-----
...."Lo bisa diam nggak sih"
"Nggak bisa" Aca menjawab dengan lantang dan yakin, bahkan tak berjarak sedetik pun dari Dipta menyelesaikan ucapannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
If it is You
Romantizm"Jika kamu hancur sebesar diriku Akankah kamu tahu? Semua rasa sakit yang memenuhi diriku Ke titik di mana hatiku akan meledak, Betapa aku menginginkanmu?" ~if it'S You
