Dipta duduk seorang diri dengan jarak yang agak jauh dari keluarga Aca, pria itu memeluk tubuhnya sendiri saat yang lainnya saling menguatkan dan menenangkan.
Ucapan oma Rosa rasanya terus terdengar ditelinga Dipta dengan lantang, semakin membuat Dipta sadar diri tentang posisinya. Benar yang dikatakan oma Rosa tadi, dia hanya pria sebatang kara yang beruntung menikahi Aca yang punya banyak keluarga.
Dipta mengakui itu, dia sudah dengan lancang mencintai anak gadis orang lain hanya dengan bermodalkan cinta tanpa pengalaman atau diajarkan dalam hal berumah tangga dari kedua orang tuanya.
Tak masalah jika oma Rosa menghardiknya dengan kata apapun itu, tak masalah jika wanita paruh baya itu kembali menamparnya lagi, yang penting Dipta diperbolehkan masuk untuk melihat kondisi istrinya?
Namun semuanya sangat rumit, sangat melelahkan untuk hidupnya agar lebih bahagia? Apakah sebenarnya diciptakannya di dunia bersamaan dengan segala kesakitan yang akan menemaninya hingga menutup usia?
Dulu, Dipta pernah berfikir untuk tak menikah dengan siapapun itu, pernikahan kedua orang tuanya yang hancur di depan matanya seolah menjadi alarm menakutkan baginya jika membahas pernikahan. Bagi pria berusia 27 tahun itu, tak menikah tak masalah bukan?
Hanya saja, setelah bertemu Aca, semua keyakinan dan ketakutannya berubah, Aca berhasil membuat dirinya menggantikan ketakutan dengan sebuah kebahagian yang ditawarkan istrinya itu.
Kali ini giliran Kai yang masuk dalam ruang rawat Aca, oma Rosa yang baru saja keluar dari sana melemparkan tatapan tajam pada Dipta yang masih duduk ditempatnya sekalipun tak ada yang mengajaknya berbicara, kecuali Romy tadi.
Ingin sekali Dipta melawan, melanggar aturan tak tertulis Oma Rosa yang melarangnya masuk melihat istrinya sendiri, hanya saja Romy berpesan padanya untuk Dipta sabar dulu hingga Refal bisa mencari siapa pelaku sebenarnya, terlebih akan ada keributan jika Dipta beradu debat dengan mama Rosa.
Hingga akhirnya Dipta menurut, dia hanya bisa duduk di depan ruang dimana istrinya berada didalam sana, Tak ada yang bisa Dipta lakukan untuk meredakan sakit wanitanya itu, pun tak ada yang bisa dia lakukan saat Aca meminta pertolongan tadi. Dipta hanya bisa diam menjadi suami paling bodoh.
Dipta membayangkan bagaimana Aca sangat ketakutan saat dirinya disakiti, istrinya itu pasti menangis meminta tolong dan mungkin menyebut nama Dipta agar pria itu segera pulang dan menyelamatkannya, namun yang Aca dapati hanya kesakitan hingga Kai datang.
Wajar jika nantinya Aca akan marah padanya, namun lebih dari itu Dipta akan menerima, yang terpenting adalah Aca kembali pulih seperti sebelumnya dan tak meninggalkannya.
Tuhan, dari banyaknya kehilangan, tolong kali ini jangan lagi.
Menjadi manusia yang kerap kali merasakan kehilangan juga ditinggalkan, Dipta tak pernah merasa baik-baik saja menghadapinya, awalnya menangis lalu kemudian pasrah dan meyakinkan diri bahwa apapun yang terjadi adalah jalan takdir tuhan.
Tapi kali ini, Dipta benar-benar memohon, Aca adalah alasan terakhirnya untuk bisa bertahan di dunia yang sejak kecil menyakitinya. Untuk kali ini, Dipta berharap tak ada lagi kehilangan, jikapun ada biarkan dia saja, tukar saja semua yang ada pada dirinya ke tubuh istrinya agar wanita itu bisa pulih dan tak merasa sakit agi.
Romy keluar dari ruang perawatan Aca, lalu mendapati Dipta yang masih setia di posisi sebelumnya.
"Dipta"
Dari banyaknya orang yang mengabaikannya, Romy satu-satunya yang setidaknya masih mengajaknya bicara, padahal yang awalnya Dipta yakini akan marah adalah ayah mertuanya itu, namun jauh dari dugaan, Romy datang sebagai pihak yang berdiri membelanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
If it is You
Romance"Jika kamu hancur sebesar diriku Akankah kamu tahu? Semua rasa sakit yang memenuhi diriku Ke titik di mana hatiku akan meledak, Betapa aku menginginkanmu?" ~if it'S You
