Setelah bersusah payah mengendarai mobil dalam keadaan panik, akhirnya Kai sampai disalah satu rumah sakit terdekat, pria itu khawatir cemas pun takut melihat keadaan sang kakak yang memprihatinkan saat ini.
Kai berlari dengan membawa Aca digendongannya, tak peduli pakaiannya yang juga terkena noda darah, ataupun mobilnya yang terparki asal diluar sana, baginya saat ini kondisi Aca lebih penting dari apapun.
"Dokter tolong, tolong kakak saya" ujar Kai, suaranya menggema di ruang unit gawat darurat rumah sakit tersebut.
Seorang perawat akhirnya membantu Kai, menuntun pria itu untuk meletakkan Aca di salah satu brankar yang berada disana.
"Mohon tunggu diluar mas, kami akan periksa pasien" Pinta salah satu perawat.
Kai pasrah dan tak bisa berbuat banyak, pria itu keluar dari ruangan dan terduduk lemas di depan pintu yang di dalamnya ada Aca sedang di periksa. Hari ini tak akan bisa Kai lupakan, tentang kakak perempuannya yang terluka, juga tentang dirinya yang terlambat tiba hingga tak bisa melindungi Aca dari siapapun orang yang telah tega melakukan itu.
"Kak Aca tolong bertahan, aku mohon" lirihnya, kondisi Kai saat ini mendapat perhatian dari beberapa keluarga pasien lain, sangat terlihat bagaimana pria itu berantakan dan kesedihannya sangat terlihat membuat orang-orang iba melihatnya.
"Kai"
Kai menolah ke sumber suara, lalu didaptinya sang ibu yang sedang berjalan terburu-buru kearahnya.
"Bu, Kak Aca bu. Kak Aca berdarah" Kai memeluk Salsa yang baru saja tiba, sama sepertinya, Salsa juga dalam keadaan berantakan, wanita itu bahkan datang hanya menggunakan mukenah, dengan wajah sembab dan tangan gemetar ketakutan.
"Apa yang terjadi nak? Kenapa kakakmu bisa begini?" Tanya Salsa, dia mengelus lembut punggung kokoh anaknya, sebagai ibu dia juga terluka mendengar putrinya disakiti, namun dia juga harus menenangkan sang putra yang sedang terisak di pelukannya.
Salsa sangat membutuhkan Romy, bahkan wanita itu lupa mengabari sang suami saking paniknya mendapat kabar dari Kai tadi.
"Aku salah bu, Aku yang salah telat datang sampai kakak dilukai kaya gini"
Salsa memilih diam untuk sementara, memberikan Kai waktu untuk menangis dipelukannya. Salsa tak pernah menyangka bahwa anaknya, putrinya, Acanya itu akan kembali masuk dalam rumah sakit setelah empat tahun berlalu.
Keduanya sama-sama saling berpelukan, mendekap tubuh satu sama lain guna menguatkan sebab saat ini mereka hanya berdua. Tak ada romy selaku ayah dari Aca, ataupun Dipta selaku suaminya.
Dibenak Salsa dan juga Kai, sangat banyak pertanyaan yang belum menemukan jawaban dan yang paling menimbulkan tanda tanya besar adalah, kenapa Dipta tak ada dirumah? Kemana pria itu? mengapa tega meninggalkan istrinya di jam larut seperti ini.
Detik berlalu terasa lama bagi Salsa dan juga Kai yang menunggu kabar bagaimana keadaan Aca di dalam sana, ada harapan dan juga doa yang dilangitkan agar kiranya Tuhan berbelas kasih kembali memberikan kekuatan untuk Aca menghadapi kesakitannya.
"Ibu.. Kai.."
Salsa dan juga Kai serempat mendongak, menatap sang pemilik suara dengan wajah yang tenang seolah tak merasakan firasat ataupun kekhawatiran dengan kondisi istrinya di dalam sana.
Dia adalah Dipta, baru saja hendak pulang setelah memastikan kondisi om Arya perlahan membaik, pria itu dikejutkan setelah melihat ibu mertua dan adik iparnya terduduk dilantai dalam kondisi saling mendekap satu sama lain.
Ada apa sebenarnya? Dipta menghampiri dengan segala pertanyaan yang mungkin saja jawaban dari hadirnya keluarga istrinya dirumah sakit ini.
Hanya saja, saat menyapa keduanya, Dipta tak mendapat sambutan baik, sebaliknya pria itu hanya mendapat tatapan tajam dari Kai, dan juga tatapan kecewa dari sang ibu mertua.
KAMU SEDANG MEMBACA
If it is You
Romance"Jika kamu hancur sebesar diriku Akankah kamu tahu? Semua rasa sakit yang memenuhi diriku Ke titik di mana hatiku akan meledak, Betapa aku menginginkanmu?" ~if it'S You
