Hujan turun cukup deras sejak semalam, Dipta yang masih tidur dikamar tamu seorang diri sejak tadi tak bisa memejamkan matanya, tepatnya dia memaksakan diri untuk tidak terlelap, ada sesuatu yang dia tunggu dan tak ingin dia lewatkan.
Sejak kejadian kemarin siang, Aca tak pernah mengucapkan sepatah katapun pada Dipta, mulai dari gadis itu memunguti serpihan kaca, berangkat kerja tanpa pamit pada Dipta, juga tak ada makan malam yang dia suguhkan untuk suaminya.
Begitupun dengan Dipta, mendapati diamnya sang istri, dia juga melanjutkan aksi diamnya yang sudah berlangsung empat hari. Dia sadar bahwa sikapnya dengan membentak Aca adalah kesalahan, air mata gadis itu kembali jatuh karena ulahnya, namun alih-alih meminta maaf dan mengucapkan penyesalan, Dipta masih memilih diam.
Hanya saja, situasi yang seperti ini perlahan mengganggunya, Diamnya Aca menjadikan Dipta merasa kehilangan, rumah yang dulunya sepi lalu berwarna akibat kedatangan gadis itu, kini kembali sunyi lagi.
Dipta terdiam, di balik selimut tebal yang membungkus tubuhnya, fikirannya berkelana ke kamar sebelah tempat Aca berada. Apa sang istri sudah tidur disana? Apa Aca masih sering mengigau dalam tidurnya, juga apakah Aca tak merindukan dekapannya seperti malam itu?.
Jujur saja, Dipta rindu dengan gadis yang telah sah menjadi istrinya itu, beberapa hari ini dia mendiami dan faktanya dia pula yang tersiksa. Dilema yang tak menemukan pilihan merupakan alasan Dipta bersikap demikian. Dia, Dipta kadang merasa dia terlalu baik pada Aca dan berkahir nyaman pada gadis itu, tentu saja itu bertolak belakang dari rencananya yang hanya menganggap pernikahannya dengan Aca sebagai umpan dari pembalasan rasa sakitnya.
Bahkan, dulu dia pernah berniat menyakitii Aca dengan sikapnya, sebab hal itu akan membuat Romy tersiksa.
Namun, nyatanya semuanya tak semudah yang Dipta fikirkan, bukan karena ada seseorang yang menghalangi rencananya, melainkan dirinya sendiri yang tak pernah tega menyakiti Aca, istrinya.
Dipta fikir, dengan mendiami Aca beberapa hari ini makan dia akan terbiasa tanpa campur tangan Aca dihidupnya, Dipta fikir tak akan sulit kembali ke perasaannya semula tanpa kata nyaman untuk Aca.
Harusnya jika semua itu berhasil, maka Dipta hanya perlu kembali pada rencana awal dan berusaha tega untuk tak menganggap Aca sebagai istri.
Sampai dimana saat dia membentak Aca tadi, Dipta seolah dibukakan mata bahwa jika berkaitan dengan Aca, maka dia akan tetap selalu kalah.
Lamunannya tentang Aca membawa Dipta tak merasa bahwa jam sudah menunjukan pukul lima subuh, ini alasan Dipta sejak tadi menahan kantuknya sebab menunggu waktu dimana Aca akan mengetuk pintu kamarnya dan membangunkannya untuk shalat subuh, sama seperti hari sebelumnya.
Namun nyatanya, menunggunya Dipta tak mendapatkan apa yang dia inginkan, sebab lewat dari jam yang biasanya Aca akan membangunkan, istrinya itu tetap tidak ada.
Tak ada ketukan, tak ada teriakan, hanya kesunyian yang dihiasi rintik hujan subuh itu. dan untuk pertama kalinya sejak Dipta menikah, pria itu melaksanakan shalat subuh tanpa Aca yang membangunkan, tanpa Aca yang mengingatkan.
***
Pukul delapan pagi, Dipta keluar dari kamar yang dia tempati selama empat hari ini, Suhu tubuhnya belum kembali ke angka normal, sakit dikepalanya juga masih sangat dia rasakan, pria itu merutuki dirinya sebab terlalu lemah jika menghadapi fikirannya yang cukup kelut, dia akan jatuh sakit.
Dipta terpaku melihat Aca yang baru saja menyelesaikan makanannya, ada kegugupan yang pria itu rasakan saat dimana langkahnya mendekat pada Aca.
Tepat saat Dipta berdiri di belakang istrinya itu, tanpa diduga Aca berbalik badan membuat mereka berhadapan dengan jarak yang cukup dekat.
KAMU SEDANG MEMBACA
If it is You
Romansa"Jika kamu hancur sebesar diriku Akankah kamu tahu? Semua rasa sakit yang memenuhi diriku Ke titik di mana hatiku akan meledak, Betapa aku menginginkanmu?" ~if it'S You
