Warning!! gaes ada adegan kekerasan, mohon bijak dalam membaca...
Tetesan air hujan membangunkan tidur Dipta yang sedang terlelap di kursi taman rumah sakit, pria itu mengerjapkan matanya, mengumpulkan kesadaran lalu mencari seseorang yang tadi dia temui.
Hanya saja, bagaimanapun dia mencari seseorang yang dia maksud, tetap saja Dipta tak menemukannya.
Kemana dia?
Detik berikutnya, Dipta disadarkan bahwa apa yang terjadi tadi hanyalah bunga tidurnya saja, terbukti dari tak adanya seorangpun yang berada ditaman rumah sakit bersamanya, terlebih Aca yang masih harus melakukan pemuliha, sangat tidak mungkinkan?
Namun wajah Aca, omelan Aca bahkan dorongan istrinya itu masih Dipta ingat jelas dan rasakan, lalu benarkan itu semua tidak terjadi secara nyata?
Padahal Dipta masih ingin menatap wajah cantik istrinya, masih ingin mendekap tubuh rengkuh wanitanya, jikapun hanya mimpi kenapa secepat itu dia dibangunkan dan kembali pada kenyataan bahwa Aca sedang terluka saat ini.
"Ta, ternyata kamu disini nak. Ayah dari tadi nyariin kamu" Lamunan Dipta terhenti saat mendapati Romy menepuk pelan pundaknya
"Maaf yah, aku ketiduran " Jawab Dipta.
Romy mengangguk, pria itu masih setia berdiri dan enggan duduk, bukan tak ingin tapi situasi sedang memaksanya untuk terburu-buru.
"Aca sudah sadar ta, Oma sedang pulang sekarang, kamu bisa menemuinya" ujar Romy
Dipta sontak berdiri, mensejajarkan diri dengan sang ayah mertua, kabar baik datang diwaktu bersamaan, Aca sadar dan Oma pulang "Alhamdulillah, Beneran yah? Aca udah sadar?"
Kali ini Romy hanya mengangguk, dia dapat merasakan perasaan Dipta yang nampak lega walaupun belum sepenuhnya, kendati Romy belum menyelesaikan ucapannya
"Ayo yah, kita keruang rawat Aca"
Baru saja Dipta hendak melangkah, tangan Romy menahannya " Ta, Aca sejak bangun hanya diam saja membuat ibu semakin takut memberi tahu Aca bahwa dia baru saja keguguran"
Semangatnya yang tadi tak sabar menemui sang istri, kini perlahan padam saat mendengar ucapan Romy. Acanya, harus bagaimana Dipta mengatakan itu pada istrinya, Dipta yakin sebanyak sakit yang dia rasa akibat perginya sang buah hati, Aca akan lebih sakit dibanding dia.
"Ibu mau kamu yang ngomong langsung sama dia, tolong berikan ketenangan untuk Aca nak, ayah yakin ini nggak akan mudah buat dia terima" lanjut Romy.
Dipta mengangguk menyanggupi walaupun di dalam hatinya ada keresahan dan ketakutan yang luar biasa, tentang bagaimana kondisi istrinya dan juga bagaimana jika istrinya tau bahwa dia hampir saja menjadi seorang ibu.
Kedua pria berbeda generasi itu berjalan menuju ruang rawat Aca, Oma Rosa yang baru saja pulang membuat Dipta bisa masuk keruangan sang istri
Tepat di depan pintu ruang rawat Aca, Dipta menghela nafas panjang sebelum akhirnya membuka pintu secara perlahan.
Dipta disambut dengan tatapan kosong Aca padanya, juga Salsa yang masih setia duduk disamping sang putri yang sejak tadi hanya diam, sedangkan Kai sudah terlelap di sofa yang berada diruangan itu.
"Sayang" dari banyaknya kata yang ingin Dipta ucapkan namun hanya kata itu yang bisa dia keluarkan, wajah sendu Aca, tatapan kosongnya juga luka yang berada diwajahnya membuat Dipta kehilangan kata.
Benar, kondisi Aca jauh dari kata baik, wajahnya masih terlihat lebam bekas tamparan, bibir pucatnya yang sejak tadi hanya diam saja, serta yang paling memilukan adalah luka kecil di bagian pipi mulus istri Dipta itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
If it is You
Romance"Jika kamu hancur sebesar diriku Akankah kamu tahu? Semua rasa sakit yang memenuhi diriku Ke titik di mana hatiku akan meledak, Betapa aku menginginkanmu?" ~if it'S You
